INBERITA.COM, Suderajat (49), penjual es gabus keliling dari Desa Rawa Panjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sempat menjadi pusat perhatian publik setelah videonya viral.
Pada awalnya, ia menuai simpati karena dituduh menjual es gabus yang terbuat dari bahan spons berbahaya. Tuduhan tersebut muncul setelah dua aparat melakukan interogasi terhadapnya, dengan dugaan bahwa es gabus yang dijualnya mengandung bahan berbahaya.
Namun, hasil uji laboratorium kemudian membuktikan bahwa es gabus yang dijual Suderajat aman untuk dikonsumsi.
Keputusan untuk menyeret Suderajat ke dalam perdebatan publik tersebut sempat mengundang simpati dari banyak orang.
Namun, simpati itu berubah seiring berkembangnya informasi baru yang merujuk pada klaim-klaim Suderajat yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kini, pria asal Bojonggede ini justru menghadapi cemoohan dari publik yang sebelumnya memberikan dukungan.
Meskipun telah dibuktikan bahwa tuduhan tentang bahan berbahaya pada es gabusnya tidak benar, Suderajat kini terjebak dalam kontroversi yang lebih besar terkait dengan kehidupannya.
Setelah bertemu dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, Suderajat mengungkapkan bahwa ia tinggal di sebuah rumah kontrakan dan menunggak pembayaran sewa selama empat bulan. Namun, Camat Bojonggede, Tenny Ramdhani, memberikan klarifikasi yang berbeda.
“Ternyata, rumah Suderajat sedang dalam perbaikan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu). Dia bukan tidak memiliki rumah, tetapi rumahnya sedang direhabilitasi oleh Pemkab Bogor,” kata Tenny dalam wawancara dengan awak media pada 30 Januari 2026.
Rumah Suderajat memang mengalami kerusakan parah dan sudah dimulai proses perbaikannya pada Desember 2025. Sayangnya, rumah tersebut juga sempat roboh akibat bencana hujan dan angin kencang awal tahun 2026.
Kejadian ini membuat Suderajat bersama keluarganya terpaksa tinggal di kontrakan sementara. Namun, informasi yang beredar di media sosial menyimpang dan menyebabkan publik menilai Suderajat sebagai seorang pembohong.
Sementara itu, informasi yang lebih mendalam mengenai kondisi mental Suderajat juga ikut menyumbang pada berkembangnya polemik ini. Hasil asesmen lintas instansi menunjukkan bahwa baik Suderajat maupun istrinya menunjukkan indikasi disabilitas mental.
Tenny Ramdhani menjelaskan bahwa kondisi tersebut diduga berkaitan dengan gangguan mental pascatrauma yang diakibatkan oleh peristiwa fitnah dan penganiayaan yang dialami Suderajat sebelumnya.
“Kedua pasangan ini mengalami keterbatasan dalam komunikasi verbal, dan hal ini semakin diperburuk dengan tekanan sosial dan trauma yang mereka alami,” terang Tenny.
Ketua RT dan RW setempat juga memberikan keterangan yang mengarah pada kesimpulan serupa.
“Kami melihat adanya keterbelakangan psikologis dan mental pada Suderajat yang sudah ada sebelumnya dan semakin parah setelah dia difitnah,” ungkap Ketua RW.
Dengan kondisi mental yang tidak stabil, beberapa tindakan Suderajat dianggap sebagai bentuk kebingungannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari media atau pihak yang mencoba mengklarifikasi kondisinya.
Selain masalah tempat tinggal, Suderajat juga mendapat sorotan terkait dengan bantuan yang diterimanya. Setelah video jualan es gabusnya viral, ia sempat mengaku kepada Dedi Mulyadi bahwa dirinya belum menerima bantuan apapun dari orang-orang.
“Saya belum dapat bantuan apapun setelah video saya viral,” ujar Suderajat dalam tayangan YouTube yang diunggah pada 28 Januari 2026.
