INBERITA.COM, Dentuman ledakan kembali mengguncang Jalur Gaza ketika warga Palestina sedang memperingati Nakba, peristiwa yang selama puluhan tahun menjadi simbol kehilangan tanah, pengusiran massal, dan trauma kolektif rakyat Palestina sejak 1948.
Di tengah momentum emosional tersebut, serangan udara Israel pada Jumat malam memicu korban jiwa baru dan memperlihatkan rapuhnya situasi gencatan senjata yang sebelumnya sempat memberi harapan meredanya konflik berkepanjangan.
Sedikitnya tujuh warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 50 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang menghantam sejumlah titik di Gaza.
Otoritas layanan darurat setempat menyebut para korban langsung dievakuasi menuju Rumah Sakit Al-Shifa yang kembali dipenuhi pasien luka akibat ledakan.
Serangan tersebut bukan sekadar operasi militer biasa. Pemerintah Israel secara terbuka menyatakan target utama mereka adalah Izz al-Din al-Haddad, sosok yang kini disebut sebagai komandan tertinggi sayap militer Hamas di Gaza.
Operasi ini menjadi serangan paling signifikan terhadap petinggi Hamas sejak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan pada Oktober tahun lalu.
Militer Israel menyebut tiga jet tempur Angkatan Udara dikerahkan dalam operasi tersebut. Sedikitnya 13 bom dijatuhkan ke sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan keberadaan al-Haddad. Hingga kini belum ada kepastian apakah tokoh Hamas tersebut tewas atau berhasil selamat dari serangan.
Ketiadaan konfirmasi dari kedua pihak justru memperbesar ketegangan. Hamas belum memberikan pernyataan resmi mengenai nasib al-Haddad, sementara pejabat keamanan senior Israel hanya menyebut operasi itu “kemungkinan berhasil”.
Situasi itu memperlihatkan bagaimana konflik di Gaza masih berada dalam fase yang sangat rentan meski secara formal kedua pihak terikat gencatan senjata.
Dalam beberapa bulan terakhir, serangan berskala terbatas terus terjadi dan saling tuding pelanggaran kesepakatan tak pernah benar-benar berhenti.
Momentum serangan yang bertepatan dengan peringatan Nakba juga memunculkan resonansi politik dan emosional yang besar di Palestina. Nakba atau “malapetaka” diperingati setiap tahun sebagai pengingat pengusiran sekitar 957 ribu warga Palestina dari tanah mereka setelah berdirinya Israel pada 1948.
Bagi banyak warga Gaza, peringatan itu bukan sekadar sejarah masa lalu, melainkan realitas yang terus berulang melalui perang, blokade, dan kehilangan tempat tinggal.
Di sejumlah wilayah Gaza, warga dilaporkan berlarian mencari perlindungan setelah ledakan terdengar beruntun. Saksi mata menyebut salah satu serangan menghantam sebuah apartemen di kawasan Rimal, Kota Gaza. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai beberapa lainnya.
Tak lama setelah itu, serangan udara kedua menghantam sebuah kendaraan di jalan yang tidak jauh dari lokasi pertama.
Petugas medis belum memastikan jumlah korban dalam serangan lanjutan tersebut, namun situasi di lapangan dilaporkan berlangsung kacau karena warga panik dan akses evakuasi terbatas.
Dalam pernyataan bersama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menuduh al-Haddad sebagai salah satu tokoh utama di balik serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menjadi titik awal perang besar di Gaza.
“Al-Haddad bertanggung jawab atas pembunuhan, penculikan, dan kerugian yang ditimbulkan pada ribuan warga sipil (dan) tentara Israel,” demikian pernyataan keduanya.
Israel juga menuding tokoh Hamas tersebut menolak skema demiliterisasi Gaza yang sebelumnya didorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Proposal itu mengharuskan Hamas melucuti senjata sebagai bagian dari rencana pascaperang, namun pembicaraan mengenai masa depan Gaza hingga kini masih menemui jalan buntu.
Al-Haddad sendiri diketahui mengambil alih kepemimpinan militer Hamas setelah Israel membunuh Mohammad Sinwar pada Mei 2025. Mohammad merupakan saudara dari Yahya Sinwar, figur yang selama ini dianggap sebagai salah satu arsitek utama serangan Hamas ke Israel pada Oktober 2023.
Dengan struktur kepemimpinan Hamas yang terus berubah akibat operasi militer Israel, al-Haddad dipandang sebagai figur penting yang menjaga kendali kelompok tersebut di Gaza.
Karena itu, operasi terbaru Israel dinilai memiliki nilai strategis sekaligus simbolik dalam konflik yang belum menunjukkan tanda berakhir.
Di sisi lain, serangan ini kembali memunculkan sorotan terhadap dampak kemanusiaan perang yang terus memburuk. Jalur Gaza selama bertahun-tahun mengalami kehancuran infrastruktur akibat serangan berulang, blokade, serta keterbatasan pasokan kebutuhan dasar.
Banyak wilayah kini berada dalam kondisi rusak berat, sementara sistem kesehatan kesulitan menangani lonjakan korban sipil.
Sejak operasi militer Israel dimulai beberapa tahun lalu, otoritas kesehatan Palestina mencatat lebih dari 72 ribu orang tewas dan sekitar 172 ribu lainnya mengalami luka-luka. Angka tersebut menggambarkan besarnya skala krisis yang terjadi di wilayah padat penduduk tersebut.
Kondisi ini ikut memicu meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel. Sejumlah negara Barat yang sebelumnya memberi dukungan kuat mulai menghadapi tekanan domestik akibat tingginya korban sipil dan memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza.
Ancaman sanksi serta kritik dari berbagai organisasi internasional terus bermunculan dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, operasi militer Israel tampaknya belum menunjukkan tanda melambat. Pemerintah Israel tetap menegaskan bahwa target utama mereka adalah melumpuhkan kemampuan militer Hamas sepenuhnya.
Sementara Hamas masih mempertahankan pengaruhnya di sebagian wilayah Gaza yang belum dikuasai pasukan Israel.
Kebuntuan inilah yang membuat prospek perdamaian semakin sulit diprediksi. Gencatan senjata yang sempat diharapkan menjadi pintu masuk menuju stabilitas justru terus diuji oleh operasi militer, serangan balasan, dan perebutan pengaruh politik di lapangan.
Bagi warga sipil Gaza, situasi tersebut berarti satu hal: ancaman perang belum benar-benar pergi. Di tengah keterbatasan pangan, kerusakan rumah, dan trauma berkepanjangan, suara ledakan kembali menjadi bagian dari keseharian yang sulit dihindari.