Mojtaba Khamenei Dikabarkan Cacat Berat Akibat Serangan AS-Israel, Wajah Harus Operasi Plastik, Kaki Diamputasi

INBERITA.COM, Situasi politik Iran dilaporkan memasuki fase paling genting dalam beberapa dekade terakhir setelah muncul kabar mengejutkan mengenai kondisi fisik Pemimpin Tertinggi barunya, Mojtaba Khamenei.

Putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei itu disebut tengah bersembunyi dalam keadaan luka berat dan cacat permanen usai serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.

Serangan tersebut tidak hanya menewaskan sosok pemimpin tertinggi sebelumnya, tetapi juga meninggalkan dampak serius terhadap keberlanjutan kekuasaan di Teheran.

Laporan yang dikutip awak media menyebutkan bahwa Mojtaba mengalami luka bakar parah di bagian wajah dan bibir, yang berdampak langsung pada kemampuannya untuk berbicara secara normal.

Kondisinya disebut belum stabil. Selain luka bakar serius, satu kaki Mojtaba dilaporkan harus diamputasi.

Ia telah menjalani tiga kali operasi besar dan kini menunggu pemasangan kaki prostetik. Tidak hanya itu, satu tangannya juga memerlukan tindakan medis lanjutan, sementara proses pemulihan dilakukan secara bertahap melalui terapi intensif.

Kondisi fisik yang jauh dari kata pulih membuat akses terhadap sosok yang kini menjadi simbol kelanjutan kekuasaan Iran itu sangat dibatasi.

Kekhawatiran akan kemungkinan serangan lanjutan atau upaya pembunuhan membuat lingkaran dalam kekuasaan mengambil langkah ekstrem dalam menjaga keberadaannya tetap tersembunyi.

Para petinggi Garda Revolusi Iran atau IRGC dilaporkan menghindari pertemuan langsung dengan Mojtaba. Risiko pelacakan oleh intelijen musuh menjadi pertimbangan utama yang membuat komunikasi dilakukan secara tidak konvensional.

Di tengah keterbatasan fisik, sumber internal menyebut Mojtaba masih memiliki ketajaman berpikir dan tetap menjalankan peran strategisnya. Namun metode yang digunakan sangat berbeda dari kepemimpinan modern pada umumnya.

Ia dikabarkan mengendalikan jalannya negara melalui jaringan kurir tradisional yang mengantarkan pesan tulisan tangan dalam amplop tersegel.

“Mojtaba menolak muncul dalam bentuk video atau audio karena tidak ingin terlihat lemah di mata publik,” tulis laporan tersebut, Kamis (23/4/2026).

Kondisi ini memicu perubahan signifikan dalam struktur kekuasaan Iran. Ketidakmampuan Mojtaba untuk tampil secara publik maupun menjalankan fungsi kepemimpinan secara penuh mendorong negara itu beralih ke sistem kepemimpinan kolektif.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi kini memainkan peran sentral, menyerupai sistem politbiro yang mengendalikan kebijakan strategis negara. Perubahan ini menandai pergeseran besar dari model kepemimpinan tunggal yang selama ini menjadi ciri khas Republik Islam Iran.

Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf muncul sebagai figur utama yang mewakili wajah rezim di ruang publik. Ia juga disebut menjadi negosiator kunci dalam dinamika hubungan dengan Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya tekanan geopolitik.

Di sisi lain, pengaruh tokoh garis keras seperti Ahmad Vahidi masih sangat kuat dalam lingkaran kekuasaan.

Dewan yang kini memegang kendali dihadapkan pada dilema besar: apakah akan memberikan konsesi terkait program nuklir demi mengakhiri blokade Selat Hormuz atau tetap bertahan menghadapi tekanan ekonomi global yang semakin berat.

Ketidakpastian arah kebijakan ini semakin diperkeruh oleh pernyataan keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam komentarnya, Trump menggambarkan situasi di Iran sebagai kondisi yang kacau dan tidak memiliki kepemimpinan yang jelas.

“Mereka semua kacau. Mereka tidak tahu siapa pemimpin mereka saat ini. Kami telah melenyapkan tiga level pemimpin dan siapa pun yang berada di belakang mereka. Mereka kesulitan mencari siapa yang bisa bicara atas nama negara,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan Washington terhadap melemahnya struktur kekuasaan Iran pasca serangan yang terjadi.

Namun di dalam negeri, situasinya tidak sesederhana itu. Meski Mojtaba Khamenei masih dianggap sebagai simbol kesinambungan kekuasaan, banyak pihak meragukan kemampuannya untuk memegang otoritas penuh seperti yang dimiliki ayahnya.

Ketergantungan pada sistem kolektif dinilai berpotensi mengubah arah politik Iran secara fundamental. Tidak hanya soal kebijakan luar negeri, tetapi juga stabilitas internal yang selama ini dijaga melalui kendali kuat seorang pemimpin tertinggi.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, dunia internasional terus memantau perkembangan di Teheran.

Pertanyaan besar kini mengemuka: apakah Mojtaba mampu pulih dan kembali mengambil kendali penuh, atau justru Iran akan bertransformasi menjadi rezim yang dipimpin oleh kekuatan militer kolektif?

Ketegangan geopolitik yang belum mereda membuat setiap perkembangan di Iran memiliki implikasi global. Dengan posisi strategisnya di kawasan Timur Tengah, setiap perubahan arah kebijakan berpotensi memicu dampak luas, termasuk terhadap stabilitas energi dunia.

Kondisi Mojtaba Khamenei yang masih dirahasiakan secara ketat menambah lapisan misteri dalam dinamika kekuasaan Iran saat ini.

Di balik tirai yang semakin tertutup, arah masa depan negara tersebut kini berada di persimpangan yang menentukan.