Kapal Minyak ADNOC Diserang di Selat Hormuz, UEA Menuding Iran Sebagai Pelaku

INBERITA.COM, Uni Emirat Arab (UEA) melontarkan kecaman keras kepada Iran setelah dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) diserang di Selat Hormuz.

Serangan yang terjadi pada Kamis malam (13/8/2026) itu menimbulkan ketegangan baru di kawasan yang selama ini menjadi jalur pelayaran strategis bagi pasokan minyak global.

Kementerian Luar Negeri UEA menyebut serangan tersebut sebagai tindakan bermusuhan yang tidak dapat diterima.

Dalam pernyataannya, UEA menegaskan bahwa tidak ada korban luka dalam insiden tersebut, namun menekankan bahwa aksi tersebut merupakan ancaman serius terhadap stabilitas kawasan.

Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, mengonfirmasi serangan tersebut dan menyatakan situasi telah terkendali.

Iran sendiri belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut. Namun, pernyataan sebelumnya dari pejabat militer Iran menunjukkan bahwa Teheran menganggap Selat Hormuz sebagai wilayah kedaulatannya.

Juru bicara komando militer pusat Iran, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa izin dari pihak berwenang Iran.

Klaim Iran atas kendali penuh atas Selat Hormuz ini mendapat bantahan keras dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan bahwa AS memiliki kendali penuh atas selat tersebut dan akan mempertahankannya.

Trump menyebut blokade Angkatan Laut AS sebagai “dinding baja” yang tidak dapat ditembus oleh Iran.

Pernyataan Trump tersebut memicu reaksi balik dari Iran. Militer Iran menuding klaim AS sebagai kebohongan dan menyatakan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Republik Islam Iran.

Pihak Iran juga menekankan bahwa setiap kapal yang melintas harus mendapatkan izin dari angkatan bersenjata mereka.

Serangan terhadap kapal-kapal ADNOC ini bukanlah insiden pertama yang terjadi di Selat Hormuz dalam beberapa waktu terakhir.

UEA sebelumnya juga melaporkan serangan serupa pada awal Agustus yang menargetkan kapal-kapal milik ADNOC. Insiden ini terjadi setelah Iran memberlakukan blokade efektif di Selat Hormuz sejak Februari lalu.

Blokade yang dilakukan Iran ini juga mencakup rencana untuk mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintas. Langkah ini mendapat penentangan keras dari Amerika Serikat, yang menganggapnya sebagai tindakan pemaksaan yang melanggar hukum internasional.

UEA bahkan menyebut tindakan Iran sebagai bentuk “pembajakan” yang mengancam pasokan energi global.

Ketegangan di Selat Hormuz ini semakin kompleks dengan adanya pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai pengelolaan selat di masa depan. Sementara itu, AS terus menegaskan komitmennya untuk menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.

Konflik ini menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan Timur Tengah dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin tidak stabil.

Dampak dari serangan ini tidak hanya terbatas pada hubungan diplomatik antara UEA dan Iran. Pasokan minyak global yang melewati Selat Hormuz juga berpotensi terganggu, mengingat selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia.

Gangguan terhadap pasokan minyak dapat berdampak luas terhadap ekonomi global, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah.

UEA, sebagai salah satu negara yang sangat bergantung pada jalur pelayaran ini, telah mengimbau komunitas internasional untuk mengambil tindakan tegas terhadap tindakan Iran.

Negara-negara di kawasan juga diharapkan dapat bekerja sama untuk menjaga stabilitas dan keamanan Selat Hormuz demi kepentingan bersama.

Sementara itu, Iran tetap pada pendiriannya bahwa Selat Hormuz adalah wilayah kedaulatannya dan setiap kapal yang melintas harus mematuhi aturan yang ditetapkan oleh pemerintah mereka.

Ketegangan ini menunjukkan bahwa persoalan di Selat Hormuz tidak hanya melibatkan dua negara, tetapi juga melibatkan kepentingan global yang lebih luas.

Dalam konteks ini, peran organisasi internasional seperti PBB dan International Maritime Organization (IMO) menjadi sangat penting.

Organisasi-organisasi ini diharapkan dapat memfasilitasi dialog dan mencari solusi damai untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat membahayakan stabilitas kawasan dan pasokan energi global.