INBERITA.COM, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan besar-besaran dengan empat rudal balistik yang menghantam kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln (CVN-72).
Serangan ini dilaporkan sebagai bagian dari Operasi True Promise 4, yang disebut-sebut sebagai babak baru dalam eskalasi konflik yang telah lama berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu, 1 Maret 2026, IRGC menegaskan bahwa serangan ini merupakan respons atas tindakan militer musuh, yang menurut mereka telah menyebabkan kerusakan serius bagi Republik Islam Iran.
“Kapal induk Angkatan Laut AS Abraham Lincoln diserang dengan empat rudal balistik,” ungkap IRGC dalam rilisnya, yang kemudian dipublikasikan oleh Kantor Berita Tasnim.
Menurut IRGC, serangan ini menandakan dimulainya fase baru dalam pertempuran ini.
“Serangan dahsyat angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap kekuatan militer musuh yang lelah memasuki fase baru. Darat dan laut akan semakin menjadi kuburan para agresor teroris,” lanjut pernyataan itu, yang dilansir oleh EurAsian Times.
Namun, hingga kini klaim dari Iran tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Pentagon maupun Angkatan Laut AS belum memberikan konfirmasi atau tanggapan resmi terkait klaim ini, meninggalkan ruang bagi spekulasi dan ketidakpastian mengenai sejauh mana serangan ini terjadi.
Serangan rudal ini datang setelah serangan besar-besaran yang dilakukan oleh AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026.
Kematian Khamenei telah memicu reaksi keras dari Iran, yang kini meningkatkan intensitas pertempuran dengan pasukan Amerika.
Dalam sebuah pengumuman terpisah, Pentagon mengonfirmasi bahwa tiga anggota militer AS tewas dalam pertempuran yang terjadi setelah serangan besar tersebut, sementara lima lainnya terluka parah.
Namun, Pentagon tidak merinci lokasi atau detail lebih lanjut mengenai kejadian ini. Korban tewas ini menjadi yang pertama diumumkan oleh AS sejak serangan besar-besaran terhadap Iran dimulai, yang mengarah pada kematian Ayatollah Khamenei.
Ketegangan yang terus meningkat ini menunjukkan bahwa kedua negara—Iran dan Amerika Serikat—sedang berada di ambang konflik terbuka yang dapat meluas, dengan dampak yang signifikan terhadap stabilitas regional dan internasional.
Jika klaim IRGC terbukti benar, ini akan menjadi serangan balistik besar pertama yang diluncurkan oleh Iran terhadap kapal perang AS dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan pergeseran dalam taktik dan peningkatan kemampuan militer Iran.
Kapal induk USS Abraham Lincoln sendiri adalah simbol kekuatan militer AS, yang kerap digunakan dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah. Serangan semacam ini bisa memicu reaksi besar dari AS, yang mungkin memperburuk ketegangan yang sudah ada.
Sementara itu, militer Iran mengklaim bahwa serangan ini adalah bukti dari komitmen mereka untuk terus melawan kekuatan asing yang mereka anggap sebagai penjajah dan penindas.
“Ini adalah awal dari pembalasan yang lebih besar,” ujar seorang pejabat IRGC dalam pernyataan tersebut, menambahkan bahwa serangan ini hanya bagian dari serangkaian langkah yang lebih luas untuk memperkuat dominasi militer Iran di kawasan tersebut.
Serangan ini tentu saja akan memperburuk ketegangan di Timur Tengah, yang telah dilanda ketidakstabilan sejak lama. Jika terbukti bahwa Iran benar-benar berhasil menyerang kapal perang AS, ini bisa menjadi momen penentu dalam konflik yang lebih luas antara dua negara ini.
Serangan ini berpotensi mempengaruhi kebijakan AS dan negara-negara sekutunya, terutama terkait dengan kehadiran militer mereka di Timur Tengah.
Bagi Israel, serangan ini bisa menambah ketegangan lebih jauh, mengingat hubungan dekat antara Tel Aviv dan Washington, serta keterlibatan mereka dalam serangan sebelumnya terhadap Iran.
Tidak hanya itu, negara-negara besar lainnya yang memiliki kepentingan di kawasan, seperti Rusia dan Cina, akan terus mengamati perkembangan ini, mengingat potensi eskalasi yang bisa memengaruhi stabilitas global.