Puan Terima Wakil PM Bulgaria, Bahas Investasi, Pendidikan, dan Pariwisata

INBERITA.COM, Hubungan Indonesia dan Bulgaria memasuki babak yang dinilai semakin strategis. Di tengah perubahan peta ekonomi dan geopolitik global, kedua negara tidak hanya memiliki kepentingan untuk memperluas perdagangan, tetapi juga membuka ruang kerja sama yang lebih dekat di bidang pendidikan, budaya, olahraga, pariwisata, hingga investasi.

Hal itu menjadi salah satu pokok pembicaraan ketika Ketua DPR RI Puan Maharani menerima kunjungan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Ekonomi, Investasi, dan Industri Bulgaria Alexander Poulev di Gedung Nusantara, Kompleks DPR RI, Jakarta, Senin (14/9/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Puan menilai Bulgaria memiliki posisi penting bagi Indonesia, terutama karena perannya di kawasan Balkan dan Eropa.

Ia melihat hubungan bilateral yang telah berjalan selama puluhan tahun perlu diterjemahkan ke dalam kerja sama yang lebih konkret dan memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara.

“Selamat datang di Jakarta, dan selamat datang di Gedung DPR RI, bangunan bersejarah dengan nilai yang sangat penting bagi Indonesia,” kata Puan.

Puan juga mengingatkan kembali kedekatan historis kedua negara. Bulgaria termasuk salah satu negara Eropa yang disebut paling awal mengakui kemerdekaan Indonesia.

Hubungan tersebut kemudian memperoleh momentum penting ketika Presiden Soekarno melakukan kunjungan ke Bulgaria pada 1961.

Bagi Puan, sejarah tersebut bukan sekadar catatan diplomatik. Hubungan yang sudah terbentuk sejak masa awal kemerdekaan dapat menjadi modal untuk memperluas kemitraan pada masa kini, ketika Indonesia dan Bulgaria sama-sama menghadapi tantangan ekonomi serta dinamika internasional yang berubah cepat.

“Presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno, mengunjungi Bulgaria di tahun 1961 sebagai komitmen persahabatan kedua negara,” tutur Puan.

Ada pula jejak hubungan kedua negara yang menarik perhatian, yakni Bulgarian Rose atau mawar Bulgaria yang dibawa pulang dari lawatan tersebut.

Tanaman yang dikenal memiliki aroma khas itu kemudian dibudidayakan di Indonesia dan dimanfaatkan sebagai bahan baku parfum serta minyak atsiri.

“Beliau membawa pulang Bulgarian Rose yang sampai sekarang masih dibudidayakan di Indonesia sebagai bahan baku pembuatan parfum dan minyak atsiri,” jelas Puan.

Menurut Puan, kedekatan historis tersebut seharusnya dapat berkembang menjadi kemitraan yang lebih relevan dengan kebutuhan saat ini.

Ia menyebut Indonesia memandang Bulgaria sebagai mitra penting di kawasan Balkan dan Eropa, dengan demokrasi serta komitmen terhadap tatanan internasional sebagai salah satu fondasi hubungan kedua negara.

“Yang Mulia, Indonesia memandang Bulgaria sebagai mitra penting di Kawasan Balkan dan Eropa,” ucap Puan.

Pandangan itu menjadi semakin relevan di tengah situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian. Puan menilai negara-negara perlu memperkuat kerja sama dan menghindari pendekatan yang semata-mata menempatkan kepentingan nasional dalam persaingan yang merugikan pihak lain.

“Di tengah dinamika geopolitik dan ketidakpastian global, nilai-nilai ini menjadi pegangan untuk kita saling menghargai dan mengedepankan kerja sama,” sebutnya.

Dari sisi ekonomi, peluang penguatan hubungan Indonesia-Bulgaria juga terbuka cukup lebar. Kedua negara saat ini sama-sama menjalani proses aksesi untuk menjadi anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD).

Situasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperdalam pertukaran pengalaman, khususnya mengenai reformasi kebijakan, harmonisasi regulasi, serta tata kelola ekonomi dan investasi.

“Dalam konteks tersebut, kedua parlemen dapat bertukar pengalaman mengenai proses reformasi kebijakan, harmonisasi regulasi, serta penguatan tata kelola ekonomi dan investasi,” ungkap Puan.

Kerja sama ekonomi tidak berhenti pada forum kebijakan. Puan melihat perkembangan perdagangan bilateral yang terus menunjukkan kemajuan perlu diikuti dengan peningkatan volume dan diversifikasi komoditas.

Dengan demikian, hubungan dagang tidak hanya bergantung pada sejumlah produk tertentu, tetapi memiliki basis yang lebih luas.