Namun, kenyataannya, Suderajat sudah menerima berbagai bantuan yang cukup besar dari sejumlah pihak, mulai dari sepeda motor, modal usaha, hingga sejumlah bantuan uang tunai.
Dedi Mulyadi, yang saat itu bertanya mengenai bantuan yang diterima Suderajat, sangat menyayangkan sikap tersebut.
“Babe (Suderajat) bohong, banyak orang yang sudah membantu, mulai dari motor hingga bantuan uang tunai,” kata Dedi.
Dalam sebuah klarifikasi lebih lanjut, terungkap bahwa bantuan yang diterima Suderajat mencapai lebih dari Rp 110 juta. Bantuan tersebut termasuk bantuan rumah dari program Rutilahu senilai Rp18 juta, uang tunai dari sejumlah individu, serta hadiah umrah untuk dirinya dan istrinya.
Tidak hanya itu, klaim Suderajat tentang biaya pendidikan anaknya juga dipertanyakan. Ketika bertemu dengan Dedi Mulyadi, Suderajat mengatakan bahwa ia memiliki tunggakan biaya sekolah anak sebesar Rp 1,5 juta. Namun, setelah ditanya lebih lanjut, ternyata tunggakan tersebut hanya sebesar Rp 200 ribu per bulan.
“Sekolah negeri sudah digratiskan, jadi tidak ada alasan untuk mengaku tidak mampu membayar,” jelas Dedi, yang juga mengungkapkan bahwa anak-anak Suderajat ternyata bersekolah di sekolah swasta, bukan sekolah negeri.
Suderajat juga mengaku mengontrak rumah dengan biaya sewa Rp800 ribu per bulan dan terpaksa menunggak selama empat bulan. Namun, Ketua RW setempat menegaskan bahwa Suderajat tidak mengontrak rumah.
“Suderajat sudah tinggal di rumah milik orang tuanya selama lebih dari 19 tahun. Rumah tersebut juga sudah mendapatkan bantuan renovasi dari program Rutilahu,” kata Ketua RW, yang membongkar kebohongan Suderajat mengenai tempat tinggalnya.
Bantuan yang diterima Suderajat tidak hanya berupa uang tunai, tetapi juga berbagai jenis bantuan lainnya.
Beberapa bantuan yang ia terima termasuk uang tunai senilai Rp 15 juta dari Dedi Mulyadi, motor dari Kapolres Metro Depok, sembako dan uang tunai dari sejumlah organisasi sosial, hingga bantuan umrah untuk Suderajat dan istrinya.
Bantuan total yang diterima Suderajat lebih dari Rp 110 juta, termasuk bantuan renovasi rumah senilai Rp 18 juta dari Pemkab Bogor.
Dengan bantuan yang cukup besar ini, banyak yang merasa kecewa atas pengakuan Suderajat yang tidak jujur mengenai kondisinya. Bahkan, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Suderajat tidak lagi bisa mengaku tidak memiliki uang, mengingat banyak pihak yang telah membantunya.
Kasus Suderajat adalah contoh klasik tentang bagaimana simpati publik bisa dengan cepat berubah menjadi cemoohan.
Awalnya, banyak yang merasa kasihan kepada Suderajat setelah tuduhan yang diarahkan padanya, namun setelah informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan muncul, banyak yang mulai mempertanyakan kejujuran dan sikapnya.
Dengan banyaknya bantuan yang diterima, serta pernyataan-pernyataan yang tidak konsisten, Suderajat kini berada di tengah sorotan tajam publik.
Polemik ini mengingatkan kita tentang pentingnya transparansi dan kejujuran, terutama ketika menerima bantuan dari masyarakat.
Sebagai masyarakat yang peduli, kita tentu berharap agar bantuan yang diberikan bisa benar-benar sampai pada mereka yang membutuhkan, bukan pada mereka yang tidak jujur dalam mengungkapkan keadaan mereka.