Longsor di Bandung Barat Tewaskan 8 Orang, 82 Warga Masih Dalam Pencarian

INBERITA.COM, Bencana tanah longsor terjadi di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, pada Sabtu (24/1) dini hari dan menelan korban jiwa.

Peristiwa longsor yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi tersebut menyebabkan delapan orang meninggal dunia.

Hingga Sabtu (24/1) pukul 10.30 WIB, puluhan warga dilaporkan selamat, sementara 82 orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan di lapangan.

Tanah longsor ini terjadi sekitar pukul 02.30 WIB di Kecamatan Cisarua, tepatnya di Desa Pasir Langu, Kampung Babakan Cibudah.

Material longsoran berupa tanah dan bebatuan menimbun permukiman warga yang berada di lereng, sehingga mengakibatkan korban jiwa, kerusakan rumah, serta warga terdampak yang harus dievakuasi ke lokasi yang lebih aman.

Kondisi medan yang berat dan cuaca yang masih berpotensi hujan menjadi tantangan tersendiri dalam proses pencarian dan penanganan darurat.

Selain delapan korban meninggal dunia, sebanyak 23 jiwa dilaporkan berhasil selamat dari peristiwa tanah longsor di Bandung Barat tersebut.

Berdasarkan data sementara, bencana ini berdampak terhadap sekitar 34 kepala keluarga atau 113 jiwa.

Hingga saat ini, jumlah rumah yang terdampak masih dalam tahap pendataan oleh petugas di lapangan, mengingat akses menuju lokasi kejadian cukup terbatas dan tertutup material longsoran.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat langsung bergerak cepat dengan melakukan kaji cepat serta asesmen awal di lokasi kejadian.

BPBD bersama unsur terkait melaksanakan upaya penanganan darurat, termasuk pencarian korban yang diduga masih tertimbun longsoran, evakuasi warga, serta pemantauan potensi longsor susulan.

Proses pencarian dilakukan secara manual dan menggunakan peralatan yang tersedia, dengan mengutamakan keselamatan personel mengingat kondisi tanah yang masih labil.

Kabupaten Bandung Barat sendiri saat ini berada dalam Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Banjir Bandang, Cuaca Ekstrem, dan Tanah Longsor.

Status tersebut ditetapkan berdasarkan Keputusan Bupati Bandung Barat Nomor 100.3.3.2/Kep.359-BPBD/2025 yang berlaku sejak 1 Oktober 2025 hingga 30 April 2026.

Penetapan status ini menunjukkan tingginya potensi ancaman bencana hidrometeorologi di wilayah Bandung Barat, terutama pada musim hujan dengan curah hujan tinggi.

Tidak hanya di tingkat kabupaten, Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 yang berlaku mulai 15 September 2025 hingga 30 April 2026.

Status siaga darurat ini mencakup potensi bencana banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, dan tanah longsor yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Jawa Barat.

Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Bandung Barat bersama lintas instansi gabungan, termasuk unsur TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat, masih terus melakukan pendataan lanjutan dan pemantauan di lokasi terdampak tanah longsor.

Proses pencarian korban menjadi prioritas utama, disertai dengan penilaian kebutuhan darurat bagi warga terdampak, seperti logistik, tempat pengungsian, serta layanan kesehatan.

Seiring dengan meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Barat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) turut mengambil langkah mitigasi melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

OMC ini bertujuan untuk menurunkan intensitas curah hujan agar risiko terjadinya bencana seperti banjir dan tanah longsor dapat ditekan.

Operasi tersebut telah berlangsung sejak 12 Januari 2026 di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan mengerahkan dua unit pesawat, yakni PK-JVH dan CASA 212 A-2105, yang beroperasi dari Lanud Halim Perdanakusuma.

Dalam pelaksanaannya, pesawat PK-JVH melaksanakan 32 sortie di wilayah Jawa Barat dengan total bahan semai mencapai 32.000 kilogram selama periode 13 hingga 22 Januari 2026.

Sementara itu, pesawat CASA 212 A-2105 melaksanakan 19 sortie di wilayah DKI Jakarta dengan total bahan semai sebanyak 12.400 kilogram pada periode 16 hingga 22 Januari 2026.

Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari strategi pengendalian cuaca untuk mengurangi potensi hujan ekstrem.

Untuk mengoptimalkan pengendalian curah hujan, sejak 23 Januari 2026 BNPB menambah dua unit pesawat Caravan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca.

Operasi ini juga dapat diperluas ke wilayah Provinsi Banten apabila terjadi peningkatan potensi cuaca ekstrem yang berisiko menimbulkan bencana hidrometeorologi.

BNPB mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan longsor, termasuk daerah perbukitan dan lereng di Kabupaten Bandung Barat, untuk meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat diminta lebih waspada terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama, serta segera melakukan evakuasi mandiri apabila kondisi lingkungan dinilai tidak aman.

Imbauan ini disampaikan untuk meminimalkan risiko korban jiwa akibat bencana tanah longsor yang masih berpotensi terjadi selama musim hujan berlangsung.