Macron Serukan Pembentukan Tatanan Internasional Baru untuk Mengurangi Ketergantungan pada China dan AS

INBERITA.COM, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan pembentukan tatanan internasional yang baru untuk mengurangi ketergantungan dunia pada dominasi ekonomi China dan ketidakpastian politik Amerika Serikat (AS).

Dalam pidatonya di Universitas Yonsei, Korea Selatan, pada Kamis (2/4/2026), Macron menekankan pentingnya kerja sama internasional yang lebih solid dan mengurangi pengaruh dua kekuatan besar tersebut.

Seruan ini datang beberapa hari setelah ketegangan antara Macron dan Presiden AS Donald Trump terkait sikap Perancis yang enggan mengirimkan pasukan untuk membuka Selat Hormuz.

Macron mengungkapkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi ketegangan yang meningkat, dan tidak ada ruang untuk bersikap pasif.

“Selama beberapa dekade, kita telah menikmati stabilitas yang dibangun oleh tatanan internasional ini, namun sekarang situasinya mulai naik turun. Dunia tidak boleh tinggal diam dalam kekacauan ini. Kita harus mulai membangun tatanan internasional yang baru,” ujarnya.

Macron menjelaskan bahwa dunia harus mencari solusi yang tidak lagi bergantung pada dua kekuatan hegemonik—China dan AS.

Ia menekankan pentingnya negara-negara bekerja sama untuk membangun komitmen bersama demi stabilitas ekonomi dan politik global.

Salah satu poin utama dalam pidato Macron adalah pembentukan “koalisi kemerdekaan,” yang mendesak negara-negara di dunia untuk mengurangi ketergantungan pada China dan AS.

Ia menyebutkan, “Saya rasa tujuan kita bukanlah menjadi boneka dari dua kekuatan hegemonik,” merujuk pada AS dan China.

Macron mengajak negara-negara untuk mengesampingkan persaingan dan bekerja bersama demi mencapai kompromi yang berkelanjutan.

“Yang kita butuhkan saat ini adalah bekerja sama untuk menciptakan solusi, bukan bersaing satu sama lain,” katanya.

Menurutnya, ketegangan politik global dan fragmentasi kerja sama yang terjadi selama beberapa tahun terakhir sangat merugikan, terutama di bidang penelitian dan sains.

Ia juga mengkritik banyak negara yang mulai memotong pendanaan untuk berbagai sektor penting. Hal ini, menurutnya, merupakan pengkhianatan terhadap semangat koordinasi internasional yang selama ini dibutuhkan.

“Kita harus berhenti bersaing untuk sementara waktu, dan mulai membahas bagaimana kita dapat membangun kompromi yang benar dan bekerja sama untuk masa depan,” tambahnya.

Selain membahas tatanan internasional baru, Macron juga mengkritik kebijakan ekonomi yang diterapkan oleh AS dan China, terutama terkait tarif impor dan kelebihan kapasitas produksi.

Dalam sebuah forum ekonomi di hari yang sama, Macron menyerukan perlindungan kapasitas produksi Eropa untuk menghadapi tekanan dari kebijakan tarif AS dan kebijakan industrialisasi yang diterapkan China.

“Kami di Eropa tidak melakukan ini untuk melawan siapa pun. Kami ingin melakukannya bersama orang lain, tetapi kita harus memastikan bahwa industri Eropa tidak terjebak dalam ketergantungan yang merugikan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa Eropa harus mampu bersaing dengan kebijakan “Made in Europe,” serupa dengan kebijakan yang diterapkan di Amerika Utara.

Macron menggambarkan Eropa sebagai benua yang sangat menarik dan tengah berada dalam proses modernisasi dan penyederhanaan. Ia menegaskan, Eropa tidak mempercayai konsep hukum yang terkuat, tetapi lebih mengutamakan hukum yang berbasis pada prinsip kesetaraan dan keadilan.

“Kami bukanlah yang terkuat, tetapi kami percaya bahwa siapa pun yang terkuat akan melakukan kesalahan besar ketika mereka menerapkan hukum yang terkuat dan meninggalkan kerangka kerja bersama,” ungkapnya.

Macron juga mengingatkan tentang ancaman yang datang dari kedua kekuatan besar, China dan AS. Ia menyebutkan bahwa China berupaya mendapatkan kontrol yang lebih besar atas rantai nilai global dengan menggunakan subsidi, kelebihan kapasitas produksi, serta kontrol terhadap sumber daya alam seperti mineral-mineral penting.

Sementara itu, AS mengatasi ketidakseimbangan ini melalui penerapan tarif dan kebijakan ekstrateritorial yang semakin mempersulit persaingan yang adil di pasar global.

Pada akhirnya, Macron menyatakan bahwa apa yang menyatukan negara-negara adalah keyakinan mereka pada supremasi hukum internasional, perdagangan bebas yang adil, dan aturan yang ditegakkan oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

“Pada intinya, yang menyatukan kita adalah keyakinan kita pada supremasi hukum, hukum internasional, perdagangan bebas, dan adil,” tegasnya.

Melalui pidatonya, Macron dengan tegas menyerukan pembentukan tatanan internasional yang lebih stabil, yang tidak lagi bergantung pada dominasi dua kekuatan besar, China dan AS.

Dengan mengajak negara-negara untuk berhenti bersaing dan lebih banyak bekerja sama, Macron berharap dunia dapat menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan dan damai.