Salah satu peluang yang disoroti adalah keberadaan pelabuhan Varna dan Burgas di Bulgaria. Kedua pelabuhan tersebut dinilai dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari jalur masuk produk Indonesia menuju pasar Eropa.

Pada saat yang sama, Indonesia ingin membuka kesempatan bagi perusahaan Bulgaria yang tertarik menjadikan Indonesia sebagai basis investasi untuk menjangkau pasar ASEAN.

“Kami juga berharap semakin banyak perusahaan Bulgaria yang melihat Indonesia sebagai basis investasi untuk pasar ASEAN dan kawasan,” ujar Puan.

Peluang tersebut berpotensi semakin besar apabila proses perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau Indonesia-EU CEPA dapat memberikan kerangka perdagangan yang lebih kuat.

Dalam konteks ini, Bulgaria diharapkan ikut mengambil peran dalam memaksimalkan peluang ekonomi yang terbuka melalui hubungan Indonesia dengan Uni Eropa.

“Kami harap Bulgaria menjadi mitra penting Indonesia dalam memanfaatkan secara maksimal kesepakatan Indonesia-EU CEPA,” lanjut Puan.

DPR RI, kata Puan, juga siap memberikan dukungan dari sisi parlemen. Penguatan regulasi dan diplomasi parlemen dinilai penting untuk membangun iklim usaha yang lebih kondusif, sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku bisnis dari kedua negara.

“DPR RI berkomitmen memberikan dukungan parlemen melalui penguatan regulasi dan diplomasi parlemen untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi peningkatan perdagangan dan investasi kedua negara,” sambungnya.

Namun, Puan tidak ingin hubungan bilateral hanya diukur dari nilai perdagangan atau jumlah investasi. Menurut dia, hubungan antarnegara akan lebih kokoh jika terdapat interaksi langsung di tingkat masyarakat.

Karena itu, pendidikan, pertukaran budaya, pariwisata, dan ketenagakerjaan turut menjadi perhatian.

Puan secara khusus mengapresiasi pengenalan Bahasa Indonesia di University of Sofia serta keberadaan Indonesian Permanent Heritage Collection di Galeri Nasional Bulgaria sejak 2019.

“Saya mengapresiasi upaya untuk memperkenalkan dan mengajarkan Bahasa Indonesia di University of Sofia. Saya juga mengapresiasi pendirian Indonesian Permanent Heritage Collection di Galeri Nasional Bulgaria sejak 2019,” katanya.

Pendidikan dapat menjadi jalur penting untuk memperkuat hubungan jangka panjang karena menciptakan interaksi langsung antara generasi muda kedua negara.

Hal serupa berlaku untuk pertukaran budaya dan pariwisata yang memungkinkan masyarakat mengenal Indonesia dan Bulgaria tidak hanya melalui hubungan diplomatik, tetapi juga melalui pengalaman secara langsung.

Puan menilai konektivitas menjadi salah satu faktor yang tidak bisa diabaikan. Semakin mudah masyarakat kedua negara melakukan perjalanan, semakin besar pula peluang pertukaran pelajar, kunjungan wisatawan, kegiatan budaya, hingga hubungan bisnis.

“Karena itu, promosi pariwisata dan peningkatan konektivitas udara perlu menjadi bagian dari agenda bersama untuk lebih membuka ruang perjumpaan langsung antara masyarakat Indonesia dan Bulgaria,” terangnya.

Selain pendidikan dan pariwisata, kerja sama olahraga juga menjadi bagian dari dorongan penguatan hubungan antarmasyarakat. Bidang tersebut memiliki karakter yang relatif dekat dengan publik dan dapat menjadi sarana diplomasi yang menjangkau kelompok muda.

Pertemuan Puan dan Alexander Poulev sekaligus berlangsung dalam konteks perjalanan hubungan diplomatik Indonesia-Bulgaria yang telah memasuki sekitar tujuh dekade.

Durasi hubungan yang panjang tersebut memberikan fondasi historis, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan hubungan tersebut menghasilkan kerja sama yang lebih nyata.

Puan pun kembali menggunakan kisah Bulgarian Rose sebagai simbol persahabatan kedua negara. Bagi dia, tanaman yang pernah dibawa pulang dari Bulgaria oleh Soekarno itu menjadi pengingat bahwa hubungan Indonesia dan Bulgaria memiliki akar sejarah yang panjang sekaligus dapat terus tumbuh dalam bentuk baru.

“Seindah dan seharum Bulgarian Rose yang dibawa oleh Bung Karno dari Bulgaria, seindah itu juga persahabatan yang terjalin antara Indonesia dan Bulgaria. Sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih atas kunjungan Yang Mulia ke Indonesia,” pungkas Puan.