Kim Jong Un Sebut Perang Iran Buktikan Pentingnya Memiliki Senjata Nuklir agar Tidak Diinjak-injak AS

INBERITA.COM, Presiden Korea Utara Kim Jong Un menegaskan bahwa perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin memperkuat keyakinan negaranya untuk mempertahankan senjata nuklir.

Dalam pidato di Majelis Rakyat Tertinggi pada Selasa (24/3/2026), Kim menyatakan bahwa situasi saat ini menunjukkan bahwa negara yang tidak memiliki senjata nuklir rentan terhadap agresi militer AS.

Kim Jong Un menilai perang yang sedang berlangsung di Iran sebagai bukti bahwa negara-negara tanpa senjata nuklir akan selalu berada dalam posisi yang lemah ketika berhadapan dengan kekuatan militer AS.

“Situasi saat ini dengan jelas membuktikan bahwa kami benar menolak tekanan dan bujuk rayu Amerika Serikat untuk melepaskan senjata nuklir,” ujarnya, yang dikutip oleh CNN pada Rabu (25/3/2026).

Menurut Kim, perang Iran menegaskan bahwa keberadaan senjata nuklir merupakan penangkal utama bagi negara-negara yang ingin menjaga kedaulatan mereka dari ancaman eksternal, terutama yang datang dari AS.

Dalam kesempatan tersebut, Kim juga menegaskan bahwa status nuklir Korea Utara tidak akan berubah. Sejak Korea Utara mengembangkan senjata nuklirnya, Kim telah berulang kali menyatakan bahwa nuklir adalah hal yang tidak bisa dinegosiasikan.

Pernyataan ini kembali memperkuat posisinya yang menolak segala bentuk tekanan internasional untuk melakukan denuklirisasi.

Kim Jong Un mengkritik keras kebijakan AS yang dianggapnya sebagai tindakan terorisme dan agresi negara. Ia juga menyoroti ketidakadilan yang dialami negara-negara seperti Iran yang tidak memiliki senjata nuklir.

“Kami sudah cukup belajar dari apa yang terjadi pada negara-negara tanpa nuklir. Tanpa kemampuan nuklir, negara akan selalu dijadikan sasaran oleh kekuatan besar seperti Amerika Serikat,” tegasnya.

Pernyataan Kim ini muncul di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengklaim bahwa Iran menimbulkan ancaman besar bagi AS, meskipun Trump beberapa bulan sebelumnya juga menyatakan bahwa kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan.

Kim memandang hal tersebut sebagai bukti lain bahwa AS akan terus mencari alasan untuk melakukan intervensi terhadap negara-negara yang dianggapnya tidak sejalan dengan kepentingannya.

Pernyataan Kim yang mempertahankan kebijakan nuklir Korea Utara ini juga datang di tengah sinyal dari Donald Trump yang membuka kemungkinan dilanjutkannya kembali dialog dengan Pyongyang setelah pembicaraan yang terhenti pada 2019.

Awal bulan ini, Perdana Menteri Korea Selatan melakukan kunjungan mendadak ke Washington dan bertemu dengan Trump.

Pertemuan itu membahas kemungkinan melanjutkan diplomasi dengan Korea Utara serta koordinasi strategi untuk menghadapi ancaman dari pengembangan senjata Pyongyang.

Namun, meskipun ada sinyal positif untuk dialog, Kim Jong Un menyatakan bahwa jika dialog kembali dilanjutkan, arah pembicaraan kali ini harus berbeda dari sebelumnya yang berfokus pada denuklirisasi.

Kim mengatakan bahwa syarat utama untuk kembali berdialog adalah pengakuan internasional terhadap Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir dan penghentian kebijakan AS yang dianggap sebagai permusuhan terhadap negaranya.

“Kami bersedia berdialog, tetapi hanya jika AS berhenti dengan kebijakan permusuhannya dan mengakui Korea Utara sebagai negara pemilik senjata nuklir,” ungkap Kim.

Selain itu, dalam beberapa waktu terakhir, Korea Utara menunjukkan peningkatan aktivitas militer, yang termasuk uji coba rudal jelajah dari kapal perang baru serta peluncuran roket yang diklaim dapat membawa hulu ledak nuklir.

Aktivitas ini semakin memperjelas niat Kim Jong Un untuk memperkuat posisi militer dan nuklir negara tersebut, yang ia anggap sebagai jaminan keamanan dalam menghadapi ancaman dari luar.

Pernyataan Kim Jong Un mengenai senjata nuklir dan perang Iran memberikan gambaran jelas mengenai bagaimana Korea Utara memandang pentingnya keberadaan senjata nuklir sebagai alat pengamanan negara.

Bagi Kim, kemampuan nuklir adalah kunci untuk mempertahankan kedaulatan negara dan mencegah terjadinya intervensi dari kekuatan besar seperti AS.

Sementara itu, meskipun ada sinyal dari Trump untuk membuka kembali jalur diplomasi, Kim Jong Un mengindikasikan bahwa Korea Utara tidak akan pernah melepaskan senjata nuklirnya.

Dengan demikian, kedepannya, hubungan antara AS dan Korea Utara kemungkinan akan tetap tegang, kecuali ada perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS yang mengakui status nuklir Pyongyang.