INBERITA.COM, Pemerintah Arab Saudi kini menunjukkan sikap tegas setelah wilayah kedaulatan mereka, termasuk ibu kota Riyadh, menjadi sasaran tembakan rudal balistik dari Iran.
Dalam sebuah pernyataan yang sangat tegas, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, mengungkapkan bahwa hubungan diplomatik yang sempat dibangun dengan Teheran telah hancur total akibat serangan tersebut.
“Kepercayaan yang kami bangun telah rusak sepenuhnya,” tegas Faisal dalam konferensi pers yang diadakan pada Sabtu (22/3/2026).
Serangan ini terjadi setelah ketegangan meningkat pasca serangan Israel terhadap fasilitas energi Iran di ladang gas South Pars pada Rabu (18/3/2026).
Sebagai balasan, Iran melancarkan rudal ke sejumlah target minyak dan gas di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi dan Qatar.
Kementerian Luar Negeri Saudi menuduh Iran melakukan serangan terencana terhadap negara-negara tetangganya, baik secara langsung maupun melalui kelompok proksi regional yang didukung oleh Teheran.
Dalam pertemuan diplomatik yang digelar di Riyadh, yang dihadiri oleh menteri luar negeri dari negara-negara Teluk dan kawasan seperti Turki, UEA, Yordania, dan Suriah, serangan rudal Iran terjadi tepat di tengah konferensi tersebut.
Rudal pencegat terlihat ditembakkan di dekat hotel tempat para diplomat tersebut menginap, menunjukkan betapa tinggi ketegangan yang melanda kawasan ini.
Pangeran Faisal dengan tegas menegaskan bahwa Arab Saudi memiliki hak untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran jika situasi ini terus memburuk.
“Tekanan dari Iran ini akan menjadi bumerang secara politik dan moral, tentu saja kami berhak untuk mengambil tindakan militer jika dianggap perlu,” ujarnya.
Faisal juga menambahkan bahwa meskipun Arab Saudi lebih memilih jalur diplomasi, peluang untuk membangun kembali kepercayaan dengan Iran semakin menipis jika Teheran terus melanjutkan aksi permusuhannya.
Serangan rudal balistik terbaru ini menandai pertama kalinya banyak warga Riyadh mendengar ledakan keras atau menerima pesan peringatan melalui SMS mengenai potensi ancaman.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa mereka berhasil menembak jatuh empat rudal balistik yang diluncurkan menuju Riyadh, meskipun beberapa puingnya jatuh di sekitar kilang minyak di selatan kota tersebut.
Sejak awal konflik, Arab Saudi telah menjadi sasaran ratusan rudal dan drone yang ditembakkan oleh Iran, namun sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka.
Kendati demikian, serangan-serangan ini semakin memperburuk ketegangan yang sudah ada, terutama setelah kedua negara ini memulihkan hubungan diplomatik pada tahun 2023 dengan tujuan meredakan ketegangan yang telah berlangsung lama.
Hubungan ini mulai terlihat membaik pasca kesepakatan yang didorong oleh pihak internasional, namun dengan semakin meluasnya serangan Iran, banyak yang mempertanyakan masa depan hubungan tersebut.
Dengan situasi yang semakin kritis, Pangeran Faisal menegaskan, “Arab Saudi masih lebih menyukai jalur diplomasi, tetapi jika Iran tidak segera berhenti, saya pikir hampir tidak ada yang dapat membangun kembali kepercayaan.”
Ketegangan yang terus berkembang ini membuat masyarakat internasional semakin khawatir akan dampak eskalasi perang yang bisa berlanjut di seluruh kawasan.