Sepi Peminat? Harga Tiket Piala Dunia 2026 Turun Drastis Meski FIFA Klaim Diburu Fans

INBERITA.COM, Euforia menuju Piala Dunia 2026 ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus. Di tengah promosi besar-besaran dan klaim tingginya antusiasme global, harga tiket sejumlah pertandingan justru mengalami penurunan tajam menjelang turnamen dimulai.

Fenomena itu memunculkan spekulasi baru mengenai minat penonton terhadap beberapa laga fase grup, terutama pertandingan yang tidak melibatkan negara unggulan atau tim dengan basis penggemar besar.

Bahkan, ada tiket yang kini dijual di bawah Rp1,6 juta, jauh dari kesan “mahal dan eksklusif” yang selama ini melekat pada ajang sepak bola terbesar dunia tersebut.

Salah satu pertandingan yang menjadi sorotan adalah duel Yordania kontra Aljazair di San Francisco pada 22 Juni mendatang.

Berdasarkan data platform penjualan tiket yang dipantau sejumlah media, tiket termurah untuk laga tersebut sempat dijual hanya sekitar 98 dolar AS atau setara Rp1,6 juta.

Harga itu kemudian sedikit naik menjadi 120 dolar AS, namun tetap tergolong murah untuk ukuran turnamen sekelas Piala Dunia.

Menariknya, di pertandingan yang sama masih tersedia kursi premium dengan harga fantastis mencapai 19.550 dolar AS.

Perbedaan harga yang sangat jauh ini memperlihatkan bagaimana sistem penetapan harga dinamis yang digunakan FIFA menciptakan fluktuasi besar tergantung permintaan pasar.

Tidak hanya laga Yordania versus Aljazair, beberapa pertandingan lain juga mengalami tren serupa. Duel Cape Verde melawan Arab Saudi serta pertandingan bertajuk “Pride Match” antara Mesir dan Iran disebut memiliki harga tiket termurah di bawah 165 dolar AS.

Data dari TicketData yang melacak sebagian besar pertandingan Piala Dunia 2026 menunjukkan adanya penurunan harga rata-rata sekitar 22 persen dalam 30 hari terakhir. Situasi itu memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola dan pengamat industri olahraga.

Sejak awal, kebijakan harga tiket FIFA memang menuai kritik keras. Organisasi pendukung suporter sepak bola Eropa, Football Supporters Europe, bahkan menuduh FIFA melakukan “pengkhianatan monumental” terhadap penggemar karena harga tiket yang dianggap terlalu mahal dan tidak ramah bagi penonton biasa.

Kontroversi semakin membesar setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump ikut menanggapi persoalan tersebut. Trump mengaku tidak akan mau membayar tiket pertandingan pembuka tim nasional AS melawan Paraguay yang sempat dijual lebih dari 1.000 dolar AS atau sekitar Rp16 juta.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa isu harga tiket tidak hanya menjadi pembicaraan di kalangan suporter, tetapi juga memasuki ranah politik dan opini publik yang lebih luas.

Sebab, Piala Dunia 2026 diproyeksikan sebagai salah satu event olahraga terbesar dalam sejarah dengan format baru yang melibatkan lebih banyak negara dan pertandingan.

Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu menyediakan sekitar 7 juta tiket untuk total 104 pertandingan.

FIFA mengklaim telah menerima lebih dari 500 juta permintaan tiket dari seluruh dunia, angka yang digunakan badan sepak bola internasional tersebut untuk menunjukkan tingginya minat publik.

Namun realita di lapangan tampaknya tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi. Beberapa pertandingan memang diprediksi penuh sesak, terutama laga negara besar seperti Brasil, Argentina, Inggris, atau tuan rumah Amerika Serikat.

Akan tetapi, pertandingan lain yang dianggap kurang “menjual” justru mengalami penurunan harga signifikan.

Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya membela kebijakan harga tiket yang diterapkan organisasinya. Menurut dia, FIFA hanya mengikuti mekanisme pasar yang berlaku di industri hiburan dan olahraga global.

“Meskipun sebagian orang mengatakan harga tiket kami tinggi, tiket itu tetap dijual kembali di pasar gelap dengan harga jauh lebih mahal,” ujar Infantino dalam pernyataannya yang dikutip laporan media.

Meski demikian, komentar tersebut tidak sepenuhnya meredam kritik. Banyak penggemar menilai FIFA terlalu agresif memaksimalkan keuntungan komersial sehingga melupakan aksesibilitas bagi suporter biasa.

Sorotan juga tertuju pada harga tiket final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife yang mencapai hampir 33 ribu dolar AS untuk kategori tertentu.

Bahkan, di platform penjualan kembali resmi FIFA, beberapa tiket sempat ditawarkan dengan harga mendekati 2,3 juta dolar AS atau setara puluhan miliar rupiah.

Angka fantastis tersebut memicu reaksi luas di media sosial. Banyak netizen menilai harga itu sudah tidak masuk akal untuk sebuah pertandingan sepak bola, sekalipun berstatus final Piala Dunia.

Infantino sendiri sempat menanggapi isu tersebut dengan nada bercanda. Ia mengatakan akan secara pribadi mengantarkan hotdog dan minuman kepada penonton yang membeli tiket final seharga jutaan dolar.

“Jika seseorang membeli tiket final seharga 2 juta dolar, saya pribadi akan membawakannya hotdog dan Coca-Cola agar dia mendapat pengalaman menyenangkan,” katanya.

Di balik kontroversi harga tiket, Piala Dunia 2026 tetap diprediksi menjadi magnet besar industri olahraga global.

Turnamen ini bukan hanya soal pertandingan sepak bola, tetapi juga menyangkut bisnis hiburan, pariwisata, sponsor, hingga ekonomi digital.

Namun penurunan harga tiket di sejumlah pertandingan menjadi sinyal bahwa antusiasme publik ternyata tidak merata.

Faktor lokasi pertandingan, daya tarik tim peserta, hingga kondisi ekonomi global ikut memengaruhi keputusan penggemar untuk datang langsung ke stadion.

Situasi itu sekaligus menjadi ujian bagi FIFA dalam menjaga keseimbangan antara keuntungan komersial dan pengalaman suporter. Sebab, atmosfer tribun yang penuh dan meriah tetap menjadi salah satu elemen paling penting dalam pesta sepak bola terbesar dunia.