INBERITA.COM, Populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan, proporsi lansia diperkirakan akan mencapai 20 persen atau sekitar 50 juta orang pada tahun 2045.
Angka ini melonjak drastis dibandingkan 12 persen pada tahun 2024, menandakan bahwa Indonesia tengah menuju struktur demografi masyarakat menua. Peningkatan jumlah lansia ini menjadi perhatian serius pemerintah.
Ketua Tim Kerja Kesehatan Lanjut Usia Kementerian Kesehatan, dr Ari Setyaningrum, menyatakan bahwa sebanyak 21 dari 38 provinsi di Indonesia kini telah memasuki fase aging population, yang berarti proporsi lansia sudah cukup dominan di wilayah tersebut.
“Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat memiliki persentase lansia tertinggi, sedangkan jumlah terbanyak berada di Jawa Timur,” ungkap dr Ari saat menyampaikan sambutan dalam peringatan Bulan Alzheimer Dunia yang diinisiasi oleh Alzheimer Indonesia, Rabu (17/9/2025).
Situasi ini juga mengungkap fakta bahwa sistem perawatan lansia di Indonesia masih sangat mengandalkan keluarga. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 93 persen lansia tinggal bersama anggota keluarga.
Dari angka tersebut, 72,8 persen memilih dirawat oleh anak mereka, sementara 62,9 persen memang dirawat langsung oleh anaknya di rumah.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa, berbeda dengan negara-negara maju yang telah mengembangkan sistem perawatan lansia jangka panjang berbasis institusi, Indonesia masih bertumpu pada model perawatan keluarga.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat meningkatnya usia harapan hidup juga diikuti dengan meningkatnya risiko penyakit kronis dan penurunan fungsi tubuh pada lansia.
“Maka dari itu faktor-faktor yang menyebabkan lansia rentan terhadap penyakit harus dicegah sejak dini, karena yang nanti akan terbebani adalah anaknya kalau melihat dari data itu,” ujar dr Ari.
Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan serangkaian program guna meningkatkan kualitas hidup para lansia di Indonesia. Salah satu inisiatif utama adalah pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan secara berkala.
Pemeriksaan ini mencakup deteksi dini terhadap penyakit kronis serta penurunan fungsi tubuh seperti gangguan mobilitas, penglihatan, pendengaran, hingga penurunan kognitif seperti demensia.
Tak hanya itu, pemerintah juga memperkuat layanan kesehatan di tingkat rumah sakit dan puskesmas. Salah satunya adalah pengembangan layanan geriatri terpadu yang dirancang khusus untuk menangani kebutuhan medis para lansia secara holistik.
Di tingkat layanan primer, hadir pula puskesmas ramah lansia yang berfokus pada pelayanan yang lebih humanis dan menyeluruh.
Di bidang rehabilitatif, pemerintah mulai mengembangkan sistem perawatan jangka panjang bagi lansia dengan kebutuhan khusus.
Hal ini menjadi langkah awal untuk menjawab tantangan masa depan, ketika jumlah lansia dengan keterbatasan fisik dan mental diprediksi akan terus meningkat.
Penerapan sistem perawatan ini juga diharapkan mampu mengurangi beban keluarga yang selama ini menjadi penopang utama dalam merawat lansia.
Kolaborasi lintas sektor juga menjadi kunci dalam menyukseskan berbagai program kesehatan lansia yang telah dicanangkan pemerintah.
Menurut dr Ari, dukungan dari organisasi profesi, pemerintah daerah, hingga partisipasi aktif masyarakat sangat diperlukan agar tujuan dari program-program tersebut dapat tercapai secara optimal.
Penguatan kapasitas tenaga kesehatan juga disebut sebagai prioritas, agar proses skrining dan perawatan dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan di seluruh fasilitas kesehatan.
“Tujuan utama dari seluruh program ini adalah menjaga agar lansia tetap sehat, aktif, mandiri, dan bahagia. Mereka tetap bisa produktif dan berdaya guna bagi keluarga dan masyarakat,” tegas dr Ari.
Momentum peringatan Bulan Alzheimer Dunia ini pun dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga kesehatan lansia sejak dini, termasuk deteksi awal gangguan kognitif seperti Alzheimer dan demensia.
Hal ini dianggap krusial dalam membentuk sistem kesehatan nasional yang lebih tanggap terhadap kebutuhan populasi lansia yang terus berkembang.
Dengan jumlah lansia yang terus bertambah setiap tahun, pendekatan berbasis promotif dan preventif menjadi sangat penting untuk mengurangi beban sistem kesehatan di masa depan.
Kementerian Kesehatan berharap, melalui program-program ini, lansia di Indonesia tidak hanya bisa hidup lebih lama, tetapi juga hidup dengan kualitas yang baik dan tetap berkontribusi positif dalam kehidupan sosial maupun keluarga Indonesia. (xpr)