Spanyol Tarik Duta Besarnya dari Tel Aviv, Pedro Sánchez Satu-satunya Pemimpin Eropa yang Berani Tentang Trump

INBERITA.COM, Ketegangan diplomatik antara Spanyol dan Israel kembali meningkat tajam setelah pemerintah di Madrid mengambil langkah drastis dengan menarik duta besarnya dari Tel Aviv.

Keputusan ini muncul hanya sepekan setelah pemerintah Spanyol secara terbuka mengecam serangan militer koalisi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dinilai melanggar hukum internasional.

Penarikan duta besar tersebut menjadi sinyal terbaru memburuknya hubungan kedua negara, yang sudah memanas sejak perang Gaza meletus pada Oktober 2023.

Pemerintah Spanyol resmi memutuskan langkah tersebut pada Selasa (10/3). Kebijakan itu kemudian dicantumkan dalam lembaran negara resmi sehari setelahnya, Rabu (11/3).

Dengan keputusan itu, Kedutaan Besar Spanyol di Tel Aviv tidak lagi dipimpin oleh seorang duta besar penuh. Posisi tertinggi di perwakilan diplomatik Spanyol di Israel kini hanya dipegang oleh pejabat setingkat kuasa usaha.

“Kedutaan Besar Spanyol di Tel Aviv akan dipimpin oleh seorang kuasa usaha (chargé d’affaires), bukan oleh seorang duta besar penuh,” kata seorang sumber di Kementerian Luar Negeri Spanyol.

Status kuasa usaha merupakan jabatan diplomatik yang berada satu tingkat di bawah duta besar. Biasanya posisi ini digunakan ketika hubungan antarnegara sedang mengalami ketegangan atau ketika seorang duta besar dipanggil pulang oleh pemerintahnya.

Sumber dari media Timur Tengah juga menyebut bahwa duta besar Spanyol dipanggil kembali ke Madrid untuk melakukan konsultasi diplomatik tanpa batas waktu.

“Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi penarikan duta besar untuk Tel Aviv, yang dipanggil pulang untuk konsultasi ‘tanpa batas waktu’, sehingga Kedutaan Besar Spanyol di Tel Aviv berada di bawah kepemimpinan seorang kuasa usaha, pada tingkat yang sama dengan Kedutaan Besar Israel di Madrid,” ujar sumber tersebut kepada awak media.

Langkah ini membuat status perwakilan diplomatik kedua negara kini berada pada level yang setara, yakni sama-sama dipimpin oleh pejabat setingkat kuasa usaha.

Hubungan Spanyol dan Israel memang telah lama berada dalam kondisi tegang sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023. Pemerintah Spanyol termasuk salah satu negara Eropa yang paling vokal mengkritik kebijakan militer Israel di wilayah Palestina.

Madrid secara konsisten mengecam operasi militer Israel di Gaza dan bahkan menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk genosida. Sikap keras ini membuat hubungan politik antara kedua negara semakin renggang.

Ketegangan semakin meningkat pada 2024 ketika pemerintah Spanyol secara resmi mengakui kedaulatan Palestina. Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Israel.

Sebagai bentuk protes diplomatik, Israel saat itu langsung menarik duta besarnya dari Madrid. Sejak saat itu, kedutaan Israel di Spanyol juga hanya dipimpin oleh pejabat setingkat kuasa usaha.

Dengan langkah terbaru Madrid menarik dubesnya dari Tel Aviv, hubungan diplomatik kedua negara kini berada pada titik paling rendah dalam beberapa tahun terakhir.

Situasi semakin kompleks setelah Spanyol juga mengambil sikap tegas terkait konflik yang lebih luas di Timur Tengah, khususnya mengenai serangan militer terhadap Iran.

Pada awal Maret 2026, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez secara terbuka mengecam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menurutnya, serangan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional.

Selain mengkritik keras tindakan militer itu, Sánchez juga mengambil langkah strategis dengan menolak memberikan dukungan militer kepada Amerika Serikat.

Pemerintah Spanyol menegaskan tidak akan mengizinkan Washington menggunakan pangkalan militer yang berada di wilayah Spanyol untuk melancarkan operasi militer terhadap Iran.

Keputusan tersebut memicu ketegangan baru antara Madrid dan Washington.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan bereaksi keras terhadap sikap pemerintah Spanyol tersebut. Trump bahkan mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan negara itu jika Madrid terus menentang kebijakan militer Washington.

Ancaman tersebut menambah dimensi baru dalam konflik diplomatik yang kini melibatkan tiga pihak sekaligus: Spanyol, Israel, dan Amerika Serikat.

Dari seluruh negara anggota Uni Eropa yang berjumlah 27 negara, sikap Sánchez terbilang sangat menonjol. Hingga kini, ia menjadi satu-satunya pemimpin negara Uni Eropa yang secara terbuka menentang kebijakan Presiden Trump terkait serangan terhadap Iran.

Posisi tersebut menempatkan Spanyol dalam situasi geopolitik yang sensitif. Di satu sisi, Madrid berupaya mempertahankan komitmennya terhadap hukum internasional dan isu kemanusiaan di Palestina.

Namun di sisi lain, langkah tersebut berpotensi memperburuk hubungan dengan sekutu tradisional di Barat.

Dengan posisi kedutaan yang kini hanya dipimpin kuasa usaha di kedua negara, komunikasi diplomatik antara Madrid dan Tel Aviv diperkirakan akan berjalan lebih terbatas dibandingkan sebelumnya.

Ke depan, dinamika hubungan antara Spanyol, Israel, dan Amerika Serikat kemungkinan akan terus menjadi sorotan internasional, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.