INBERITA.COM, Kejatuhan dua pesawat tempur Amerika Serikat dalam waktu 24 jam di wilayah udara Iran pada 3 April 2026 memicu sorotan tajam, terutama dari pihak-pihak yang selama ini mengkritik kebijakan militer Presiden Donald Trump.
Insiden tersebut, yang terjadi di tengah ketegangan yang semakin memanas antara AS dan Iran, langsung menjadi bahan olok-olok di Teheran.
Salah satunya datang dari Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang melalui akun X pribadinya mengejek negara yang dikenal dengan kekuatan militer canggih tersebut.
Ghalibaf tak segan menyindir Presiden Trump atas kehilangan dua jet tempur tercanggih Amerika dalam satu hari.
“Perang Amerika dan Israel sudah turun kelas. Mereka lebih sibuk menyelamatkan personel ketimbang mengejar tujuan utama mereka untuk menggulingkan rezim Iran,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Sindiran ini semakin menambah kekecauan di pihak AS, yang sebelumnya sering sesumbar mengklaim dominasi mereka atas wilayah udara Iran.
Ledakan pertama terjadi pada pagi hari, saat jet tempur F-15 EK milik Angkatan Udara AS ditembak jatuh oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Tak lama setelah itu, jet tempur A-10 Thunderbolt II yang dikerahkan di dekat Selat Hormuz juga jatuh setelah dihantam tembakan dari pasukan Iran.
Dalam hitungan beberapa jam, AS kehilangan dua pesawat tempur mereka, memunculkan spekulasi mengenai kemampuan militer yang mulai dipertanyakan oleh publik internasional, terutama oleh pihak Iran.
Kejadian ini semakin diperparah dengan upaya penyelamatan yang dilakukan oleh pasukan AS.
Dua helikopter Blackhawk yang dikerahkan untuk mencari para pilot yang selamat sempat dihujani tembakan dari pasukan IRGC, yang menghalangi upaya pencarian tersebut.
Belum lagi, aksi ini terjadi setelah Presiden Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya dengan percaya diri menyatakan bahwa militer AS memiliki kendali penuh atas langit Iran.
Namun, setelah jatuhnya dua jet tempur ini, keadaan berubah. Satu pilot dari jet F-15 yang selamat akhirnya ditemukan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian.
Situasi ini memperlihatkan betapa rentannya pesawat-pesawat milik AS di atas langit Republik Islam Iran.
Menanggapi serangan ini, Teheran semakin mempertegas sikap mereka dengan menjanjikan hadiah bagi warga yang berhasil menangkap pilot AS yang selamat.
Hal ini menambah ketegangan di lapangan, di mana masyarakat Iran yang berada di dekat lokasi kejadian kemungkinan akan ikut terlibat dalam pencarian tersebut.
Di tengah ketegangan ini, perubahan signifikan juga terjadi di dalam jajaran militer AS. Jenderal Randy George, Kepala Staf Angkatan Darat AS, dikabarkan mundur dari posisinya setelah diminta oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, yang memunculkan spekulasi mengenai perbedaan pandangan dalam kebijakan pertahanan.
Jenderal George, yang mengundurkan diri dari jabatannya, mengungkapkan kritik keras terhadap kebijakan Trump dengan menyebut, “Seorang yang gila akan membawa militer AS yang hebat menuju kehancuran.”
Jenderal George dicopot saat Amerika Serikat tengah berada di tengah perang dengan Iran, dan posisinya untuk sementara akan digantikan oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Christopher LaNeve sebagai Pelaksana Tugas.
Keputusan pengunduran diri ini menjadi sorotan lantaran terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang semakin intens di Timur Tengah.
Sementara itu, di lapangan, serangan terbaru dari pasukan IRGC tak hanya menghancurkan jet tempur F-15 dan A-10, tetapi juga melibatkan helikopter Blackhawk yang rusak parah setelah ditembak.
Hingga saat ini, pasukan AS masih melakukan pencarian untuk menemukan pilot yang hilang pasca serangan tersebut.
Insiden ini mengingatkan dunia akan ketidakpastian dan risiko besar yang dihadapi pasukan Amerika Serikat di wilayah yang penuh dengan konflik.
Meski dengan pesawat-pesawat tempur tercanggih, AS ternyata masih belum bisa sepenuhnya menguasai ruang udara Iran, yang menunjukkan bahwa konflik ini berisiko terus berkembang menjadi lebih besar.
Selain itu, gambar-gambar yang diterima oleh media pemerintah Iran menunjukkan sisa-sisa pesawat yang hancur, dengan dugaan bahwa pesawat yang jatuh adalah jet tempur F-16 atau F-35, meskipun belum ada konfirmasi resmi.
Sumber militer di Iran juga mengklaim bahwa mereka telah menggunakan sistem pertahanan udara canggih untuk menghancurkan jet-jet tempur tersebut.
Ketegangan ini akan terus berlanjut, dengan spekulasi mengenai langkah-langkah yang akan diambil oleh AS dalam merespon serangan tersebut.
Namun yang jelas, kemenangan sementara yang diraih oleh Iran ini menjadi momen penting yang menunjukkan potensi kekuatan pertahanan negara tersebut, yang semakin sulit dipandang sebelah mata oleh AS dan sekutunya.