Rusia Tolak Komentari Berita Soal Pemimpin Baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei Dirawat di Rusia Karena Terluka

INBERITA.COM, Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Senin (16/3/2026) menolak untuk mengomentari laporan media yang mengklaim bahwa Ayatollah Mojtaba Khamenei, pemimpin baru Iran, telah tiba di Moskow untuk menjalani perawatan medis.

“Kami tidak berkomentar tentang laporan semacam itu dengan cara apa pun,” tegas Peskov dalam konferensi pers yang berlangsung di Moskow, sebagaimana dilansir Anadolu.

Laporan Kesehatan Pemimpin Baru Iran Laporan sebelumnya yang dipublikasikan oleh surat kabar Kuwait Al-Jarida menyebutkan bahwa Mojtaba Khamenei, yang baru-baru ini terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, terluka dalam serangan udara gabungan AS-Israel.

Menurut laporan tersebut, Khamenei yang terluka parah dibawa ke Moskow untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, baik Kremlin maupun pihak Iran tidak memberikan konfirmasi langsung mengenai kabar tersebut.

Kementerian Luar Negeri Iran, saat dikonfirmasi, mengungkapkan bahwa Khamenei memang terluka dalam serangan tersebut, tetapi dalam pernyataan resmi, mereka menekankan bahwa pemimpin baru Iran tersebut dalam kondisi baik.

Pihak berwenang Iran juga memilih untuk tidak mengungkapkan keberadaan Khamenei secara spesifik.

Serangan AS-Israel dan Dampaknya pada Iran Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026 memicu ketegangan yang semakin meningkat di kawasan tersebut.

Perang ini telah mengakibatkan banyak korban jiwa, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan yang menghantam pusat-pusat penting di Teheran dan sejumlah lokasi lainnya di Iran.

Setelah kematian ayahnya, Mojtaba Khamenei terpilih untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin tertinggi Iran.

Kematian Ayatollah Ali Khamenei dan serangkaian serangan lainnya oleh AS dan Israel telah menambah ketegangan yang telah ada di kawasan tersebut.

Iran, dalam beberapa pekan terakhir, membalas serangan dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai titik di Timur Tengah, termasuk pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan itu.

Serangan ini tidak hanya mengganggu stabilitas di kawasan tersebut, tetapi juga mempengaruhi pasar energi global, mengingat peran Iran yang besar dalam sektor energi.

Rusia Menanggapi Klaim Ukraina tentang Pasokan Drone ke Iran Selain menanggapi laporan kesehatan Khamenei, Dmitry Peskov juga diminta untuk memberikan komentar terkait klaim yang dibuat oleh Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

Zelenskyy mengungkapkan tuduhan bahwa Moskow telah memasok drone kepada Teheran.

Peskov menanggapi dengan mengalihkan pertanyaan tersebut kembali kepada Zelenskyy, “Anda perlu menghubungi kepala rezim Kyiv, menanyakan dari mana ia mendapatkan informasi tersebut. Kami tidak berkomentar tentang pernyataan seperti itu,” ujarnya.

Perbincangan Tentang Proses Perdamaian Ukraina Terkait dengan upaya perdamaian, Peskov juga memberikan komentar mengenai prospek pembicaraan untuk mengakhiri konflik di Ukraina.

Rusia tetap terbuka untuk melanjutkan proses perdamaian, dan Peskov menyatakan bahwa mereka menunggu putaran negosiasi berikutnya.

Meskipun begitu, Peskov menggarisbawahi bahwa tidak ada keputusan tentang waktu dan tempat pertemuan tersebut.

Peskov juga mengungkapkan bahwa menurutnya, pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut Ukraina sebagai penghalang utama dalam proses perdamaian, menggambarkan pandangan Rusia terhadap situasi ini.

“Dia (Trump) sangat menyarankan agar Zelenskyy membuat kesepakatan. Dan dari pernyataan-pernyataan ini, dapat disimpulkan bahwa pihak Ukraina adalah penghambat utama dalam proses negosiasi,” ungkap Peskov.

Kesimpulan dan Tantangan Ke Depan Kremlin terus berusaha menjaga jarak dari berbagai klaim yang muncul, baik terkait dengan kesehatan pemimpin baru Iran maupun tuduhan terkait pasokan senjata ke Iran.

Di sisi lain, ketegangan yang semakin meningkat antara AS, Israel, dan Iran berpotensi mempengaruhi jalannya proses perdamaian di Ukraina.

Rusia tampaknya semakin menekankan perlunya Ukraina untuk bergabung dalam dialog perdamaian, namun masalah yang melibatkan kawasan Timur Tengah tetap menjadi sorotan utama di panggung internasional.