Kanselir Jerman Friedrich Merz Sebut Absennya Trump di KTT G20 Afrika Selatan Sebagai Keputusan yang Kurang Tepat

INBERITA.COM, Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik terhadap keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memilih untuk memboikot Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang digelar di Johannesburg, Afrika Selatan.

Menurut Merz, ketidakhadiran AS di pertemuan internasional ini bukanlah langkah yang tepat, meskipun keputusan tersebut merupakan hak prerogatif pemerintah Amerika.

“Saya rasa ketidakhadiran pemerintah Amerika di sini bukanlah keputusan yang baik. Namun, itu adalah sesuatu yang harus diputuskan sendiri oleh pemerintah Amerika,” ujar Merz kepada wartawan pada Senin (24/11/2025).

Ia juga menambahkan bahwa ketidakhadiran AS di KTT G20 memperlihatkan adanya perubahan besar di kancah geopolitik dunia.

Merz berpendapat bahwa dunia kini tengah mengalami penataan ulang besar-besaran dan pembentukan koneksi baru antar negara.

“Kita dapat melihat bahwa dunia saat ini sedang mengalami penataan ulang dan koneksi baru sedang terbentuk di sini,” kata Merz.

Penyebab absennya Presiden Trump dari KTT G20 di Afrika Selatan dilatarbelakangi oleh pernyataan kontroversialnya mengenai Afrika Selatan.

Trump menuduh negara tersebut melakukan penganiayaan dan persekusi terhadap petani kulit putih di sana, meskipun tidak memberikan bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

Keputusan Trump untuk tidak hadir dalam pertemuan puncak ini berlanjut dengan kritik dari Merz, yang menyebutkan bahwa meskipun peran AS dalam KTT G20 kali ini cukup minim, negara tersebut tetap memiliki tanggung jawab besar dalam agenda global.

Merz mencatat bahwa, meskipun AS hanya disebut-sebut sepintas oleh Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dalam pidato penutupan, peran Amerika tetap krusial dalam politik internasional.

“Jadi, banyak hal terjadi di sini, dan Amerika hanya disebut-sebut sepintas,” kata Merz, menambahkan bahwa pada saat penutupan KTT, Presiden Ramaphosa menyerahkan kepresidenan G20 kepada AS sebagai tuan rumah berikutnya pada 2026.

Selain itu, Merz juga menanggapi rencana perdamaian yang diajukan oleh pemerintah AS terkait konflik Ukraina. Menurutnya, meskipun ada upaya untuk menemukan solusi politik, perbedaan pendapat antar negara masih menjadi hambatan besar.

Merz mengungkapkan keraguannya apakah kesepakatan dapat tercapai pada Kamis mendatang, yang menunjukkan adanya ketegangan dalam diplomasi internasional terkait masalah Ukraina.

“Saat ini, saya masih belum yakin bahwa kami akan mencapai solusi politik pada Kamis, mengingat adanya perbedaan pendapat di antara kita, tetapi kita harus menunggu dan melihat,” ungkap Merz.

Kanselir Jerman ini juga menyebutkan bahwa ia telah meluncurkan inisiatif baru yang memungkinkan tercapainya kesepakatan di antara negara-negara besar, meskipun ia enggan merinci lebih lanjut mengenai poin tersebut.

“Ini bisa menjadi satu poin di mana kesepakatan dapat dicapai dengan Amerika dan Rusia,” ujar Merz.

Dalam pandangan Merz, perang di Ukraina tidak dapat diselesaikan tanpa persetujuan yang jelas dari pihak Ukraina.

Ia menegaskan bahwa “perang tidak dapat diakhiri oleh kekuatan besar yang berada di atas kepala negara-negara yang terlibat,” merujuk pada upaya-upaya internasional yang berfokus pada perdamaian tanpa melibatkan pihak yang langsung terlibat dalam konflik.

Merz juga menyoroti dampak besar yang akan terjadi jika Ukraina gagal dalam perangnya melawan Rusia.

Menurutnya, kegagalan Ukraina akan mempengaruhi stabilitas politik di seluruh benua Eropa. Ia menegaskan komitmen Jerman dalam masalah ini, mengingat posisi strategis Ukraina dalam peta geopolitik Eropa.

“Jika Ukraina kalah dalam perang ini dan kemungkinan runtuh, hal itu akan berdampak pada politik Eropa secara keseluruhan, di seluruh benua Eropa. Dan itulah mengapa kami sangat berkomitmen pada isu ini,” ujar Merz.

Dengan sikap Jerman yang mendukung Ukraina, Merz memastikan bahwa negara tersebut akan terus berupaya untuk menemukan solusi politik yang adil, meskipun jalannya penuh dengan tantangan diplomatik dan perbedaan pendapat dengan negara-negara besar lainnya, termasuk Amerika Serikat.

Ketidakhadiran Presiden Trump dalam KTT G20 di Afrika Selatan mengundang kritik dari Kanselir Jerman Friedrich Merz, yang menilai bahwa dunia sedang mengalami perubahan besar dalam hal koneksi dan aliansi internasional.

Meskipun Amerika Serikat tidak hadir secara langsung dalam pertemuan puncak ini, Merz mengingatkan pentingnya peran AS dalam proses penataan ulang geopolitik global.

Di sisi lain, Merz juga menyampaikan ketidakpastian mengenai kesepakatan perdamaian Ukraina, dengan menekankan bahwa penyelesaian konflik ini membutuhkan persetujuan yang jelas dari Ukraina dan akan berdampak besar pada politik Eropa secara keseluruhan.

Merz memastikan bahwa Jerman tetap berkomitmen untuk menemukan solusi damai bagi Ukraina, meskipun menghadapi tantangan besar dalam diplomasi internasional. (xpr)