INBERITA.COM, Oslo menjadi pusat perhatian dunia saat puluhan ribu warga memadati setiap sudut jalan utama ibu kota Norwegia tersebut.
Mereka berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Raja Harald V yang mengakhiri masa hidupnya pada usia 89 tahun setelah bertakhta selama lebih dari tiga dekade.
Rangkaian prosesi pemakaman kenegaraan ini sekaligus menandai berakhirnya masa berkabung nasional selama 13 hari yang ditetapkan secara resmi oleh pemerintah. Dan seluruh penjuru negeri secara serentak mengheningkan cipta selama satu menit tepat ketika ritual pelepasan jenazah sang monarki dimulai.
Kepergian sosok pemimpin yang dikenal sangat bersahaja dan membawa banyak pembaruan ini dihadiri langsung oleh jajaran kepala negara serta kepala pemerintahan dari berbagai belahan dunia.
Kehadiran para pemimpin mancanegara tersebut menegaskan penghormatan internasional yang begitu besar terhadap kepemimpinan almarhum.
Jenazah Raja Harald V diusung anggun dengan memanfaatkan sebuah kereta artileri militer yang bergerak perlahan melintasi rute utama kota.
Panji merah kebesaran kerajaan Norwegia tampak menutupi peti tersebut bersama hiasan rangkaian bunga bunga putih segar di bagian atasnya sebagaimana dikutip dari laporan media.
Perjalanan penghormatan terakhir ini mengambil rute darat yang membentang langsung dari istana kerajaan menuju ke bangunan katedral kota.
Dentuman meriam penghormatan sebanyak 21 kali membahana dari Benteng Akershus untuk mengiringi pergerakan iring iringan jenazah di sepanjang jalan.
Raja Haakon VIII memimpin langsung barisan jalan kaki bersama para anggota keluarga kerajaan Norwegia lainnya untuk mengantar sang ayah. Dia melangkah tegak memikul tanggung jawab baru sebagai penguasa yang menggantikan posisi Harald setelah wafatnya sang raja bulan lalu pada tahun 2026.
Tapi Ratu Sonja yang kini berusia 89 tahun memilih mengikuti seluruh rangkaian perjalanan iring iringan tersebut dari dalam mobil. Dan pergerakan dengan kendaraan roda empat itu juga dilakukan bersama menantunya yaitu Ratu Mette-Marit.
Kondisi fisik Ratu Mette-Marit sendiri memang masih memerlukan perhatian khusus akibat proses pemulihan kesehatan yang sedang dijalaninya. Wanita tersebut diketahui baru saja selesai menjalani tindakan medis berupa transplantasi paru paru pada bulan Juni lalu.
Suasana haru kian terasa mendalam ketika Ketua Parlemen Norwegia Masud Gharahkhani menyampaikan pidato perpisahan resminya di hadapan para hadirin.
Dalam kesempatan tersebut Gharahkhani menyoroti kembali kerendahan hati serta kedekatan nyata antara almarhum monarki dengan seluruh lapisan masyarakatnya.
Beliau menyampaikan ingatan tentang bagaimana almarhum Raja Harald V tidak pernah sungkan turun langsung berada di tengah rakyat biasa.
Gharahkhani menegaskan bahwa almarhum sosok penguasa yang “tidak takut menemui rakyatnya dengan sepatu bot karetnya,” ujar Gharahkhani saat mengenang sang raja.
Penghormatan senada juga datang langsung dari Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre dalam uraian penyampaian belasungkawanya.
Støre menilai tinggi kemampuan mendiang raja yang selalu sanggup mempertahankan wibawa kepemimpinan kerajaan namun tetap bersikap sangat membumi.
Menurut pemaparan Støre kepemimpinan almarhum telah berhasil membawa dampak pemersatu yang luar biasa bagi seluruh warga negara.
Støre menyampaikan bahwa “Harald membuat Norwegia menjadi lebih besar. Dia berbicara tentang ‘kita’ di Norwegia, tempat semua orang ada untuk satu sama lain,” kata Støre.
Usai rangkaian ibadah keagamaan di dalam katedral selesai dilaksanakan atraksi udara militer disajikan sebagai bentuk penghormatan pamungkas. Empat unit pesawat jet tempur canggih jenis F-35 melintas terbang rendah tepat di atas area katedral tersebut.
