Timnas Irak Tertahan di Tengah Konflik, Pelatih Minta FIFA Jadwalkan Ulang Playoff Piala Dunia 2026

INBERITA.COM, Pelatih Tim Nasional (Timnas) Irak, Graham Arnold, mengajukan permohonan resmi kepada FIFA agar laga playoff antarkonfederasi Piala Dunia 2026 yang melibatkan Irak ditunda.

Permintaan ini muncul setelah situasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memengaruhi persiapan tim Irak yang dijuluki Lions of Mesopotamia.

Pertandingan yang dijadwalkan pada 31 Maret 2026 itu kini terancam batal, mengingat wilayah udara Irak ditutup dan baru akan dibuka kembali pada 1 April, sehari setelah pertandingan berlangsung.

Pertandingan playoff tersebut akan mempertemukan Irak dengan pemenang antara Suriname dan Bolivia di Monterrey, Meksiko.

Namun, penutupan wilayah udara Irak membuat persiapan timnas terganggu. Mayoritas pemain inti timnas Irak masih tertahan di dalam negeri, dan hal ini membuat Graham Arnold kesulitan untuk membawa para pemain keluar, termasuk staf kepelatihan.

“Memang saat ini kami mengalami masalah besar. Sekitar 60 persen pemain utama kami masih terjebak di dalam negeri. Bahkan, staf pelatih kami, seperti Ali Abbas (mantan pemain Sydney FC), juga belum bisa berangkat,” ungkap Arnold dalam wawancara dengan AAP, yang dikutip oleh ESPN, Senin (9/3/2026).

Arnold juga menambahkan bahwa pemusatan latihan yang seharusnya digelar di Houston terpaksa ditunda karena masalah visa dan akses perjalanan yang belum terselesaikan.

Arnold mengusulkan agar pertandingan tersebut digeser ke waktu yang lebih memungkinkan, yakni seminggu sebelum Piala Dunia 2026 dimulai.

Menurutnya, perubahan jadwal ini tidak hanya akan memberikan ruang yang cukup bagi timnas Irak untuk mempersiapkan diri secara maksimal, tetapi juga memberi FIFA lebih banyak waktu untuk menangani masalah yang mungkin muncul jika Iran memutuskan mundur dari kompetisi Piala Dunia 2026.

“Tolong bantu kami, karena saat ini kami berjuang keras hanya untuk membawa pemain keluar dari Irak. Jika FIFA menunda pertandingan, itu memberi kami waktu untuk mempersiapkan diri dengan baik,” kata Arnold.

“Biarkan Bolivia bermain melawan Suriname bulan ini, dan kemudian seminggu sebelum Piala Dunia dimulai, kami akan bertanding melawan pemenangnya di Amerika Serikat. Pemenang dari pertandingan itu akan tetap bertahan, sementara yang kalah akan pulang,” tambahnya.

Menurut Arnold, perubahan jadwal ini juga memberikan fleksibilitas bagi FIFA untuk membuat keputusan terkait kemungkinan Iran mundur dari Piala Dunia 2026.

“Jika Iran mundur, kami akan otomatis lolos, dan itu akan memberi kesempatan bagi UEA—yang kami kalahkan di kualifikasi—untuk mempersiapkan diri menghadapi Bolivia atau Suriname,” jelas Arnold lebih lanjut.

Arnold juga mendapatkan dukungan kuat dari FIFPro, organisasi pemain sepak bola dunia. Beau Busch, Presiden FIFPro untuk konfederasi Asia dan Oseania, menegaskan bahwa otoritas sepak bola seperti AFC dan FIFA harus mempertimbangkan aspek keselamatan pemain dalam situasi yang tidak stabil, seperti yang terjadi saat ini di Irak.

Keamanan pemain memang menjadi isu yang sangat krusial, terutama setelah beberapa pertandingan domestik di Irak terpengaruh oleh serangan rudal di Erbil, yang menambah ketidakpastian.

Graham Arnold, yang sebelumnya sukses membawa Timnas Australia mencapai babak 16 besar Piala Dunia 2022, menegaskan bahwa dia tidak ingin memaksakan timnya bertanding tanpa persiapan yang matang.

“Saya tidak ingin memaksa tim untuk bertanding tanpa persiapan yang cukup hanya karena mengandalkan pemain yang berkarier di luar negeri. Masyarakat Irak yang sangat fanatik berhak mendapatkan tim terbaik mereka di laga paling bersejarah dalam 40 tahun terakhir ini,” ujar Arnold dengan penuh keyakinan.

Saat ini, permohonan dari pelatih Graham Arnold kepada FIFA masih dalam proses pembahasan. Meskipun FIFA belum memberikan tanggapan resmi, tekanan semakin besar untuk segera memutuskan apakah jadwal pertandingan akan diubah atau tidak.

Banyak pihak yang mendukung perubahan ini demi memastikan keselamatan pemain dan memberi timnas Irak kesempatan yang lebih baik untuk mempersiapkan diri menghadapi pertandingan yang sangat penting ini.

Penting untuk dicatat bahwa, meskipun persiapan tim Irak mengalami hambatan, mereka tetap optimis bisa meraih tiket ke Piala Dunia 2026. Mengingat kualitas tim yang ada dan potensi pemain, masih ada harapan besar bagi Irak untuk melangkah jauh dalam kompetisi internasional.

Namun, kondisi politik dan keamanan yang tidak menentu menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam setiap langkah yang diambil oleh otoritas sepak bola internasional.

Selain masalah perjalanan dan keamanan, infrastruktur sepak bola di Irak juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim nasional.

Sejak tahun 1986, Irak belum berhasil lolos ke Piala Dunia, dan pertandingan playoff ini menjadi kesempatan langka bagi mereka untuk mencapai turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Oleh karena itu, keputusan FIFA mengenai penundaan atau perubahan jadwal sangat krusial untuk nasib Timnas Irak di Piala Dunia 2026.

Dengan latar belakang ketegangan politik yang masih berlangsung dan tantangan logistik yang dihadapi tim, peran FIFA dalam memberikan kesempatan bagi Timnas Irak untuk mempersiapkan diri dengan lebih baik menjadi semakin penting.

Jika perubahan jadwal disetujui, ini akan memberi mereka waktu yang cukup untuk menyusun strategi, meningkatkan kondisi fisik, dan meminimalkan risiko cedera yang bisa menghalangi ambisi mereka menuju Piala Dunia 2026.