Klaim Mengejutkan! Trump Disebut Nyaris Gunakan Senjata Nuklir ke Iran Namun Digagalkan Jenderal Dan Caine

INBERITA.COM, Klaim mengejutkan mencuat dari lingkaran intelijen Amerika Serikat terkait eskalasi konflik dengan Iran.

Mantan perwira Central Intelligence Agency, Larry Johnson, menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat berupaya mengakses kode aktivasi senjata nuklir dalam sebuah rapat darurat di Gedung Putih.

Pernyataan tersebut langsung memicu perhatian luas, mengingat situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran tengah berada di titik kritis.

Johnson menyampaikan klaim itu dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Judging Freedom yang dipandu Andrew Napolitano.

“Trump mencoba mengakses kode nuklir dalam rapat darurat terkait perang di Iran,” kata Larry Johnson.

Menurut Johnson, momen itu terjadi ketika Trump dan jajaran militer tengah membahas perkembangan konflik yang memanas.

Dalam situasi tersebut, presiden disebut menunjukkan keinginan untuk menggunakan kekuatan nuklir sebagai respons terhadap dinamika perang yang terus meningkat.

Namun, langkah ekstrem tersebut diklaim tidak berlanjut setelah mendapat penolakan tegas dari pimpinan militer tertinggi. Sosok yang disebut berperan penting dalam mencegah keputusan itu adalah Dan Caine.

“Salah satu laporan yang muncul dari pertemuan di Gedung Putih itu adalah, Trump ingin menggunakan kode nuklir dan Jenderal Dan Caine berdiri dan berkata ‘Tidak’,” ujar Johnson.

Ia menggambarkan suasana rapat berlangsung sangat tegang, bahkan diwarnai konfrontasi langsung antara presiden dan pimpinan militer.

Penolakan tersebut disebut sebagai bentuk penggunaan kewenangan profesional militer dalam menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi yang lebih berbahaya.

Johnson juga membeberkan detail lanjutan terkait suasana setelah pertemuan yang diduga terjadi pada 18 April 2026 tersebut. Ia menyebut adanya indikasi ketegangan yang tidak biasa di lingkungan pemerintahan.

“Dia menggunakan hak istimewanya sebagai kepala militer, bisa dibilang begitu. Rupanya itu adalah sebuah keributan besar. Ada foto-foto Caine keluar dari pertemuan itu dengan kepala tertunduk. Ada beberapa hal yang sangat aneh terjadi di Washington DC,” ungkap Johnson.

Ketegangan tersebut tidak lepas dari konteks konflik yang lebih luas. Sejak Februari 2026, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan operasi militer besar-besaran ke wilayah Iran yang dikenal dengan nama Operation Epic Fury.

Operasi ini telah menimbulkan dampak signifikan, baik dari sisi korban jiwa maupun stabilitas kawasan. Berdasarkan laporan yang beredar, konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang, termasuk warga sipil dan personel militer di berbagai wilayah terdampak.

Situasi semakin memanas setelah insiden jatuhnya pesawat tempur F-15 Eagle milik Amerika Serikat pada 3 April 2026 di wilayah Iran. Dua pilot dilaporkan hilang, memicu respons emosional dari Trump.

Dalam laporan yang beredar, Trump disebut bereaksi keras terhadap insiden tersebut. Ia dikabarkan meluapkan kemarahan kepada pejabat militer dan mendesak dilakukannya misi penyelamatan secepat mungkin.

Kondisi ini diperparah oleh bayang-bayang sejarah, khususnya trauma krisis sandera Iran tahun 1979 yang disebut memengaruhi cara pandang Trump terhadap konflik tersebut. Faktor ini diyakini turut membentuk sikapnya yang dinilai semakin tidak terduga.

Meski demikian, klaim yang disampaikan Johnson masih menyisakan tanda tanya besar. Hingga kini, belum ada bukti konkret yang dapat mengonfirmasi kebenaran peristiwa tersebut.

Pihak Gedung Putih maupun Pentagon belum memberikan pernyataan resmi terkait tudingan tersebut, meskipun telah dihubungi oleh berbagai awak media internasional. Ketiadaan konfirmasi ini membuat spekulasi berkembang tanpa kejelasan.

Selain itu, laporan lain juga menyebutkan tidak adanya catatan resmi mengenai rapat darurat yang disebut terjadi pada 18 April.

Briefing Pentagon terakhir yang tercatat secara publik berlangsung pada 16 April, saat Menteri Pertahanan tampil bersama Jenderal Caine.

Di tengah ketidakpastian ini, muncul pula informasi bahwa Trump mulai dibatasi aksesnya terhadap ruang kendali strategis seperti Situation Room.

Langkah tersebut dikabarkan diambil oleh pejabat militer dan intelijen yang khawatir terhadap potensi keputusan impulsif dalam situasi sensitif.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan karakter kepemimpinan Trump yang dinilai memiliki temperamen tinggi dan sulit diprediksi, terutama dalam kondisi krisis. Hal ini memunculkan dinamika tersendiri di internal pemerintahan Amerika Serikat.

Dengan berbagai klaim yang belum terverifikasi, situasi ini memperlihatkan betapa kompleksnya konflik yang sedang berlangsung.

Di satu sisi, terdapat tekanan militer yang meningkat, sementara di sisi lain muncul kekhawatiran akan potensi eskalasi ekstrem, termasuk penggunaan senjata nuklir.

Perkembangan ini menjadi sorotan global, mengingat dampak yang dapat ditimbulkan tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas dunia secara keseluruhan.

Hingga kini, publik internasional masih menunggu kejelasan fakta di balik klaim yang telah memicu kekhawatiran tersebut.