Presiden Iran Masoud Pezeshkian Serukan Persatuan Negara-Negara Islam, Israel Tak Akan Berani Menyerang

INBERITA.COM, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan persatuan negara-negara Islam untuk menghadapi ancaman eksternal yang dinilai terus mengganggu stabilitas kawasan.

Dalam pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa solidaritas di antara negara Muslim menjadi faktor penting agar Israel tidak leluasa melakukan tindakan militer terhadap negara-negara Islam.

Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian saat menerima kunjungan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi di Teheran pada Minggu (17/5/2026).

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya tensi politik dan keamanan di kawasan, termasuk hubungan Iran dengan Israel serta keterlibatan Amerika Serikat dalam sejumlah dinamika regional.

Menurut Pezeshkian, negara-negara besar di dunia Islam memiliki tanggung jawab untuk membangun perdamaian dan menciptakan stabilitas jangka panjang.

Ia menilai hubungan yang lebih erat antarsesama negara Muslim dapat menjadi fondasi penting dalam menghadapi tekanan geopolitik maupun konflik yang berkepanjangan.

“Jika ada persatuan dan konvergensi Islam, rezim Israel tidak akan pernah berani menyerang dan menginvasi negara-negara Islam,” ujar Pezeshkian seperti dikutip laporan media pada Senin (18/5/2026).

Seruan tersebut memperlihatkan bagaimana Iran kembali menempatkan isu solidaritas umat Islam sebagai bagian dari strategi diplomasi regionalnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, Teheran berupaya memperkuat hubungan dengan sejumlah negara Muslim, terutama di kawasan Teluk Persia, meski hubungan politik di kawasan kerap dibayangi rivalitas dan perbedaan kepentingan.

Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran ingin membangun hubungan yang “tulus” dengan negara-negara Islam. Menurut dia, kerja sama antarnegara Muslim diperlukan untuk mencegah konflik yang lebih luas dan mengurangi ketergantungan terhadap kekuatan luar kawasan.

Namun dalam kesempatan yang sama, ia menuding Amerika Serikat dan Israel selama ini berupaya memecah belah negara-negara Islam.

Upaya tersebut, kata dia, dilakukan melalui berbagai proyek politik maupun kebijakan yang menimbulkan ketidakpercayaan di antara negara Muslim.

Pernyataan itu muncul di tengah situasi regional yang masih dipenuhi ketidakpastian.

Konflik berkepanjangan di Gaza, ketegangan di Laut Merah, hingga persaingan pengaruh antara Iran dan negara-negara sekutunya dengan blok Barat membuat Timur Tengah tetap menjadi salah satu kawasan paling rawan konflik di dunia.

Selain menyoroti isu persatuan dunia Islam, Pezeshkian juga mengecam serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip kemanusiaan dan hukum internasional.

Dalam pernyataannya, Presiden Iran menggambarkan serangan tersebut sebagai “kejahatan besar” yang tidak sejalan dengan standar internasional. Ia juga menyinggung jatuhnya korban jiwa, termasuk kalangan militer dan warga sipil.

Pezeshkian bahkan menyebut gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah komandan militer, dan ribuan warga sipil dalam konflik yang terjadi. Meski demikian, ia menilai tekanan militer yang dilakukan terhadap Iran tidak berhasil mencapai tujuan politik yang diinginkan pihak lawan.

“Mereka tidak pernah membayangkan rakyat Iran akan berdiri bersama negaranya dengan persatuan dan loyalitas sebesar ini,” kata Pezeshkian.

Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana pemerintah Iran berupaya membangun narasi ketahanan nasional di tengah tekanan internasional.

Solidaritas domestik sering kali dijadikan simbol kekuatan politik Iran ketika menghadapi sanksi ekonomi, ancaman militer, maupun tekanan diplomatik dari negara Barat.

Pengamat menilai seruan persatuan dunia Islam yang disampaikan Teheran bukan hanya berkaitan dengan isu ideologis, tetapi juga bagian dari strategi geopolitik Iran untuk memperkuat posisi regionalnya.

Dengan membangun kedekatan bersama negara-negara Muslim, Iran berupaya memperluas pengaruh sekaligus mengurangi isolasi politik yang selama ini dihadapi.

Di sisi lain, respons negara-negara Muslim terhadap seruan tersebut diperkirakan akan beragam. Sejumlah negara memiliki hubungan diplomatik dan kerja sama ekonomi dengan Barat maupun Israel, sehingga posisi mereka terhadap konflik regional sering kali lebih berhati-hati.

Pakistan sendiri selama ini dikenal memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Iran dalam beberapa isu regional, meski keduanya juga menghadapi tantangan keamanan di wilayah perbatasan.

Pertemuan antara Pezeshkian dan Mohsin Naqvi dinilai menjadi sinyal penting bahwa komunikasi politik antarnegara Muslim masih terus berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Situasi di Timur Tengah diperkirakan masih akan berkembang dinamis dalam beberapa waktu ke depan.

Ketegangan antara Iran dan Israel, ditambah keterlibatan Amerika Serikat, berpotensi memicu dampak lebih luas terhadap keamanan regional, perdagangan energi global, hingga stabilitas politik internasional.

Dalam konteks itu, seruan persatuan yang disampaikan Iran menjadi bagian dari upaya membangun pengaruh politik sekaligus memperkuat posisi diplomatik di tengah persaingan geopolitik yang semakin kompleks.