Indeks IHSG Anjlok 8% dalam Dua Hari, Iman Rachman Mundur dari Direktur Utama BEI

INBERITA.COM, Iman Rachman, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), secara mengejutkan mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat pagi (30/1/2026).

Langkah ini diambilnya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap gejolak pasar yang terjadi dalam dua hari terakhir, yang terlihat jelas dari penurunan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga mencapai 8%. Iman menyampaikan keputusan ini melalui jumpa pers singkat tanpa sesi tanya jawab di Jakarta.

“Saya sebagai Direktur Utama BEI, dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama BEI. Saya berharap ini yang terbaik buat pasar modal,” ujar Iman Rachman, yang memimpin BEI selama hampir empat tahun.

Ia menambahkan bahwa pengunduran diri ini diambil dengan pertimbangan menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar modal Indonesia.

Iman berharap agar indeks saham yang dibuka lebih baik pada hari itu akan terus membaik dalam beberapa hari ke depan.

“Mudah-mudahan indeks kita yang pagi ini dibuka membaik akan terus membaik di hari-hari berikut,” harapnya.

Dalam pernyataannya, Iman juga mengonfirmasi bahwa seluruh proses administrasi terkait pengunduran dirinya akan dilakukan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar BEI, dan bahwa Bursa akan segera menunjuk Pelaksana Tugas (PLT) Direktur Utama hingga terpilihnya pemimpin definitif yang baru.

Terkait dengan proses transisi ini, Iman juga menekankan bahwa aturan yang berlaku akan dipatuhi dengan ketat.

“Nanti akan ada sementara PLT yang akan ditunjuk berdasarkan aturan kita sampai ditunjuk Direktur Utama yang baru,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, ia menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pemangku kepentingan selama masa kepemimpinannya yang telah berakhir.

Kondisi pasar yang memicu pengunduran diri Iman Rachman tidak lepas dari pergerakan IHSG yang anjlok tajam dalam dua hari berturut-turut.

Dalam dua hari tersebut, IHSG jatuh sekitar 8%, yang menyebabkan dua kali penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026).

Penurunan tajam IHSG ini dipicu oleh sentimen negatif dari hasil pengumuman MSCI yang merilis penilaian free float saham emiten Indonesia pada Selasa (27/1/2026).

Pengumuman tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor mengenai masa depan pasar saham Indonesia.

MSCI mengumumkan adanya perubahan dalam indeks pada Februari 2026 mendatang, yang berdampak pada tiga hal utama, yakni pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), pembekuan penambahan konstituen dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan saham dari Small Cap ke Standard.

MSCI menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil untuk mengurangi perputaran indeks (index turnover) dan risiko kelayakan investasi (investability), sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi. Keputusan ini tentu saja mempengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan dan menyebabkan kekhawatiran para pelaku pasar.

Dalam menanggapi gejolak pasar ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa BEI akan segera melakukan perubahan aturan terkait batas minimal saham publik atau free float. Sebelumnya, batas minimal free float adalah 7,5%, namun kini akan dinaikkan menjadi 15%.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengonfirmasi bahwa aturan baru ini akan diterapkan dalam waktu dekat dengan prinsip transparansi yang jelas bagi emiten.

“SRO akan menerbitkan aturan untuk free float minimal 15%,” kata Mahendra dalam keterangan resminya di Gedung BEI pada Kamis (29/1/2026).

Perubahan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap stabilitas pasar dan memperbaiki citra Indonesia di mata investor global.

Dengan langkah ini, OJK berharap dapat meningkatkan transparansi dan menarik lebih banyak investor untuk berpartisipasi dalam pasar modal Indonesia.

Kebijakan ini juga menjadi langkah antisipasi terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh pengumuman MSCI dan diharapkan mampu memulihkan kepercayaan pasar yang sempat terguncang.

Keputusan pengunduran diri Iman Rachman menambah dinamika dalam kepemimpinan BEI, yang kini diharapkan dapat segera menemukan pengganti yang mampu mengatasi tantangan besar yang ada.

Stabilitas pasar modal Indonesia akan sangat bergantung pada kebijakan dan kepemimpinan baru yang akan muncul setelah penunjukan PLT dan pemilihan Direktur Utama yang baru.

Sementara itu, para pelaku pasar tetap berharap bahwa pergerakan IHSG yang sempat jatuh tajam akan segera pulih seiring dengan perbaikan transparansi dan kebijakan yang lebih mendukung stabilitas pasar.

Para investor juga menunggu implementasi kebijakan baru yang dapat memberikan kejelasan dan kepastian hukum dalam berinvestasi di pasar modal Indonesia. (**)