Salah satu dari empat pesawat tempur tersebut kemudian secara khusus memisahkan diri dari formasi utama di angkasa. Aksi manuver udara memisah itu dihadirkan sebagai lambang visual puitis yang menggambarkan pelepasan dan kepergian selamanya sang raja.
Iring iringan peti jenazah Harald selanjutnya diarahkan menuju kawasan bersejarah Benteng Akershus untuk prosesi penutupan. Jasad sang raja dijadwalkan bakal disemayamkan secara permanen di dalam area ruang bawah tanah kerajaan melalui upacara yang bersifat tertutup.
Lokasi peristirahatan terakhir almarhum tersebut ditempatkan secara khusus agar berdampingan langsung dengan makam orang tua serta kakek neneknya.
Langkah ini menjaga tradisi pemakaman keluarga kekaisaran yang telah berlangsung secara turun temurun di kompleks benteng tersebut.
Pihak kepolisian negara secara resmi mengonfirmasi skala pengamanan luar biasa yang dikerahkan sepanjang rangkaian upacara pelepasan ini. Kepolisian Norwegia menyatakan pengamanan pemakaman Harald merupakan operasi terencana terbesar dalam sejarah kepolisian negara tersebut.
Antusiasme dan rasa duka warga memang terlihat sangat masif dalam kurun waktu beberapa hari menjelang acara puncak pemakaman kenegaraan ini.
Dalam sepekan terakhir tercatat lebih dari 46.000 warga datang berbondong bondong melintasi peti jenazah sang raja demi menyampaikan penghormatan terakhir.
Pemerintah bahkan mengambil kebijakan khusus terkait kegiatan persekolahan demi mengakomodasi keinginan masyarakat luas dalam peristiwa bersejarah ini. Anak anak sekolah secara resmi diperbolehkan tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar agar dapat menghadiri langsung momen perpisahan tersebut.
Momen perpisahan yang penuh keharuan ini sayangnya harus berlangsung di tengah hamparan krisis internal yang sedang membayangi keluarga kerajaan Norwegia. Berbagai isu miring dan skandal hukum belakangan ini terus menyita perhatian publik di negara Skandinavia tersebut.
Sosok Ratu Mette-Marit yang berusia 53 tahun mendapat kritik keras dari berbagai pihak termasuk ucapan langsung dari perdana menteri.
Gelombang kritik tersebut mengemuka akibat terungkapnya riwayat hubungannya dengan Jeffrey Epstein yang merupakan terpidana pelaku kejahatan seksual asal Amerika Serikat yang telah meninggal dunia.
Tidak berhenti di situ masalah hukum lain juga menjerat putra Mette-Marit dari hubungan terdahulunya yang bernama Marius Borg Høiby.
Høiby saat ini tengah menjalani status tahanan rumah serta diwajibkan mengenakan alat pemantau elektronik di pergelangan kaki sambil menunggu proses banding atas vonis pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Tapi pemuda yang sedang terjerat kasus pidana berat tersebut tetap diberikan izin resmi untuk hadir langsung dalam pemakaman raja. Bahkan Høiby bertugas sebagai salah satu pembawa peti jenazah saat pemindahan menuju kapel kerajaan di tengah pengawalan ketat.
Kehadiran Høiby dalam deretan pembawa peti jenazah tentu menjadi pemandangan unik di tengah situasi hukum yang sedang membelitnya. Dan hal ini menegaskan betapa kompleksnya dinamika internal yang dialami oleh keluarga kekaisaran pada masa transisi kekuasaan ini.
Meskipun sejumlah skandal besar bertubi tubi menyeruak ke permukaan publik dukungan warga terhadap eksistensi monarki terbukti tetap kokoh.
Berdasarkan data hasil jajak pendapat terbaru yang digelar untuk lembaga penyiaran publik mayoritas warga masih menghendaki keberadaan sistem kerajaan ini.
Angka persentase menunjukkan sebanyak 72 persen warga Norwegia menyatakan masih tetap mendukung keberlanjutan sistem monarki di negara mereka. Dan tercatat hanya 20 persen masyarakat lainnya yang memilih bentuk pemerintahan republik atau bentuk pemerintahan lain.