INBERITA.COM, Pemerintah memastikan anggaran untuk program prioritas nasional tetap aman di tengah wacana efisiensi belanja negara.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih tidak akan dipangkas, meskipun pemerintah tengah mempertimbangkan langkah penghematan anggaran pasca meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Prasetyo usai memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Pengawakan Program Prioritas Presiden Prabowo Subianto di Kementerian Pertahanan (Kemenhan), Selasa (17/3/2026).
Dalam kesempatan itu, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk tetap menjaga keberlangsungan program-program yang dinilai berdampak langsung bagi masyarakat.
“(Program prioritas) Tidak (dikurangi),” kata Prasetyo.
Menurut dia, pemerintah justru akan memprioritaskan realokasi anggaran dari pos-pos belanja yang dinilai kurang produktif.
Langkah ini diambil agar program-program strategis seperti MBG dan Koperasi Desa Merah Putih tetap berjalan optimal tanpa terganggu kebijakan efisiensi.
Prasetyo menjelaskan, sejumlah pos anggaran yang berpotensi dipangkas antara lain perjalanan dinas luar negeri, kegiatan seremonial, upacara, hingga rapat-rapat yang dinilai tidak mendesak di kementerian dan lembaga.
Pengurangan pada pos tersebut diharapkan mampu memberikan ruang fiskal bagi program yang lebih berdampak langsung terhadap masyarakat.
“Nah, itulah yang kemudian kita realokasi supaya program-program yang produktif, program-program yang berdampak, program-program yang bisa membantu mengangkat beban masyarakat, justru itu yang harus diutamakan,” ucap dia.
Selain itu, pemerintah juga akan memperketat belanja yang sifatnya masih bisa ditunda.
Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya agar defisit tidak melampaui batas aman sebesar 3 persen.
“Kemudian belanja-belanja yang bersifat bisa kita tunda, itu juga terus diperketat,” imbuhnya.
Wacana efisiensi anggaran sendiri mencuat seiring kekhawatiran meningkatnya tekanan global akibat konflik di Timur Tengah.
Namun, Prasetyo menegaskan bahwa proses evaluasi dan penyisiran anggaran sebenarnya telah dilakukan pemerintah sejak sebelum eskalasi konflik tersebut terjadi.
Ia menepis anggapan bahwa realokasi anggaran semata-mata dipicu oleh dinamika perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menurutnya, pemerintah secara rutin melakukan evaluasi untuk memastikan setiap rupiah anggaran digunakan secara efektif dan tepat sasaran.
“Jadi sebelum kejadian [serangan AS-Israel ke Iran] itu, kebetulan ya, kita tadinya tidak menduga akan ada perang atau ada eskalasi. Nah, kami itu sering berkoordinasi dan berkumpul untuk terus melakukan proses tadi itu. Jadi kita sisir ulang, mana yang sekiranya tidak produktif atau kurang produktif, mana yang bisa ditunda,” tandas dia.
Langkah pemerintah mempertahankan anggaran MBG dan Koperasi Desa Merah Putih dinilai penting karena kedua program tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di tengah tekanan ekonomi global.
Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, diarahkan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak dini, sementara Koperasi Desa Merah Putih diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis desa.
Dengan strategi efisiensi yang terarah, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan keberlanjutan program prioritas.
Fokus pada pengurangan belanja tidak produktif menjadi kunci agar target pembangunan tetap tercapai tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan.
Ke depan, pemerintah masih akan terus mengkaji skema realokasi anggaran secara mendalam.
Evaluasi berkelanjutan ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan fiskal yang diambil mampu merespons dinamika global sekaligus tetap berpihak pada kepentingan masyarakat luas.