INBERITA.COM, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr, satu-satunya fasilitas nuklir sipil operasional Iran, kembali menjadi sasaran serangan udara yang diduga dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (4/4/2026).
Serangan ini mengakibatkan tewasnya seorang petugas keamanan dan memaksa Rusia untuk mengevakuasi 198 karyawan dari Rosatom, perusahaan nuklir asal Rusia yang terlibat dalam pengelolaan fasilitas tersebut.
Fasilitas yang terletak di luar kota selatan Bushehr ini, telah lama menjadi pusat ketegangan internasional.
Pembangunan PLTN Bushehr dimulai pada tahun 1975, saat pemerintahan Shah Iran mengadakan kesepakatan dengan perusahaan Jerman, Siemens, untuk membangun reaktor nuklir ini.
Namun, proyek tersebut terhenti setelah Revolusi Islam 1979 dan Perang Iran-Irak (1980-1988).
Meskipun Iran adalah salah satu produsen utama minyak dan gas dunia, negara ini berupaya untuk mendiversifikasi sumber energi mereka, terutama untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Pada akhir 1980-an, Iran kembali mencoba melanjutkan proyek tersebut. Namun, kekhawatiran mengenai proliferasi nuklir membuat pemerintah Jerman menarik diri, dan Iran akhirnya beralih kepada Rusia untuk melanjutkan pembangunan.
Pada Januari 1995, Rusia mengambil alih proyek ini dengan rencana menyelesaikan pembangkit nuklir tersebut pada tahun 1999.
Namun, karena berbagai masalah teknis dan keuangan, proyek ini mengalami penundaan selama lebih dari satu dekade. Pada akhirnya, fasilitas ini diserahkan secara resmi kepada Iran pada September 2013, meskipun dengan sejumlah masalah yang terus berlanjut.
Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat telah berusaha untuk menghentikan penyelesaian proyek ini, khawatir bahwa fasilitas tersebut bisa digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir.
Rusia kemudian menyelesaikan pembangunan dengan kesepakatan untuk memasok bahan bakar ke Iran, yang kemudian akan dikembalikan ke Rusia untuk mengurangi potensi penyalahgunaan.
Meskipun PLTN Bushehr dirancang untuk tujuan sipil murni, ketegangan internasional tetap tinggi, terutama dengan laporan yang mengungkapkan bahwa Iran telah mengembangkan pengayaan uranium hingga 60 persen, angka yang jauh melebihi kebutuhan untuk penggunaan sipil.
Serangan terbaru terhadap fasilitas ini menambah panjang daftar insiden yang melibatkan PLTN Bushehr.
Hal ini menambah kekhawatiran akan potensi risiko radiasi yang bisa membahayakan tidak hanya Iran, tetapi juga negara-negara Teluk yang terletak dekat dengan fasilitas tersebut.
Meski demikian, hingga saat ini, Iran terus membela proyek ini sebagai bagian dari upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan energi domestik, dan PLTN Bushehr tetap menjadi simbol ketegangan internasional antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dengan serangan-serangan ini yang terus terjadi, bahaya radiasi dari PLTN Bushehr semakin nyata, meningkatkan kecemasan di kawasan Teluk mengenai potensi bencana nuklir.
Ke depannya, ketegangan terkait dengan pengembangan nuklir di kawasan ini diprediksi akan terus berlanjut, dengan negara-negara besar terus memainkan peran mereka dalam mengawasi dan mengintervensi proyek-proyek nuklir Iran.