INBERITA.COM, Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi melakukan kunjungan ke kediaman mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Solo, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026) siang.
Pertemuan tersebut berlangsung di rumah Jokowi yang berlokasi di kawasan Sumber, Banjarsari, dan menjadi sorotan karena memuat pembahasan isu geopolitik hingga hubungan bilateral kedua negara.
Boroujerdi tiba sekitar pukul 11.30 WIB dan disambut langsung oleh Jokowi di pintu masuk kediamannya. Suasana pertemuan berlangsung hangat sejak awal.
Jokowi menyapa tamunya dengan ramah, “Selamat datang di Solo. Selamat datang di rumah saya,” kata Jokowi.
Dalam pertemuan tersebut, Dubes Iran menyampaikan sejumlah hal terkait kondisi terkini di negaranya, khususnya dampak konflik yang tengah berlangsung.
Ia menyinggung situasi perang yang menurutnya telah menimbulkan banyak korban jiwa, sekaligus mengapresiasi sikap Jokowi yang dinilai menunjukkan dukungan terhadap Iran.
“Saya menyampaikan laporan kondisi terakhir negara kami yang diserang oleh Zionis Israel dan Amerika Serikat. Beliau menyampaikan dukungan terhadap bangsa Iran,” ujar Boroujerdi.
Selain membahas situasi di Iran, Boroujerdi juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya prajurit Indonesia yang tergabung dalam pasukan perdamaian di Lebanon.
Ia menyoroti insiden serangan yang menimpa pasukan tersebut dan menyebabkan korban jiwa.
“Saya juga dalam kesempatan ini menyatakan belasungkawa atas serangan keji terhadap pasukan perdamaian di Lebanon. Dalam serangan tersebut, tiga prajurit sebagai bagian dari pasukan perdamaian, putra terbaik bangsa ini, harus kehilangan nyawa dan syahid. Beberapa lainnya mengalami cedera akibat serangan Zionis,” jelasnya.
Sementara itu, Jokowi menegaskan pentingnya menjaga hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
Menurutnya, hubungan bilateral yang baik akan memberikan dampak positif, tidak hanya bagi stabilitas politik, tetapi juga sektor ekonomi.
“Intinya kita ingin terus menjaga hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran. Saya kira ini baik untuk ekonomi dan geopolitik,” kata Jokowi.
Dalam pertemuan tersebut, isu terkait dampak konflik terhadap pasokan energi juga turut disinggung.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah terganggunya distribusi bahan bakar minyak (BBM), yang disebut-sebut berkaitan dengan pembatasan di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
Meski demikian, Jokowi enggan memaparkan secara rinci hasil pembahasan terkait isu tersebut.
Ia menegaskan bahwa tindak lanjut mengenai hal-hal strategis tetap menjadi kewenangan pemerintah yang sedang menjabat.
“Tadi saya menyampaikan banyak hal. Tapi itu (Selat Hormuz) urusan pemerintah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Jokowi juga menyuarakan pentingnya upaya global untuk menghentikan konflik bersenjata.
Ia menilai perang hanya akan membawa kerugian luas, baik dari sisi kemanusiaan maupun ekonomi global.
Stabilitas dunia, menurutnya, menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan normal.
“Saya kira baik kampanye untuk menghentikan perang. Dunia ini butuh dunia yang damai, membutuhkan relasi hubungan yang baik antarnegara, sehingga kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi berjalan normal. Misalnya, semua negara kesulitan energi dan minyak. Itu tidak terjadi kalau perang tidak ada,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Boroujerdi juga mengungkapkan bahwa kunjungannya tidak hanya bersifat silaturahmi, tetapi juga untuk meminta pandangan dan nasihat dari Jokowi.
Pengalaman Jokowi selama satu dekade memimpin Indonesia dinilai menjadi sumber perspektif penting dalam menghadapi dinamika diplomasi internasional saat ini.
Pertemuan ini mencerminkan peran informal tokoh nasional dalam hubungan internasional, sekaligus menunjukkan bahwa komunikasi lintas negara tetap berjalan meski melalui jalur non-pemerintahan.