INBERITA.COM, Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang lebih berbahaya setelah Amerika Serikat melanjutkan operasi militernya terhadap Iran untuk malam ke-10 secara berturut-turut.
Rangkaian serangan tersebut memperlihatkan bahwa konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, bahkan mulai memicu kekhawatiran akan dampak yang jauh lebih luas terhadap keamanan kawasan dan stabilitas ekonomi global.
Di tengah meningkatnya intensitas pertempuran, perhatian dunia kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi internasional.
Gangguan di kawasan tersebut dinilai berpotensi menghambat distribusi minyak mentah dunia, memicu lonjakan harga energi, hingga memberi tekanan terhadap perekonomian berbagai negara yang bergantung pada impor minyak.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan operasi militer akan terus dilanjutkan sebagai respons atas tewasnya tiga personel militer AS dalam serangkaian serangan yang dikaitkan dengan Iran.
Pernyataan itu mempertegas sikap Washington yang memilih mempertahankan tekanan militer sembari tetap membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Serangan terbaru dilaporkan menyasar sejumlah wilayah strategis di Iran, termasuk Sirik, Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan Isfahan.
Menurut Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan militer Iran yang disebut digunakan dalam serangan terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz.
Beberapa saat sebelum operasi dimulai, Trump memperingatkan bahwa setiap serangan yang menewaskan personel militer Amerika akan dibalas dengan kekuatan yang lebih besar.
Pernyataan itu muncul setelah dua prajurit AS gugur akibat serangan rudal di Yordania dan seorang anggota militer lainnya tewas dalam insiden di Irak utara.
Pentagon mengidentifikasi dua korban di Yordania sebagai Prajurit Isabella Gonzales (19) asal Texas dan Letnan Tyler James Feehan (25) asal Hawaii.
Pemerintah Amerika menyebut operasi militer yang terus berlangsung juga merupakan bentuk penghormatan terhadap prajurit yang gugur.
Di sisi lain, Iran menyatakan tidak tinggal diam menghadapi serangan tersebut. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan balasan dengan menargetkan sistem peluncur roket HIMARS milik Amerika Serikat di Kamp Arifjan, Kuwait.
Selain itu, Iran mengaku menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat dan sekutunya di Bahrain, Yordania, serta Suriah. Meski klaim tersebut belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen, situasi ini menunjukkan konflik telah meluas ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyatakan negaranya kini berada dalam kondisi “perang skala penuh” melawan Amerika Serikat. Menurutnya, konfrontasi yang terjadi bukan hanya berlangsung di medan tempur, tetapi juga menyasar sektor ekonomi dan kehidupan masyarakat Iran.
Meski demikian, pemerintah Iran menyatakan komunikasi melalui negara-negara perantara masih terus berjalan. Jalur diplomasi disebut tetap terbuka meskipun berbagai upaya gencatan senjata sebelumnya belum membuahkan hasil.
Selat Hormuz kini menjadi titik paling krusial dalam eskalasi konflik tersebut. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu selama ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap rantai pasok energi internasional.
Operasi militer Amerika dilaporkan juga difokuskan untuk mengamankan kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Sasaran serangan meliputi pusat komando militer, sistem pertahanan udara, fasilitas maritim, lokasi peluncuran rudal dan drone, hingga jaringan komunikasi militer Iran.
Di tengah operasi itu, sejumlah insiden terhadap kapal tanker turut memperburuk situasi. Laporan awak media menyebut sedikitnya dua kapal tanker mengalami serangan saat melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, otoritas keamanan maritim Inggris juga melaporkan adanya serangan terhadap kapal tanker lain di dekat Limah, Oman.
Gangguan terhadap jalur pelayaran membuat pelaku pasar energi meningkatkan kewaspadaan. Harga minyak mentah Brent dilaporkan telah bergerak di atas level 88 dolar Amerika Serikat per barel seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global.
Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara produsen minyak, tetapi juga negara pengimpor seperti Indonesia.
Pipeline Engineer sekaligus mitra kerja Pertamina EP Zona 9, Agita Jati Nugroho, menilai perkembangan di Selat Hormuz perlu dicermati karena Indonesia masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
“Dengan kondisi Hormuz, dalam hukum ekonomi saat suplai berkurang maka otomatis harga akan naik. Hal ini tentunya akan berdampak secara langsung ke kita,” ujar Agita.
Menurutnya, apabila konflik terus meluas hingga mengganggu distribusi minyak secara berkepanjangan, Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan biaya impor energi.
Efek lanjutannya dapat berupa meningkatnya harga bahan bakar, bertambahnya biaya logistik, hingga muncul tekanan terhadap inflasi domestik.
Di kawasan Timur Tengah, eskalasi juga mulai melibatkan lebih banyak negara. Yordania mengaku berhasil mencegat tiga rudal yang melintas di wilayah udaranya, sementara Kuwait menyatakan berhasil menembak jatuh sejumlah drone.
Bahrain juga melaporkan sistem navigasi udaranya menjadi sasaran pesawat nirawak, meski operasional penerbangan disebut tetap berjalan normal.
Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan blokade terhadap Arab Saudi. Langkah tersebut menambah risiko terganggunya jalur ekspor minyak melalui Laut Merah, sehingga pasar energi kini menghadapi ancaman dari dua jalur strategis sekaligus.
Walaupun komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran masih berlangsung melalui sejumlah negara mediator, belum terlihat sinyal kuat menuju penyelesaian damai.
Dengan operasi militer yang terus berlanjut dan Selat Hormuz tetap menjadi pusat perebutan kendali, dunia kini menghadapi risiko bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi krisis regional yang membawa konsekuensi besar terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi global.