INBERITA.COM, Iran kembali menunjukkan sikap tegas dalam konflik yang melibatkan Selat Hormuz. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa negara-negara Eropa dan Arab dapat memperoleh akses bebas hambatan untuk melintasi Selat Hormuz, namun dengan satu syarat yang cukup berat: mereka harus mengusir diplomat Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Tawaran ini disampaikan melalui siaran televisi pemerintah Iran yang menggarisbawahi konsekuensi diplomatik bagi negara-negara yang ingin memanfaatkan jalur vital tersebut.
IRGC menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil setelah penutupan Selat Hormuz akibat serangan agresif yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Teheran. Dalam perkembangan sebelumnya, Iran telah menanggapi dengan serangan balasan, termasuk menenggelamkan kapal tanker yang mencoba melintasi selat tersebut.
“Negara-negara yang bersedia mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel akan dijamin akses penuh dan kebebasan melintasi Selat Hormuz,” ujar pejabat militer Iran, yang menjelaskan bahwa langkah ini adalah respons terhadap kebijakan Washington yang dinilai agresif terhadap Teheran.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur strategis yang menghubungkan negara-negara penghasil minyak di Timur Tengah dengan pasar energi global.
Sekitar 20 persen pengiriman minyak dunia melewati selat ini setiap harinya, sehingga gangguan pada jalur tersebut akan langsung mempengaruhi pasokan energi global.
Dengan menawarkan akses bebas melintas, Iran berupaya mengguncang posisi diplomatik negara-negara yang bergantung pada impor energi, sembari mengalihkan tekanan terhadap AS dan sekutunya.
Teheran Menuntut Negara Pilih Satu: Pertahankan Hubungan dengan AS atau Keamanan Pasokan Energi
Tawaran ini, menurut IRGC, merupakan balasan langsung terhadap kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang dianggap berniat untuk menguasai Selat Hormuz secara sepihak demi menjaga kelancaran jalur pelayaran komersial internasional.
Iran berusaha memaksa negara-negara asing, baik yang berada di bawah pengaruh Washington maupun yang netral, untuk memilih antara melanjutkan hubungan diplomatik dengan AS dan Israel, atau menjamin keamanan pasokan energi mereka melalui Selat Hormuz.
Dalam siaran tersebut, Iran menegaskan bahwa hanya negara-negara yang mengikuti ketentuan ini yang akan terhindar dari ancaman terhadap pengiriman barang dan barang ekspor lainnya.
Pemerintah Teheran berupaya menekankan bahwa pilihan tersebut akan menentukan nasib mereka dalam menjaga hubungan dengan negara-negara besar serta akses vital terhadap sumber daya energi.
Perubahan kepemimpinan di Iran turut memperburuk ketegangan ini. Setelah Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, meninggal dunia dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, posisi tersebut kini diambil alih oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Meskipun baru memegang kekuasaan, Mojtaba Khamenei sudah menunjukkan sikap yang lebih keras terhadap AS, dengan menolak gencatan senjata dan memperpanjang serangan terhadap Israel serta aset-aset milik AS di negara tetangga.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berulang kali menyatakan bahwa konflik antara AS dan Iran akan segera berakhir.
Namun, meskipun Trump mengklaim bahwa banyak kemajuan telah dicapai dan kemenangan sudah berada di tangan AS, Iran tampaknya tetap melanjutkan serangan harian mereka terhadap Israel dan kepentingan-kepentingan AS di kawasan tersebut.
Serangan ini mengindikasikan bahwa Iran belum berniat untuk menyerah, bahkan dengan adanya klaim dari Gedung Putih mengenai penurunan intensitas perang.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa Iran bersiap untuk menghadapi pertempuran yang lebih panjang, yang tidak hanya memengaruhi hubungan internasional, tetapi juga berdampak pada jalur pelayaran global.
Dengan terus berlanjutnya ketegangan ini, Selat Hormuz menjadi salah satu titik rawan yang dapat mempengaruhi ekonomi global, khususnya dalam hal harga minyak dan pasokan energi. Setiap gangguan di jalur ini berpotensi menambah volatilitas harga minyak dan bahan bakar di pasar internasional.
Iran kini menantang dunia untuk memilih antara menjalin hubungan dengan AS dan Israel atau menjaga jalur pasokan energi vital mereka tetap terbuka.
Bagi negara-negara yang bergantung pada energi dari Timur Tengah, keputusan ini akan memberikan dilema diplomatik yang tidak mudah, di mana mereka harus menimbang dengan hati-hati dampak jangka panjang dari hubungan mereka dengan kedua negara tersebut.
Pada saat yang sama, Iran menunjukkan bahwa mereka siap untuk terus melawan dan mempertahankan posisi mereka dengan cara yang lebih tegas.
Dalam konteks ini, dunia akan terus memperhatikan setiap perkembangan baru di kawasan Teluk Persia, di mana ketegangan ini bukan hanya soal politik, tetapi juga terkait dengan masa depan pasokan energi global.