INBERITA.COM, Kabut asap yang sebelumnya lebih banyak muncul pada pagi dan malam hari kini mulai mengganggu aktivitas warga Kalimantan pada siang hari. Kondisi itu menjadi tanda bahwa kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah belum sepenuhnya terkendali.
Di Palangka Raya, asap bahkan dilaporkan membuat jarak pandang berkurang pada tengah hari. Situasi tersebut tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk.
Wahyu, warga Palangka Raya, menggambarkan kondisi yang dirasakannya dalam beberapa waktu terakhir.
“Siang sekarang gelap penuh asap, jarak pandangan terbatas, sudah banyak yang kena ISPA (Infeksi Saluran Peranapasan Akut),” katanya.
Keluhan warga tersebut sejalan dengan kondisi yang disaksikan relawan di lapangan. Sarasi Silvester Sinurat, Koordinator Youth Act Kalimantan, mengatakan asap mulai dirasakan sejak Juli.
Pada awalnya, kepulan asap lebih dominan pada pagi dan malam hari. Namun, dalam perkembangan terakhir, kondisi tersebut berubah.
“Asap sudah mulai dari Juli. Awalnya pagi sama malam saja, sekarang siang juga sudah kabut,” katanya.
Menurut Sarasi, hampir seluruh wilayah Kalimantan tidak luput dari keberadaan titik panas. Namun, titik kebakaran dengan skala lebih besar disebut berada di Kalimantan Barat.
Salah satu wilayah yang turut merasakan dampak asap cukup kuat adalah Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Posisi wilayah dan arah angin membuat asap dari kebakaran terbawa hingga ke kawasan tersebut.
“Karena angin membawa asap ke wilayah ini,” ujar Sarasi.
Persoalan utama bukan semata-mata jumlah titik api, melainkan karakter kebakaran yang terjadi. Kebakaran di lahan gambut memiliki tingkat kesulitan berbeda dibandingkan kebakaran di permukaan tanah biasa.
Api dapat bergerak dan membara di lapisan bawah, sementara dari permukaan yang terlihat hanya asap.
“Kelemahan kita di gambut karena apinya gak kelihatan tuh di atas, karena apinya menjalar di bawah dan biasanya hanya asap yang kelihatan di atas, jadi kalau di gambut dia membara dulu di bawah baru ke atas. Dan kita belum tahu tuh kedalaman apinya, karena kan kita hanya melihat asap,” kata Sarasi.
Karakter tersebut membuat proses pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan pengamatan visual. Titik yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar aman. Bara yang masih berada di bawah permukaan dapat kembali aktif ketika kondisi mendukung.
Hal itu pula yang membuat kerja pemadaman harus dilakukan berulang. Relawan yang berada di lapangan menghadapi persoalan lain berupa keterbatasan personel.
Ketika tenaga pemadam harus beristirahat setelah bekerja sejak pagi hingga sore, tidak selalu tersedia cukup personel untuk menjaga titik api sepanjang malam.
“Kami pagi sampai sore bekerja padamkan api, sudah capek istirahat, malam karena tidak ada personel lagi malam api besar lagi,” katanya.
Situasi tersebut menciptakan persoalan seperti lingkaran yang sulit diputus. Api dipadamkan pada siang hari, tetapi ketika pengawasan dan tenaga berkurang, bara yang tersisa dapat kembali membesar. Pemadaman akhirnya membutuhkan waktu lebih panjang dan sumber daya yang tidak sedikit.
Sarasi menilai berbagai elemen telah dilibatkan untuk menangani kebakaran. Namun, kebutuhan di lapangan masih lebih besar daripada kemampuan personel yang tersedia, termasuk dari unsur pemerintah.
Selain tenaga, ketersediaan air menjadi tantangan serius. Kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah membuat sumber air untuk mendukung pemadaman semakin terbatas. Sarasi mencontohkan kondisi sejumlah sungai yang mengalami penyusutan, termasuk Sungai Kahayan.
Krisis air membuat proses pemadaman menjadi semakin rumit. Petugas tidak hanya harus menemukan lokasi api, tetapi juga memastikan pasokan air dapat mencapai kawasan yang terbakar.
Dalam kondisi medan sulit, jarak menuju titik kebakaran turut menentukan seberapa cepat api bisa ditangani.
Bagi organisasi non-profit yang turut turun ke lapangan, kendala operasional juga muncul dalam bentuk kebutuhan bahan bakar.
Sarasi mengatakan relawan harus mengantre untuk memperoleh bahan bakar, sehingga waktu yang semestinya digunakan untuk menangani kebakaran ikut terbuang.
“Bagi kami lembaga non-profit, kendala kami kesulitan bahan bakar kita harus antre dulu. Dalam proses antre itu juga kita kan membuang waktu. Banyak waktu terbuang yang seharusnya kita berada di lapangan,” katanya.
Masalah keselamatan juga menjadi pertimbangan. Ketika hari mulai gelap, keberadaan bara api semakin sulit dikenali.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi relawan yang harus bergerak di area terbakar, terutama pada lahan yang permukaannya tidak selalu menunjukkan lokasi api yang sebenarnya.
“Memang sejauh ini belum ada pemadaman yang sampai malam hari,” kata Sarasi.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada pemadaman api yang terlihat. Pada kawasan gambut, upaya pencegahan agar api tidak kembali menyala menjadi sama pentingnya dengan memadamkan titik api yang sedang aktif.
Asap yang kini muncul hingga siang hari juga memperlihatkan dampak kebakaran yang telah masuk ke ruang kehidupan masyarakat.
Jarak pandang yang menurun dapat mengganggu aktivitas warga, sementara paparan asap meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan.
Di sisi lain, semakin luas wilayah yang terdampak membuat kebutuhan penanganan tidak hanya berupa tambahan tenaga pemadam.
Akses menuju lokasi, pasokan air, bahan bakar, perlengkapan keselamatan, hingga pemantauan titik api pada malam hari menjadi bagian dari persoalan yang saling berkaitan.
Selama bara di bawah permukaan gambut masih tersimpan dan sumber daya pemadaman terbatas, kebakaran dapat kembali muncul setelah api di permukaan terlihat berhasil dikendalikan.
Karena itu, kondisi asap di Kalimantan menjadi peringatan bahwa keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari berapa banyak api yang berhasil dipadamkan dalam satu hari.
Yang lebih menentukan adalah apakah titik-titik tersebut benar-benar berhenti membara dan tidak kembali menjadi kebakaran pada malam berikutnya.