INBERITA.COM, Lembaga riset Parameter Politik Indonesia baru saja merilis temuan survei nasional yang mengukur tingkat ketertarikan publik terhadap Partai Solidaritas Indonesia.
Survei ini secara khusus menyoroti dampak dari aktivitas safari politik yang dilakukan oleh Joko Widodo guna membesarkan partai tersebut.
Hasil temuan menunjukkan bahwa sebanyak 34,8 persen responden secara tegas menyatakan tidak tertarik memilih partai berlambang mawar itu meskipun mengetahui keterlibatan mantan presiden tersebut.
Angka ketidaktertarikan ini menjadi salah satu sorotan utama dalam paparan data yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi lembaga riset terkait pada Sabtu, 5 September 2026.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, memaparkan rincian tingkat pengetahuan publik mengenai aktivitas politik tersebut.
Sebanyak 37,1 persen masyarakat tercatat mengetahui bahwa Jokowi melakukan safari politik untuk membesarkan PSI di berbagai daerah.
Sebaliknya, mayoritas responden yaitu sebanyak 62,9 persen justru menyatakan tidak mengetahui adanya agenda politik tersebut. Ketimpangan informasi ini menunjukkan bahwa sosialisasi mengenai pergerakan politik tingkat atas belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Dari kelompok masyarakat yang mengetahui agenda blusukan tersebut, terdapat sekitar 13,0 persen responden yang menyatakan minat untuk bergabung.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, mengatakan, sebanyak 37,1 persen masyarakat mengetahui Jokowi melakukan safari politik untuk membesarkan PSI.
Lebih lanjut, porsi responden yang bersikap biasa saja tercatat berada di angka 28,1 persen dari total keseluruhan sampel. Selain itu, terdapat 24,2 persen responden lainnya yang memilih untuk tidak memberikan jawaban atau tidak tahu terhadap pertanyaan tersebut.
Analisis lebih mendalam memperlihatkan adanya ceruk dukungan yang berasal dari kelompok pemilih yang mengikuti perkembangan aktivitas politik tingkat nasional.
“Dari masyarakat yang menyatakan tahu kalau Jokowi itu blusukan dan bekerja untuk PSI, kira-kira begitu, ada sekitar kurang lebih 13,0% yang menyatakan tertarik untuk bergabung dengan PSI,” ujar Adi dalam pemaparan hasil survei di Kanal YouTube Parameter Politik Indonesia, dikutip Sabtu (5/9).
Lonjakan potensi dukungan ini mengindikasikan bahwa figur sentral masih memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam menarik perhatian massa.
Meskipun demikian, angka persentase tersebut harus dibaca sebagai sebuah peluang awal yang belum terkonversi menjadi suara riil di bilik suara.
Pihak lembaga survei mengingatkan bahwa temuan tersebut baru sebatas indikasi ketertarikan yang bersifat dinamis dan fluktuatif.
“Artinya apa? Dari 37% masyarakat yang tahu kalau Jokowi bekerja untuk PSI ada sekitar 13% yang berpotensi memilih dan kemudian bergabung dengan PSI. Intinya ada potensi,” ujar Adi.
Faktor penentu utama dari konversi potensi ini terletak pada konsistensi mesin partai dan strategi pemenangan di lapangan.
Tanpa adanya eksekusi program yang tepat, modal sosial dari figur ternama tidak akan otomatis menghasilkan kemenangan elektoral yang masif.
Ketergantungan pada ketokohan figur tertentu juga membawa tantangan tersendiri bagi kemandirian institusi partai politik dalam jangka panjang. Oleh karena itu, kerja terstruktur dari kader di akar rumput menjadi variabel krusial untuk mengamankan simpati publik secara berkelanjutan.
“Jadi kalimat potensi tertarik bergabung dengan PSI itu memang jumlahnya besar karena faktor Jokowi, tapi ingat namanya potensi itu ya bisa menjadi bagian dari PSI atau tidak menjadi bagian dari PSI. Sangat tergantung dengan kerja-kerja politik yang akan dilakukan oleh PSI di masa-masa yang akan datang,” terang Adi.
Metodologi penarikan data dalam riset ini melibatkan populasi warga negara Indonesia yang telah berusia minimal tujuh belas tahun atau sudah menikah.
Jumlah total responden yang dilibatkan mencapai 1.200 orang yang tersebar secara proporsional di tiga puluh delapan provinsi di seluruh Indonesia.
Sebaran sampel mencakup seratus enam belas kabupaten dan kota, seratus dua puluh kecamatan, serta seratus dua puluh desa atau kelurahan. Tingkat presisi riset ini memiliki batas kesalahan atau margin of error sebesar 2,8 persen pada tingkat kepercayaan mencapai 95 persen.
Proses pengumpulan data primer dilakukan melalui metode wawancara tatap muka langsung oleh tenaga surveyor dari kalangan mahasiswa. Seluruh rangkaian lapangan tersebut berlangsung secara maraton mulai dari tanggal 20 Juli hingga 3 Agustus 2026.