INBERITA.COM, Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas di salah satu jalur pelayaran paling strategis dunia, Selat Hormuz.
Kontroversi terbaru muncul setelah muncul klaim bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat mengawal sebuah kapal tanker minyak melewati jalur tersebut. Namun klaim itu hanya bertahan sekitar 30 menit sebelum akhirnya dihapus, memicu reaksi keras dari Teheran.
Insiden ini segera berkembang menjadi drama diplomatik yang melibatkan pejabat tinggi kedua negara.
Iran bahkan secara terbuka mengejek pernyataan tersebut dan menuduh Washington menyebarkan informasi yang tidak benar untuk memengaruhi pasar energi global.
Ketua Parlemen Republik Islam Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, termasuk salah satu pejabat yang melontarkan kritik keras terhadap klaim Amerika Serikat.
Ia menilai pernyataan tersebut tidak sesuai dengan situasi sebenarnya di kawasan Selat Hormuz yang saat ini berada dalam ketegangan tinggi akibat konflik.
Kontroversi bermula ketika Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengunggah pernyataan di media sosial pada pukul 13.02 waktu setempat atau sekitar pukul 17.00 GMT.
Dalam unggahan tersebut, ia mengklaim bahwa Angkatan Laut Amerika telah mengawal sebuah kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz.
Wright juga memuji pemerintahan Presiden Donald Trump karena dinilai berhasil menjaga stabilitas energi global selama operasi militer yang berlangsung melawan Iran.
Namun unggahan tersebut hanya bertahan sekitar setengah jam sebelum akhirnya dihapus tanpa penjelasan resmi. Penghapusan itu langsung menimbulkan spekulasi luas mengenai keakuratan klaim tersebut.
Seorang juru bicara Departemen Energi Amerika kemudian memberikan klarifikasi terkait unggahan yang memicu polemik tersebut.
Menurutnya, pernyataan yang diunggah oleh Wright sebenarnya merupakan kesalahan dalam pemberian keterangan yang dilakukan oleh staf Departemen Energi.
Sementara itu, Gedung Putih juga segera memberikan klarifikasi untuk meredam kontroversi yang berkembang.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut Amerika sebenarnya tidak pernah terjadi.
“Saya dapat memastikan bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini, meskipun tentu saja itu adalah opsi yang menurut Presiden akan sangat mungkin digunakan jika dan ketika diperlukan, pada waktu yang tepat,” katanya kepada wartawan.
Pernyataan tersebut tidak menghentikan kritik dari pihak Iran. Beberapa pejabat tinggi di Teheran justru merespons dengan nada keras dan menuduh Amerika Serikat menyebarkan informasi yang menyesatkan.
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Sardar Ali Mohammad Naeini, menegaskan bahwa tidak ada kapal perang Amerika yang berani mendekati wilayah perairan yang berada di bawah pengawasan Iran.
“Tidak ada kapal AS yang berani mendekati Laut Oman, Teluk Persia, atau Selat Hormuz selama perang,” kata Naeini dalam pernyataan yang disiarkan oleh lembaga penyiaran publik IRIB.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap upaya pergerakan armada Amerika Serikat maupun sekutunya akan dihadapi dengan kekuatan militer Iran.
“Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone kami,” tegasnya.
Nada ancaman juga disampaikan oleh Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri. Melalui akun resminya di platform X, ia menyatakan bahwa Iran siap menghentikan setiap operasi pengawalan kapal yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Menurutnya, pasukan Iran memiliki berbagai kemampuan militer untuk menghadapi armada asing, termasuk penggunaan rudal dan kapal selam.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyampaikan pesan yang bernada peringatan namun lebih filosofis terkait situasi di Selat Hormuz.
“Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua pihak, atau menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Iran Sayyid Abbas Araqchi juga ikut angkat bicara mengenai kontroversi tersebut. Ia menilai unggahan yang sempat dipublikasikan oleh Menteri Energi Amerika Serikat merupakan bentuk disinformasi yang disengaja.
Menurutnya, informasi tersebut sengaja disebarkan untuk memengaruhi pergerakan pasar minyak dunia yang sangat sensitif terhadap situasi di Selat Hormuz.
“Para pejabat AS menyebarkan berita palsu untuk memanipulasi pasar,” tulisnya di media sosial.
“Hal itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika.”
Ketegangan yang berkembang di Selat Hormuz langsung berdampak pada pasar energi global. Informasi yang beredar sempat memicu gejolak harga minyak dalam waktu singkat.
Harga minyak mentah Amerika yang sebelumnya berada di kisaran 84 dolar AS per barel tiba-tiba merosot tajam hingga 76,73 dolar AS setelah klaim tersebut beredar.
Namun setelah unggahan tersebut dihapus, harga kembali naik hingga mencapai sekitar 84,70 dolar AS per barel.
Fluktuasi harga juga terjadi pada patokan minyak dunia Brent. Pada Selasa (10/3/2026), harga minyak Brent tercatat turun 11,3 persen menjadi 87,80 dolar AS per barel.
Padahal sehari sebelumnya harga sempat melonjak hingga hampir menyentuh 120 dolar AS per barel, menunjukkan tingginya volatilitas pasar akibat ketidakpastian geopolitik.
Ketegangan di kawasan ini semakin meningkat setelah muncul laporan intelijen yang menyebut Iran mulai memasang ranjau di jalur pelayaran Selat Hormuz.
Selat tersebut merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia atau sekitar 20 juta barel per hari biasanya melewati jalur ini sebelum konflik memanas.
Meski pemasangan ranjau disebut belum dilakukan dalam skala besar, Korps Garda Revolusi Iran dilaporkan memiliki kemampuan untuk menyebarkan ratusan ranjau menggunakan kapal kecil dan kapal cepat.
Ancaman tersebut membuat jalur pelayaran di kawasan itu semakin berisiko bagi kapal komersial maupun militer.
Situasi semakin rumit setelah seorang senator Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pemerintah sebenarnya belum memiliki rencana yang jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz jika jalur tersebut benar-benar diblokade.
Senator Christopher Scott Murphy menyampaikan pernyataan tersebut setelah mengikuti pengarahan tertutup dari pemerintah kepada Kongres.
“Di Selat Hormuz, mereka tidak punya rencana. Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang bagaimana Iran menyumbat Selat tersebut, tetapi cukup dikatakan, saat ini, mereka (pemerintah AS) tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman,” tulisnya di media sosial.
Sejumlah analis militer juga memperingatkan bahwa operasi pengawalan kapal di kawasan tersebut memiliki risiko yang sangat tinggi.
Peneliti dari Center for Naval Analyses Amerika Serikat, Jonathan Schroden, menilai kapal perang Amerika bisa menghadapi ancaman serius jika mencoba mendekati wilayah tersebut.
Menurutnya, armada Amerika berisiko terkena ranjau laut atau diserang menggunakan rudal serta kendaraan nirawak laut dan udara.
Saat ini, kapal induk dan sejumlah kapal perang Amerika dilaporkan berada lebih dari 500 kilometer dari pesisir Iran. Sementara lebar Selat Hormuz sendiri tidak mencapai 50 kilometer.