INBERITA.COM, Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran secara terbuka menuduh Uni Emirat Arab (UEA) ikut berperan dalam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran.
Tuduhan keras tersebut disampaikan langsung Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak pecahnya perang pada akhir Februari 2026.
Dalam pernyataannya, Araghchi menyinggung dugaan adanya keterlibatan rahasia UEA melalui hubungan dengan Israel, termasuk isu pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Abu Dhabi yang sebelumnya sempat diungkap pihak Tel Aviv namun dibantah pemerintah UEA.
Iran menilai sikap Abu Dhabi selama konflik berlangsung menunjukkan keterlibatan aktif dalam agresi terhadap Teheran.
“UEA adalah mitra aktif dalam agresi ini, dan tidak ada keraguan mengenai hal itu. Saya harus mengatakan bahwa UEA terlibat langsung dalam tindakan agresi terhadap negara saya. Ketika agresi ini dimulai, mereka bahkan menolak untuk mengecamnya,” kata Abbas Araghchi dalam unggahan di Telegram saat menghadiri KTT BRICS di India, Kamis (14/5).
Pernyataan tersebut menjadi salah satu tuduhan paling keras yang dilontarkan pejabat tinggi Iran terhadap negara Teluk sejak konflik bersenjata di kawasan meningkat beberapa bulan terakhir.
Araghchi bahkan menuding UEA tidak hanya bersikap pasif, tetapi juga diduga ikut membantu operasi serangan terhadap Iran.
“Selain itu, menjadi jelas bahwa mereka ikut berpartisipasi dalam serangan-serangan tersebut dan bahkan mungkin bertindak langsung melawan kami,” ujar Araghchi seperti dikutip AFP.
Pernyataan yang kemudian dimuat kantor berita pemerintah Iran, IRNA, itu semakin mempertegas memburuknya hubungan diplomatik antara Teheran dan Abu Dhabi di tengah konflik regional yang terus berkembang.
Dalam keterangannya, Araghchi juga mengingatkan UEA mengenai risiko keamanan akibat kedekatan negara tersebut dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ia menilai keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk justru membuat negara-negara Arab rentan menjadi target serangan balasan Iran.
“Saya menasihati perwakilan UEA bahwa rezim Zionis dan Amerika tidak dapat menjamin keamanan mereka,” kata Araghchi.
Menurut Iran, pengalaman beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa fasilitas dan pangkalan militer Amerika di kawasan dapat menjadi sasaran balasan ketika konflik meningkat.
Araghchi menegaskan Iran dan UEA sebenarnya merupakan negara bertetangga yang harus tetap hidup berdampingan dalam jangka panjang. Karena itu, ia meminta negara-negara Arab di kawasan mengubah cara pandang mengenai konsep keamanan regional.
“Kami dan Uni Emirat Arab adalah tetangga. Kami hidup berdampingan di masa lalu dan harus terus hidup berdampingan di masa depan. Karena itu, kami harus mengubah cara pandang dan memahami keamanan sebagai kerja sama bersama, bukan kerja sama dengan negara-negara asing,” katanya.
Hubungan Iran dan UEA memang telah lama diwarnai ketegangan politik dan persaingan pengaruh di Timur Tengah. Namun situasi semakin memburuk sejak pecahnya konflik terbuka antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Sejak perang pecah, Iran beberapa kali meluncurkan serangan balasan terhadap target militer Amerika Serikat di sejumlah negara Arab di kawasan Teluk, termasuk wilayah yang disebut memiliki fasilitas militer AS.
Teheran berulang kali menuduh beberapa negara Arab memberikan akses wilayah maupun dukungan logistik kepada pasukan Amerika Serikat untuk melancarkan operasi militer terhadap Iran.
Di sisi lain, negara-negara Arab di kawasan secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Mereka menegaskan tidak memberikan izin penggunaan wilayah maupun ruang udara untuk serangan terhadap Iran.
Pemerintah negara-negara Teluk juga berupaya menjaga posisi diplomatik agar konflik tidak semakin meluas dan menyeret kawasan ke dalam perang regional yang lebih besar.
Namun tuduhan terbaru Iran terhadap UEA menunjukkan ketegangan politik antarnegara di Timur Tengah semakin kompleks, terutama setelah hubungan diplomatik Israel dengan sejumlah negara Arab mengalami normalisasi dalam beberapa tahun terakhir.
Isu kedekatan UEA dengan Israel memang menjadi perhatian sensitif bagi Iran. Teheran memandang kerja sama keamanan dan intelijen antara negara-negara Arab Teluk dengan Israel sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategis Iran di kawasan.
Pernyataan Abbas Araghchi kali ini juga memperlihatkan meningkatnya tekanan diplomatik Iran terhadap negara-negara yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Washington dan Tel Aviv.
Di tengah eskalasi perang yang belum menunjukkan tanda mereda, tuduhan Iran terhadap UEA berpotensi memperbesar ketidakstabilan kawasan dan meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap risiko konflik regional yang lebih luas.
Situasi di Timur Tengah kini terus menjadi sorotan global karena tidak hanya berdampak terhadap keamanan kawasan, tetapi juga berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi dunia, jalur perdagangan energi, dan harga minyak internasional.