INBERITA.COM, Pemerintah Venezuela kembali memperbarui jumlah korban akibat gempa bumi kembar yang mengguncang negara tersebut pada pertengahan pekan.
Hingga Minggu (28/6/2026), jumlah korban meninggal dunia dilaporkan meningkat menjadi 1.430 orang, sementara ribuan lainnya masih menjalani perawatan akibat luka-luka.
Perkembangan terbaru itu menunjukkan besarnya dampak bencana yang dipicu oleh dua gempa kuat berkekuatan Magnitudo 7,2 dan Magnitudo 7,5 yang terjadi hampir berurutan pada Rabu (24/6) waktu setempat.
Guncangan tersebut tidak hanya merobohkan bangunan dan merusak infrastruktur penting, tetapi juga mempersulit proses penyelamatan di sejumlah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah.
Dalam keterangannya, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan bahwa selain 1.430 korban meninggal, terdapat 3.238 orang mengalami luka-luka.
Angka tersebut diperkirakan masih dapat berubah seiring tim penyelamat yang terus melakukan pencarian di berbagai lokasi terdampak.
Sebelumnya, otoritas setempat sempat melaporkan jumlah korban tewas mencapai sedikitnya 920 orang. Saat itu lebih dari 3.000 warga mengalami cedera, sementara lebih dari 170 orang diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan yang ambruk akibat guncangan.
Proses evakuasi menjadi tantangan besar karena banyak kawasan mengalami kerusakan berat. Sejumlah bangunan tempat tinggal, fasilitas umum, hingga infrastruktur transportasi mengalami kehancuran yang menyulitkan akses kendaraan penyelamat menuju lokasi terdampak.
Gempa tersebut berpusat di wilayah dekat pesisir Karibia dan oleh Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dikategorikan sebagai fenomena “doublet earthquake” atau gempa kembar.
Istilah ini digunakan ketika dua gempa besar terjadi dalam rentang waktu yang sangat berdekatan dengan kekuatan yang hampir sebanding sehingga sama-sama memberikan dampak destruktif.
Fenomena seperti ini relatif jarang terjadi dibandingkan gempa tunggal. Ketika dua guncangan besar muncul secara berurutan, bangunan yang sudah melemah akibat gempa pertama berisiko runtuh saat gempa berikutnya terjadi.
Kondisi tersebut turut meningkatkan potensi korban jiwa dan memperbesar kerusakan pada kawasan terdampak.
Selain merusak ribuan bangunan, gempa juga menyebabkan gangguan terhadap operasional bandara utama Venezuela. Kerusakan fasilitas transportasi membuat distribusi bantuan dan mobilisasi personel penyelamat menjadi lebih lambat dibandingkan kondisi normal.
Beberapa hari setelah bencana terjadi, tantangan berikutnya muncul dalam bentuk distribusi bantuan kemanusiaan.
Laporan awak media menunjukkan bahwa sejumlah warga mulai mengeluhkan lambatnya penyaluran bantuan, terutama di daerah yang mengalami kerusakan paling serius.
Negara bagian La Guaria menjadi salah satu wilayah yang menghadapi kondisi tersebut. Di kawasan itu, warga bersama para relawan berinisiatif melakukan pencarian korban secara mandiri karena minimnya alat berat yang tersedia.
Dengan peralatan seadanya, mereka membongkar puing-puing bangunan menggunakan tangan kosong demi mencari kemungkinan masih adanya korban yang bertahan hidup di bawah reruntuhan.
Situasi itu memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi masyarakat di lapangan ketika akses terhadap bantuan resmi belum sepenuhnya menjangkau seluruh lokasi terdampak.
Kondisi tersebut juga memunculkan kekhawatiran bahwa masih terdapat korban yang belum berhasil dievakuasi.
Semakin lama proses pencarian berlangsung, peluang menemukan korban selamat biasanya akan semakin kecil, sehingga kecepatan respons menjadi faktor yang sangat menentukan dalam operasi penyelamatan.
Bencana ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, terutama di kawasan yang memiliki aktivitas tektonik tinggi.
Selain pembangunan infrastruktur yang lebih tahan gempa, sistem tanggap darurat yang mampu bergerak cepat menjadi salah satu faktor penting untuk meminimalkan jumlah korban ketika bencana besar terjadi.
Di sisi lain, kebutuhan para penyintas tidak berhenti pada proses evakuasi. Mereka juga membutuhkan akses terhadap layanan kesehatan, tempat pengungsian yang layak, pasokan makanan, air bersih, serta dukungan psikososial setelah kehilangan anggota keluarga maupun tempat tinggal.
Hingga kini, tim penyelamat masih terus melakukan pencarian di sejumlah titik yang diperkirakan masih menyimpan korban di bawah reruntuhan.
Pemerintah bersama berbagai pihak terkait juga berupaya mempercepat distribusi bantuan ke wilayah-wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Dengan operasi penyelamatan yang masih berlangsung, jumlah korban maupun tingkat kerusakan diperkirakan masih dapat berubah sesuai hasil pendataan terbaru dari otoritas setempat.
Fokus utama saat ini tetap diarahkan pada penyelamatan korban yang mungkin masih bertahan, sekaligus memastikan kebutuhan dasar para penyintas dapat segera terpenuhi di tengah situasi darurat yang masih berlangsung.