Sriwijaya FC Dihantam Krisis Finansial, Rekrut Pemain Tanpa Gaji Demi Bertahan di Liga 2

INBERITA.COM, Sriwijaya FC kembali menjadi sorotan tajam di kancah sepak bola nasional. Mantan raksasa Liga Indonesia yang pernah berjaya dan meraih gelar juara Divisi Utama itu kini berada dalam kondisi yang jauh dari kata ideal.

Krisis finansial yang melanda klub berjuluk Laskar Wong Kito tersebut membuat perjalanan mereka di kompetisi Liga 2 musim ini berjalan penuh keterbatasan dan kekhawatiran.

Kondisi keuangan Sriwijaya FC disebut berada pada titik terendah. Masalah finansial ini bukan sekadar isu atau rumor, melainkan telah dirasakan langsung oleh pemain dan tim sejak beberapa waktu terakhir.

Dampaknya terlihat jelas, mulai dari keterlambatan pembayaran gaji hingga keterbatasan akomodasi tim saat menjalani pertandingan tandang.

Situasi ini membuat stabilitas tim terganggu dan memengaruhi performa serta mental pemain di lapangan.

Krisis finansial Sriwijaya FC semakin terasa ketika memasuki masa transfer putaran kedua. Sejumlah pemain memilih hengkang karena ketidakpastian nasib dan kondisi klub yang belum juga membaik.

Satu per satu pemain pergi hingga pada pertengahan Januari lalu, Sriwijaya FC hanya menyisakan sekitar 15 pemain di dalam skuad, termasuk tiga penjaga gawang.

Jumlah tersebut tentu jauh dari ideal untuk mengarungi kompetisi Liga 2 yang panjang dan kompetitif.

Meski berada dalam situasi sulit, manajemen Sriwijaya FC tidak sepenuhnya menyerah.

Dengan keterbatasan anggaran yang dimiliki, klub tetap berupaya mendatangkan pemain baru demi menjaga keberlangsungan tim dan peluang bertahan di kasta kedua sepak bola Indonesia.

Langkah yang diambil pun terbilang tidak lazim dan mencerminkan betapa beratnya krisis yang sedang dialami.

Terbaru, Sriwijaya FC merekrut sejumlah pemain dengan status tanpa gaji. Para pemain tersebut bergabung secara sukarela, tanpa menerima bayaran bulanan seperti umumnya pesepak bola profesional.

Manajemen klub hanya mampu menyediakan fasilitas dasar berupa tempat tinggal dan makan.

Keputusan ini diambil sebagai jalan terakhir agar Sriwijaya FC tetap memiliki cukup pemain untuk bertanding dan bersaing di Liga 2 musim ini.

Kondisi ini memperlihatkan betapa seriusnya krisis finansial Sriwijaya FC.

Namun di sisi lain, langkah tersebut juga menunjukkan adanya pemain yang masih bersedia membela klub dengan mengesampingkan faktor finansial, demi mendapatkan menit bermain dan menjaga karier mereka tetap berjalan.

Manajemen Sriwijaya FC mengakui bahwa ruang gerak mereka sangat terbatas. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mempertahankan eksistensi klub yang pernah dua kali menjuarai Divisi Utama sepak bola Indonesia pada musim 2007/2008 dan 2011/2012.

Target yang dipasang pun terbilang realistis, yakni bertahan di Liga 2 agar tidak terdegradasi ke Liga 3 pada musim berikutnya.

Manajer Sriwijaya FC, Eko Saputro, secara terbuka membenarkan kondisi keuangan klub yang tengah mengalami krisis.

Ia tidak menampik bahwa masalah finansial menjadi kendala utama dalam pengelolaan tim musim ini.

Meski demikian, manajemen tetap berusaha melengkapi skuad dengan mendatangkan pemain-pemain baru yang dinilai siap berjuang dalam kondisi apa pun.

“Kita lihat untuk anggaran keuangan tim ini sendiri kalau bisa dibilang, minus,” katanya, dikutip dari Media.

Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi riil Sriwijaya FC yang harus bertahan dengan anggaran minim.

Dalam situasi tersebut, klub tidak lagi menjadikan gaji sebagai daya tarik utama untuk merekrut pemain. Fokus bergeser pada semangat juang dan komitmen membela tim.

“Sekarang pemain yang mau gabung dengan Sriwijaya FC yang tidak memikirkan nominal. Jadi benar-benar mereka sepenuh hati ingin main,” sambungnya.

Dalam upaya menambah kekuatan tim, Sriwijaya FC diketahui mendatangkan hingga enam pemain baru yang merupakan mantan pemain Liga 2.

Namun, manajemen tidak merinci identitas para pemain tersebut. Yang pasti, mereka direkrut dengan status tanpa gaji dan bergabung atas dasar kesukarelaan, sebuah fenomena yang jarang terjadi di level sepak bola profesional.

Situasi ini menempatkan Sriwijaya FC dalam posisi rawan. Selain harus berjuang di tengah keterbatasan finansial, mereka juga dihadapkan pada ancaman degradasi ke Liga 3 jika gagal bersaing di Liga 2.

Skenario terburuk tersebut tentu menjadi mimpi buruk bagi klub dan para pendukungnya, mengingat sejarah panjang Sriwijaya FC sebagai salah satu kekuatan sepak bola Indonesia di masa lalu.

Meski demikian, dengan skuad yang ada saat ini, manajemen dan pemain berharap Sriwijaya FC masih mampu bertahan.

Semangat juang, loyalitas, dan pengorbanan para pemain yang bersedia bermain tanpa gaji menjadi modal utama Laskar Wong Kito untuk melewati masa sulit ini.

Bagi Sriwijaya FC, musim ini bukan sekadar soal hasil di papan klasemen, tetapi juga perjuangan untuk menjaga nama besar klub agar tidak semakin terpuruk di tengah krisis finansial yang membelit.