INBERITA.COM, Presiden Paul Biya kembali memperpanjang kekuasaannya di Kamerun setelah secara resmi dinyatakan menang dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2025.
Pada usia 92 tahun, Biya memastikan diri menjabat untuk periode kedelapan, yang berarti ia akan tetap berkuasa hingga tahun 2032 — atau ketika usianya mendekati 99 tahun.
Hasil resmi ini diumumkan oleh Dewan Konstitusi Kamerun yang menyebut Biya meraih 53,7 persen suara, mengalahkan lawan utamanya, Issa Tchiroma Bakery, yang memperoleh 35,2 persen. Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Dewan Konstitusi Clement Atangana pada Senin (27/10/2025).
“Dengan ini menyatakan presiden terpilih: kandidat Biya Paul,” ujar Atangana seperti dikutip dari CNN.
Kemenangan Biya ini menegaskan kembali cengkeramannya atas kekuasaan di Kamerun, negara yang telah ia pimpin selama lebih dari empat dekade.
Sejak pertama kali naik ke tampuk kekuasaan pada 1982, Biya menjadi salah satu pemimpin dengan masa jabatan terpanjang di dunia, sekaligus kepala negara tertua yang masih menjabat secara aktif.
Namun kemenangan Biya tidak lepas dari kontroversi. Dua hari setelah pemungutan suara yang digelar pada 12 Oktober, Issa Tchiroma Bakery sempat mengklaim bahwa dirinya memenangkan pilpres dengan perolehan suara 54 persen.
Biya dengan tegas menolak klaim tersebut dan menyatakan bahwa hasil resmi pemilu sah dan tidak dapat diganggu gugat.
Ketegangan politik pun meningkat tajam. Tchiroma menyerukan kepada para pendukungnya untuk turun ke jalan dan “mempertahankan kemenangan” yang ia klaim milikinya.
Seruan itu memicu unjuk rasa besar-besaran di sejumlah wilayah utama, terutama di ibu kota Yaoundé dan Douala.
Namun, protes damai itu berubah menjadi bentrokan berdarah. Pasukan keamanan dilaporkan menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan, bahkan menurut beberapa saksi mata, mereka juga menggunakan peluru tajam untuk menghalau massa.
Seorang demonstran yang ditemui AFP mengatakan bahwa aparat “menembakkan gas air mata dan peluru ke arah kami tanpa peringatan”.
Akibat kekerasan tersebut, empat orang dilaporkan tewas, sementara sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Situasi keamanan di beberapa kota utama Kamerun pun dikabarkan mencekam setelah bentrokan tersebut.
Kemenangan Biya ini memperpanjang daftar panjang kekuasaannya yang penuh kontroversi. Ia telah memimpin Kamerun sejak 1982, menggantikan Ahmadou Ahidjo, presiden pertama negara itu setelah merdeka dari Prancis pada 1960.
Selama empat dekade kekuasaannya, Biya dikenal sebagai pemimpin yang memerintah dengan tangan besi, menekan oposisi, dan mengontrol ketat media serta kebebasan sipil.
Pada tahun 2008, Biya melakukan amandemen konstitusi yang menghapus batasan masa jabatan presiden. Langkah tersebut dianggap sebagai cara untuk membuka jalan bagi kekuasaan tanpa batas waktu.
Sejak saat itu, ia terus mencalonkan diri dalam setiap pemilu dan selalu menang — meskipun berbagai pihak, termasuk pengamat internasional, meragukan integritas proses demokrasi di Kamerun.
Selama masa pemerintahannya, Biya menghadapi berbagai persoalan serius di dalam negeri. Korupsi meluas di berbagai sektor pemerintahan, sementara konflik bersenjata antara pasukan pemerintah dan kelompok separatis di wilayah barat negara itu semakin memperparah kondisi keamanan nasional.
Kelompok separatis di wilayah berbahasa Inggris menuntut kemerdekaan, dan pemerintah merespons dengan tindakan militer yang keras, menimbulkan banyak korban sipil.
Meskipun situasi politik dan sosial di Kamerun kerap bergejolak, Biya tetap mempertahankan kekuasaannya dengan dukungan kuat dari militer dan elite politik yang loyal.
Ia jarang tampil di depan publik dan lebih sering mengatur pemerintahan dari kediamannya di luar negeri, terutama di Swiss, yang menjadi sorotan kritik dari warganya sendiri.
Kritik terhadap Biya juga datang dari berbagai lembaga hak asasi manusia internasional yang menilai pemerintahannya sarat dengan pelanggaran hak sipil dan represi politik.
Namun bagi sebagian pendukungnya, Biya dianggap sebagai sosok yang mampu menjaga stabilitas negara di tengah gejolak kawasan Afrika Tengah.
Dengan kemenangan ini, Paul Biya resmi memperpanjang masa jabatannya hingga 2032. Jika tetap menjabat hingga akhir periode, ia akan berusia 99 tahun, menjadikannya salah satu pemimpin tertua dalam sejarah politik modern yang masih aktif memegang kekuasaan.
Para pengamat menilai, kemenangan Biya bukan sekadar kemenangan politik, melainkan cerminan dari sistem kekuasaan yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
Di sisi lain, kondisi sosial dan ekonomi Kamerun masih menghadapi tantangan berat — dari ketimpangan ekonomi, korupsi, hingga ancaman konflik bersenjata yang belum mereda.
Meski demikian, bagi sebagian masyarakat Kamerun, masa depan negara ini tampak semakin sulit berubah selama Paul Biya masih berada di kursi kepresidenan.
“Kami sudah hidup di bawah kepemimpinan yang sama selama lebih dari 40 tahun. Kami butuh perubahan, tapi sepertinya perubahan itu tidak akan datang,” ujar seorang warga Yaoundé yang enggan disebut namanya kepada AFP.
Dengan begitu, kemenangan kedelapan Biya menandai babak baru — atau mungkin perpanjangan dari bab lama — dalam sejarah politik Kamerun. (*xpr)