Sibuk Rusuh dengan Negara Lain, Trump dan Netanyahu Sama-sama Terancam Dimakzulkan di Negara Masing-masing

INBERITA.COM, Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah gencatan senjata yang disepakati antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tampaknya belum cukup efektif untuk meredakan konflik.

Situasi semakin memburuk setelah serangan Israel ke Lebanon dan ancaman serangan balasan dari Iran terhadap Israel, yang meningkatkan kekhawatiran akan kehancuran total dari kesepakatan gencatan senjata tersebut.

Sementara itu, di dalam negeri, Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak hanya menghadapi tekanan dari luar, tetapi juga ancaman serius terhadap posisi mereka masing-masing.

Survei terbaru yang dirilis oleh Newsweek menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Amerika Serikat mendukung pemakzulan Presiden Donald Trump.

Dalam survei tersebut, 52 persen pemilih terdaftar mendukung agar Trump diturunkan dari jabatannya, sementara 40 persen menentangnya.

Salah satu alasan utama yang diungkapkan adalah kebijakan luar negeri Trump yang kontroversial, terutama dalam memicu ketegangan dengan Iran, yang telah membawa dampak buruk bagi stabilitas internasional.

Trump, yang selalu dikenal dengan pendekatan keras dan kontroversial, membalas serangan verbal terhadap dirinya dengan menyerang tokoh-tokoh konservatif seperti Candace Owens dan Alex Jones, yang menyerukan agar ia dicopot dari jabatannya.

Trump bahkan menyebut mereka “bodoh” dan memiliki IQ rendah, mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap kritik yang datang dari dalam partainya sendiri.

Di sisi lain, Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, juga menghadapi masalah serius.

Tidak hanya terkait dengan perang di Lebanon, di mana serangan Israel semakin memperburuk keadaan, Netanyahu juga harus menghadapi masalah hukum yang lebih mendalam.

Ia dijadwalkan untuk menghadapi pengadilan terkait kasus korupsi yang membelitnya. Tuduhan termasuk penyuapan dan penipuan terkait regulasi yang diberikan kepada perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq Telecom.

Netanyahu membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai upaya untuk menjatuhkan reputasinya.

Namun, jika terbukti bersalah, Netanyahu berisiko mendapatkan hukuman penjara, mengikuti jejak Ehud Olmert, mantan Perdana Menteri Israel yang dipenjara karena kasus korupsi pada 2014.

Di tengah ketegangan yang semakin meningkat di Timur Tengah, gencatan senjata antara AS dan Iran masih sangat rentan.

Israel terus menyerang Lebanon, yang membuat Iran semakin frustrasi dan siap untuk meluncurkan serangan militer besar-besaran sebagai balasan.

Ahmad Naderi, anggota Komite Ketua Majelis Konsultatif Islam Iran, menyebut bahwa Iran hampir meluncurkan serangan rudal ke Israel, namun ditunda setelah adanya intervensi diplomatik dari Pakistan yang meminta Iran memberi ruang untuk jalur diplomasi.

Iran menegaskan bahwa Lebanon harus menjadi bagian utama dari setiap perjanjian gencatan senjata. Seiring berjalannya waktu, Iran tidak akan terlibat lebih jauh dalam negosiasi jika serangan terhadap Hizbullah dan Lebanon terus berlanjut.

Di sisi lain, Hizbullah telah membalas serangan Israel dengan meluncurkan roket ke wilayah utara Israel pada Kamis (9/4/2026), sebagai bentuk protes terhadap pelanggaran gencatan senjata oleh Israel.

Meningkatnya ketegangan ini menyebabkan Presiden Donald Trump menghubungi Benjamin Netanyahu dan meminta agar serangan Israel di Lebanon dikurangi. Trump menekankan pentingnya meredakan ketegangan ini agar gencatan senjata antara AS dan Iran tetap terjaga.

Meski demikian, Israel melanjutkan serangan militer di Lebanon, menyatakan bahwa operasi tersebut untuk mengatasi ancaman dari Hizbullah.

Trump juga menegaskan kesiapan kekuatan militer AS yang masih siaga di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk ancaman terhadap semua pihak yang melanggar perjanjian damai.

Ia menyatakan bahwa kapal perang, pesawat tempur, dan personel militer AS akan tetap berada di posisi siaga untuk merespons potensi ancaman yang dapat timbul kapan saja.

Di tengah ketegangan yang meningkat ini, perundingan lanjutan antara Iran dan AS dijadwalkan akan berlangsung di Pakistan pada 10 April 2026.

Dalam perundingan ini, Iran akan membawa proposal 10 poin yang mencakup berbagai tuntutan, termasuk pengakuan hak pengayaan nuklir, pencabutan sanksi, dan kontrol penuh atas Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Iran juga menuntut penghentian permusuhan di semua front, termasuk Lebanon.

Namun, para analis memperingatkan bahwa jalannya perundingan akan menghadapi tantangan besar. Ketegangan di lapangan, serangan berkelanjutan, dan ketidakpercayaan antara pihak-pihak yang terlibat membuat proses diplomasi ini sangat rapuh.

Lebanon, yang juga terjebak dalam konflik ini, membutuhkan peran AS sebagai mediator untuk mencapai kesepakatan yang bisa diterima semua pihak.

Gencatan senjata yang ditandatangani antara AS dan Iran mungkin hanya sebuah titik singgah dalam rangkaian konflik yang lebih besar.

Meskipun kedua negara menyatakan niat untuk mempertahankan perdamaian, serangan yang terus berlanjut dan pelanggaran perjanjian dapat menggagalkan proses diplomatik.

Bagi Trump dan Netanyahu, tidak hanya ancaman dari luar yang perlu mereka hadapi, tetapi juga krisis politik di dalam negeri mereka sendiri.

Dengan keduanya menghadapi potensi krisis besar yang dapat meruntuhkan posisi mereka, baik dalam negeri maupun di panggung internasional, stabilitas politik dan keamanan global masih berada dalam ketidakpastian yang besar.