Korban Tewas Banjir Nepal-Tibet Tembus 768 Orang, Ada yang Hanyut Sampai Wilayah India

INBERITA.COM, Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan Himalaya pada Rabu pagi, 26 Agustus 2026. Gelombang air dan lumpur menghancurkan pemukiman di perbatasan Nepal-Tibet. Ribuan orang dinyatakan hilang, sementara korban tewas terus bertambah.

Tim penyelamat berjuang di tengah lumpur tebal untuk mencari korban. Ancaman banjir susulan membuat operasi semakin sulit. Sampai Minggu petang, korban hilang mencapai 3.048 orang, termasuk ratusan warga asing. Jumlah korban tewas terkonfirmasi 768 jiwa.

Jenazah korban terbawa arus deras hingga ke India. Pemerintah Nepal memulai proses pemakaman massal. Sebelum dikuburkan, petugas medis mengambil sampel DNA untuk identifikasi keluarga.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menyerukan respons global terhadap krisis iklim. Ia menekankan bahwa Nepal, meski hanya menyumbang 0,1 persen emisi global, justru menjadi korban utama perubahan iklim.

“Rakyat Nepal menanggung dampak jauh lebih berat,” ujarnya.

Bencana ini terjadi tanpa didahului hujan deras. Kepala Pejabat Distrik Rasuwa, Narendra Pariyar, mengonfirmasi tidak ada curah hujan tinggi saat kejadian. Analisis citra satelit dan data seismik menunjukkan longsor di ketinggian ekstrem sebagai penyebab utama.

Longsor terjadi di sisi utara Gunung Langtang Lirung, sekitar 5.180 meter di atas permukaan laut. Runtuhan jutaan ton batu dan es memicu getaran seismik berskala 5,2 magnitudo. Aliran lumpur masif menerjang lembah sungai Trishuli.

Kerusakan infrastruktur di Nepal sangat masif. Puluhan mil jalan raya hancur total. Lebih dari 40 jembatan putus tergerus arus. Sejumlah proyek PLTA mengalami kerusakan berat.

Rekaman CCTV menunjukkan detik-detik mencekam saat warga berlarian menghindari terjangan air. Banjir lumpur melumat bangunan dan kendaraan di pos lintas batas Gyirong. Kantor berita Xinhua melaporkan korban jiwa signifikan di wilayah tersebut.

Di antara korban hilang terdapat ratusan warga asing. Kementerian Luar Negeri China mencatat sekitar 100 warga negaranya hilang di Nepal. Di Tibet, 260 warga asing hilang dari total 546 korban hilang.

Kementerian Luar Negeri India mencatat 288 warga negaranya hilang di area terdampak. Banyak di antaranya merupakan peziarah menuju Gunung Kailash di Tibet. Perubahan iklim global memperparah intensitas bencana di wilayah Himalaya.

Pembangunan infrastruktur masif di daerah rawan bencana juga dinilai berkontribusi. Meskipun curah hujan musim ini lebih rendah dari biasanya, longsor dan banjir bandang kerap melanda wilayah pegunungan.

Geomorfolog Kristen Cook menjelaskan mekanisme runtuhnya material tersebut. “Batuan tempat gletser itu berada telah runtuh,” katanya. Runtuhan tersebut memicu aliran lumpur berskala masif yang menerjang puluhan mil jaringan sungai.

Banjir bandang Nepal-Tibet mengejutkan dunia karena skala kerusakannya. Ribuan nyawa melayang akibat bencana yang tidak terduga. Respons global terhadap krisis iklim kini menjadi sorotan utama.