Takut karena China Sudah Angkat Bicara? Trump Cabut Blokade dan Nyatakan Selat Hormuz Terbuka Permanen

INBERITA.COM, Ketegangan di salah satu jalur pelayaran paling vital dunia, Selat Hormuz, tiba-tiba berubah arah menjadi optimisme setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa kawasan tersebut kini telah “terbuka permanen”.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran global terkait potensi gangguan distribusi energi akibat konflik di Timur Tengah.

Klaim mengejutkan ini disampaikan Trump setelah melakukan komunikasi intensif dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Ia menyebut pembicaraan tersebut menghasilkan kesepakatan penting yang berhubungan dengan penghentian suplai senjata ke Iran, yang selama ini menjadi salah satu pemicu ketegangan di kawasan.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu (15/4/2026), Trump mengungkapkan bahwa Beijing telah menyetujui langkah strategis tersebut.

Sebagai imbalannya, jalur Selat Hormuz diklaim akan tetap terbuka untuk aktivitas pelayaran internasional tanpa gangguan.

“Cina sangat senang bahwa saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Presiden Xi akan memberi saya pelukan hangat ketika saya sampai di sana dalam beberapa minggu,” tulis Trump.

Pernyataan ini langsung memicu perhatian global karena Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.

Setiap gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap harga energi internasional dan stabilitas ekonomi global.

Pertemuan antara Trump dan Xi Jinping sendiri dijadwalkan berlangsung di Beijing pada pertengahan Mei mendatang.

Agenda yang akan dibahas mencakup isu strategis, mulai dari tarif perdagangan hingga akses terhadap sumber daya mineral langka yang menjadi kepentingan kedua negara.

Deklarasi Trump tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Iran mengeluarkan ancaman serius.

Teheran disebut akan menutup Laut Merah apabila Amerika Serikat tidak mencabut blokade angkatan laut yang sebelumnya diterapkan di sekitar Selat Hormuz.

Di tengah situasi yang memanas, Trump justru menyampaikan nada optimistis. Ia bahkan menyebut bahwa Xi Jinping akan menyambutnya dengan hangat apabila keputusan pembukaan jalur tersebut direalisasikan secara permanen.

Langkah ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi yang sebelumnya diterapkan oleh Washington terhadap Teheran. Blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat diketahui telah membatasi ekspor minyak Iran secara signifikan, sekaligus memperparah kondisi ekonomi negara tersebut.

“Iran tidak punya uang. Mereka bangkrut,” ujar seorang pejabat AS yang menilai tekanan ekonomi inilah yang memaksa rezim Iran mulai melunak dalam proses negosiasi.

Meski Trump telah menyatakan Selat Hormuz dalam kondisi terbuka, situasi di lapangan disebut masih dalam pengawasan ketat.

Ketegangan militer belum sepenuhnya mereda, mengingat Iran sebelumnya menunjukkan sikap keras dengan ancaman menutup jalur strategis lainnya.

Bahkan, Departemen Pertahanan AS sempat menyiapkan langkah eskalatif dengan rencana pengiriman tambahan sekitar 6.000 pasukan ke kawasan tersebut.

Kekuatan militer itu rencananya akan diberangkatkan menggunakan kapal induk USS George HW Bush sebelum klaim pembukaan Selat Hormuz mencuat ke publik.

Di balik dinamika tersebut, upaya diplomasi terus berlangsung. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin mendekati titik temu, dengan dukungan mediator dari sejumlah negara seperti Pakistan, Mesir, dan Turki.

Tim negosiasi yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance disebut aktif melakukan komunikasi melalui jalur diplomasi tertutup. Proses ini dinilai menjadi kunci dalam meredakan konflik yang berpotensi meluas.

Trump bahkan menyampaikan keyakinannya bahwa perang akan segera berakhir dalam waktu dekat. Ia mengaitkan momentum tersebut dengan rencana kunjungan Raja Charles ke Amerika Serikat pada akhir bulan ini.

Pernyataan tersebut memperkuat narasi optimisme, meskipun sejumlah analis menilai kondisi di lapangan masih sangat rapuh dan penuh ketidakpastian.

Setiap kesepakatan yang dicapai masih berpotensi berubah tergantung dinamika politik dan militer yang berkembang.

Di sisi lain, Xi Jinping sebelumnya telah memberikan peringatan keras terkait dampak konflik di kawasan tersebut terhadap stabilitas global.

Ia menilai dunia berada di ambang kekacauan jika jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz terus terganggu.

Pandangan tersebut menegaskan pentingnya kerja sama multilateral dan dialog internasional dalam menyelesaikan konflik.

Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, jika benar terealisasi, dapat menjadi titik balik dalam meredakan ketegangan yang selama ini mengancam stabilitas ekonomi dunia.

Meski demikian, berbagai pihak masih menunggu konfirmasi lebih lanjut terkait implementasi nyata dari kesepakatan tersebut.

Dunia kini berada dalam fase krusial, di mana keputusan politik para pemimpin global akan sangat menentukan arah stabilitas energi dan keamanan internasional ke depan.