INBERITA.COM, Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak selama puluhan tahun menjadi salah satu tantangan besar dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat dan fluktuasi harga minyak dunia yang sulit diprediksi, pemerintah kini menyiapkan langkah yang jauh lebih ambisius: memenuhi seluruh kebutuhan solar dan bensin dari sumber daya dalam negeri berbasis kelapa sawit.
Target tersebut disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menegaskan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk mengurangi bahkan menghentikan ketergantungan terhadap impor bahan bakar di masa mendatang.
Menurutnya, potensi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang dimiliki Indonesia sangat besar dan dapat menjadi fondasi utama kemandirian energi nasional.
Dalam kuliah umum yang digelar di Universitas Halu Oleo pada Sabtu (6/6/2026), Amran menyebut pemerintah sedang mengarahkan berbagai kebijakan agar kebutuhan bahan bakar nasional dapat dipenuhi dari hasil produksi domestik.
“Nantinya 100 persen enggak ada impor, bensinnya dari sawit solarnya dari sawit. Inilah kita diganggu terus, inilah kita diganggu terus,” kata Amran sebagaimana dikutip dari tayangan yang diunggah Universitas Halu Oleo.
Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya target yang sedang dibangun pemerintah. Selama ini, sawit lebih banyak dikenal sebagai bahan baku biodiesel yang dicampurkan ke dalam solar.
Namun perkembangan teknologi membuka peluang yang lebih luas, termasuk menghasilkan bahan bakar setara bensin dari minyak sawit.
Indonesia sendiri memiliki posisi strategis dalam industri sawit global. Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, ketersediaan bahan baku menjadi salah satu keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain.
Kondisi ini membuat pemerintah melihat sektor sawit bukan hanya sebagai komoditas ekspor, melainkan juga sebagai instrumen penting untuk memperkuat ketahanan energi.
Upaya menuju kemandirian energi berbasis sawit tidak hanya dilakukan melalui kebijakan, tetapi juga lewat kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset.
Salah satu langkah yang sudah berjalan adalah kerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk mengembangkan teknologi pengolahan CPO menjadi bahan bakar setara bensin.
Inovasi tersebut dinilai penting karena memperluas pemanfaatan sawit yang selama ini lebih banyak diarahkan ke biodiesel.
Dengan teknologi yang terus berkembang, potensi sawit sebagai sumber energi alternatif semakin besar dan berpeluang menggantikan sebagian kebutuhan bahan bakar fosil yang selama ini masih bergantung pada impor.
Saat ini pemerintah masih menjalankan program mandatori biodiesel B40. Skema ini mengharuskan penggunaan campuran 40 persen biodiesel berbasis sawit dan 60 persen solar konvensional.
Program tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam mengurangi konsumsi bahan bakar berbasis minyak bumi.
Menurut Amran, implementasi program biodiesel telah memberikan dampak nyata terhadap penurunan kebutuhan impor energi.
“Tahun ini kita tidak impor solar 5 juta ton,” ujarnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa substitusi energi berbasis sawit mulai menghasilkan efek ekonomi yang signifikan. Berkurangnya impor berarti penghematan devisa negara yang selama ini digunakan untuk membeli bahan bakar dari luar negeri.
Selain itu, peningkatan penggunaan biodiesel juga berpotensi memperkuat permintaan domestik terhadap hasil perkebunan sawit nasional.
Langkah berikutnya yang tengah disiapkan pemerintah adalah meningkatkan kadar campuran biodiesel menjadi B50. Artinya, komposisi bahan bakar nantinya akan terdiri dari 50 persen biodiesel dan 50 persen solar.
Kebijakan ini dipandang sebagai tahap lanjutan menuju target yang lebih besar, yakni pengurangan impor secara menyeluruh.
Amran bahkan menyebut Presiden Prabowo Subianto telah mengambil keputusan untuk menghentikan impor solar mulai 1 Juli mendatang. Jika kebijakan tersebut berjalan sesuai rencana, Indonesia akan memasuki fase baru dalam pengelolaan energi nasional.
“Wassalam, 1 Juli tutup enggak ada impor solar,” kata Amran.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu diantisipasi. Kemandirian energi berbasis sawit memerlukan kesiapan industri pengolahan, infrastruktur distribusi, hingga kepastian pasokan bahan baku yang berkelanjutan.
Selain itu, peningkatan penggunaan CPO untuk energi juga harus diimbangi dengan pengelolaan yang tepat agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kebutuhan industri pangan maupun pasar ekspor.
Di sisi lain, pengembangan bahan bakar berbasis sawit berpotensi memberikan dampak ekonomi yang luas.
Hilirisasi industri sawit dapat menciptakan nilai tambah lebih besar dibanding sekadar mengekspor bahan mentah. Industri pengolahan lanjutan juga berpeluang membuka lapangan kerja baru, meningkatkan investasi, serta memperkuat rantai pasok dalam negeri.
Karena itu, pemerintah mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam mempercepat lahirnya inovasi teknologi yang dapat diterapkan langsung di sektor industri.
Kampus tidak lagi diposisikan hanya sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem riset dan hilirisasi nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Amran mengajak Universitas Halu Oleo untuk mengambil peran lebih aktif dalam pengembangan teknologi yang mendukung kebutuhan industri nasional.
Pemerintah, kata dia, siap membuka ruang kerja sama jika kampus mampu menghasilkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan dapat diimplementasikan secara nyata.
“Pak Rektor kalau bisa yang membidangi, apa kita kerjasama. Ini kemarin (ITS) begitu berhasil kami dirikan industri,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan arah kebijakan pemerintah yang semakin menekankan pentingnya sinergi antara dunia akademik, industri, dan negara.
Model kolaborasi semacam ini dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga mampu menguasai teknologi dan industri turunannya.
Apabila target penghentian impor solar dan bensin dapat terealisasi dalam beberapa tahun mendatang, dampaknya akan sangat besar bagi perekonomian nasional.
Selain mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan cadangan devisa, Indonesia juga akan memiliki tingkat kemandirian energi yang jauh lebih kuat di tengah dinamika geopolitik global dan ketidakpastian pasar minyak internasional.
Di tengah berbagai tantangan yang masih harus dihadapi, optimisme pemerintah menunjukkan bahwa sektor sawit kini tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas perkebunan.
Lebih dari itu, sawit sedang diposisikan sebagai salah satu pilar strategis untuk mewujudkan ketahanan energi, memperkuat industri nasional, dan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.