INBERITA.COM, Nilai tukar ringgit Malaysia terhadap dolar Singapura terus menunjukkan penguatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, menjadikannya mata uang dengan performa terbaik di kawasan ASEAN.
Pada perdagangan Rabu (18/3/2026), ringgit mencatatkan rekor baru dengan ditutup pada posisi MYR 0,32747/SGD, mencapai level tertingginya dalam hampir lima tahun terakhir. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 8 Maret 2021.
Meskipun pada Rabu (24/3/2026) pukul 15.40 WIB, ringgit sedikit melemah tipis sebesar 0,03%, tetap saja pergerakan mata uang ini dalam 12 bulan terakhir sangat mencolok, dengan apresiasi mencapai 6,94% terhadap dolar Singapura.
Penguatan ringgit ini tak lepas dari beberapa faktor yang menguntungkan, salah satunya adalah kenaikan harga energi global.
Sebagai eksportir neto energi, Malaysia berada dalam posisi yang lebih diuntungkan dibandingkan negara-negara ASEAN lain, termasuk Singapura yang bergantung pada impor energi.
Ketika harga energi naik, negara-negara pengimpor biasanya merasakan tekanan besar terhadap mata uang mereka karena meningkatnya biaya impor energi. Sementara itu, Malaysia bisa memanfaatkan kenaikan harga energi untuk mendongkrak nilai tukar ringgit.
Namun, bukan hanya sektor energi yang mendukung pergerakan ringgit. Faktor optimisme terhadap perekonomian Malaysia juga turut berperan.
Sejumlah perkembangan positif, seperti investasi asing yang masuk ke sektor kecerdasan buatan (AI), serta proyeksi pertumbuhan ekonomi Malaysia yang lebih baik dari perkiraan, memberikan dorongan tambahan bagi ringgit.
Keberhasilan dalam mengelola berbagai faktor eksternal dan internal ini telah memungkinkan ringgit menunjukkan performa yang solid di pasar global.
Dalam konteks ASEAN, pergerakan ringgit menunjukkan kinerja yang sangat baik. Selama 12 bulan terakhir, ringgit mengalami penguatan yang cukup signifikan terhadap hampir seluruh mata uang utama di kawasan tersebut.
Berdasarkan data penutupan Selasa (24/3/2026), penguatan terbesar tercatat terhadap peso Filipina yang mencapai 17,04%.
Selain itu, ringgit juga berhasil menguat sebesar 16,33% terhadap rupiah Indonesia, 15,26% terhadap dong Vietnam, 12,3% terhadap riel Kamboja, dan 11,72% terhadap kip Laos.
Bahkan, ringgit masih mampu menguat 7,39% terhadap baht Thailand dalam periode yang sama.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ringgit tidak hanya unggul terhadap dolar Singapura, tetapi juga menunjukkan daya saing yang tinggi dibandingkan dengan mata uang negara ASEAN lainnya.
Pada saat yang sama, dolar Singapura meskipun masih menguat terhadap sebagian besar mata uang ASEAN, tidak menunjukkan performa sekuat ringgit.
Sementara itu, meskipun dolar Singapura tetap tergolong kuat, penguatannya tidak sekuat ringgit.
Dolar Singapura tercatat menguat terhadap sebagian besar mata uang ASEAN, dengan penguatan terbesar tercatat terhadap peso Filipina sebesar 9,35%, rupiah Indonesia sebesar 7,67%, dong Vietnam 7,58%, riel Kamboja 4,93%, dan kip Laos 4,09%.
Namun, dolar Singapura justru tercatat melemah terhadap baht Thailand sebesar 0,91%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun dolar Singapura tetap menjadi mata uang yang kuat, penguatannya tidak sekuat ringgit Malaysia dalam setahun terakhir.
Secara keseluruhan, pergerakan ringgit Malaysia dalam satu tahun terakhir mencerminkan tren penguatan yang lebih luas dan kuat dibandingkan banyak mata uang lainnya di kawasan ASEAN.
Ini menandakan bahwa meskipun dolar Singapura tetap kokoh, ringgit memiliki potensi besar untuk terus menguat, bahkan jika dibandingkan dengan mata uang lainnya.
Keberhasilan Malaysia dalam memanfaatkan faktor-faktor global dan domestik, termasuk sektor energi dan teknologi, memberikan landasan yang kuat bagi ringgit untuk terus bersaing di pasar internasional.
Bagi Indonesia, penguatan ringgit ini menjadi pertanda penting bahwa tantangan dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah semakin nyata.
Sementara negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia menghadapi tekanan besar akibat kenaikan harga energi global, Malaysia justru mampu memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat mata uangnya.
Dengan keadaan ini, Indonesia harus lebih cermat dalam merumuskan kebijakan ekonomi dan moneter untuk menghadapi gejolak pasar global yang terus berkembang.