INBERITA.COM, Prajurit Kepala (Praka) Farizal Rhomadhon, anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga) TNI dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), menjadi korban dalam serangan artileri yang dilakukan oleh pasukan Israel di Lebanon Selatan pada Minggu malam, 29 Maret 2026.
Farizal, yang bertugas sebagai bagian dari Kompi C United Nations Position (UNP) 7-1 di Desa Adchit Al Qusayr, gugur dalam serangan tersebut, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, rekan-rekan sesama prajurit, dan bangsa Indonesia.
Tragedi yang merenggut nyawa Farizal terjadi sekitar pukul 20.44 waktu Lebanon, atau pukul 01.40 WIB, saat pasukan Indonesia di Indobatt UNP 7-1, yang berlokasi di desa tersebut, terkena serangan artileri tidak langsung dari Israel Defense Forces (IDF).
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan dan eskalasi konflik yang semakin memanas di wilayah tersebut.
Keempat prajurit TNI yang terlibat dalam insiden ini adalah Praka Farizal Rhomadhon, Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan.
Dari empat prajurit tersebut, Praka Farizal adalah satu-satunya yang dinyatakan gugur dalam serangan tersebut.
Kabar duka ini disampaikan oleh Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah dalam keterangannya pada Senin, 30 Maret 2026.
Praka Farizal Rhomadhon adalah prajurit yang lahir di Kulon Progo, Yogyakarta pada 3 Januari 1998.
Di usia yang masih muda, 28 tahun, Farizal telah menorehkan berbagai prestasi dan penghargaan atas pengabdiannya.
Sebagai anggota Yonif 113/JS Brigif 25/Siwah Kodam Iskandar Muda, Farizal merupakan sosok yang tidak hanya berdedikasi tinggi pada negara, tetapi juga dikenal sebagai prajurit yang penuh semangat dalam menjalankan tugas.
Selama kariernya, Farizal menerima beberapa penghargaan, di antaranya Satyalancana Dharma Nusa dan Satyalancana Kesetiaan VIII Tahun. Penghargaan-penghargaan tersebut menjadi bukti atas dedikasinya selama bertugas.
Namun, perjalanan hidup dan kariernya harus terhenti dengan tragis di medan tugas, meninggalkan banyak kenangan bagi keluarga, rekan sesama prajurit, dan seluruh bangsa Indonesia.
Farizal meninggalkan seorang istri yang setia dan seorang putri kecil yang baru berusia dua tahun. Kehilangan ini tentu sangat mendalam bagi keluarga yang harus merelakan sang suami dan ayah untuk terus berjuang demi negara.
Rumah dinas keluarga Farizal terletak di Bireuen, Aceh, di mana sang istri dan anaknya kini harus menjalani kehidupan tanpa kehadiran sosok kepala keluarga yang telah gugur di medan perang.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI), Yvonne Mewengkang, telah mengonfirmasi berita duka ini dan menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya Farizal.
“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya satu personel pemelihara perdamaian Indonesia,” ungkap Yvonne dalam keterangan resmi.
Indonesia juga mengecam keras serangan tersebut dan menuntut penyelidikan yang transparan, karena pasukan PBB yang menjalankan misi perdamaian seharusnya dilindungi sesuai dengan hukum internasional.
Pemerintah RI berkomitmen untuk memberikan penghormatan terbaik bagi Farizal dan memastikan bahwa hak-hak keluarga yang ditinggalkan akan dipenuhi dengan sebaik-baiknya.
Menurut Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, jenazah Praka Farizal kini disemayamkan di East Sector Headquarters (HQ) di Lebanon dan sedang dalam proses administrasi untuk pemulangan ke Indonesia.
Proses pemulangan jenazah ini akan dibantu oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut.
Pemerintah Indonesia juga telah menjamin bahwa semua hak keluarga Farizal akan dipenuhi.
Sejumlah langkah telah diambil untuk memastikan keluarga Farizal menerima penghormatan yang layak, serta mendapatkan dukungan penuh dalam menghadapi kehilangan besar ini.
Praka Farizal Rhomadhon adalah contoh nyata dari pengabdian tanpa pamrih kepada negara, bahkan hingga mengorbankan nyawanya demi menjalankan misi perdamaian dunia yang diamanahkan oleh PBB.
Meski usia yang masih muda, Farizal sudah menunjukkan ketangguhan dan dedikasinya dalam menjaga perdamaian di Lebanon yang tengah bergolak.
Di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas, tindakan Farizal dan rekan-rekannya di misi UNIFIL mencerminkan semangat juang yang tinggi untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di wilayah yang penuh tantangan.
Meskipun tragis, pengorbanan Farizal adalah bukti nyata betapa pentingnya peran pasukan perdamaian internasional dalam upaya mengatasi ketegangan global.
Prajurit Farizal Rhomadhon akan selalu dikenang sebagai pahlawan yang mengorbankan hidupnya untuk negara dan dunia. Keluarganya, bangsa Indonesia, dan seluruh dunia perdamaian menghormati dedikasinya.
Semoga perjuangan Farizal menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya untuk selalu berani berkorban demi perdamaian dan keamanan global.