Hilal Tak Terlihat, Iran Diprediksi Rayakan Idul Fitri 2026 pada 21 Maret

INBERITA.COM, Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1405 Hijriah di Iran mulai menemukan kepastian. Berdasarkan perkiraan terbaru, warga Iran diprediksi akan merayakan Lebaran pada Sabtu, 21 Maret 2026, meskipun hilal atau bulan sabit penanda awal Syawal dilaporkan tidak terlihat.

Informasi ini disampaikan oleh anggota tim rukyatul hilal dari kantor kepemimpinan Iran, Hojatoleslam Mohammad Mohadnejad.

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis para ahli, hilal Syawal tidak akan dapat diamati di seluruh wilayah Iran pada Kamis, 19 Maret 2026 waktu setempat.

“Menurut perkiraan para pakar, hilal bulan Syawal tidak dapat diamati di seluruh wilayah Iran pada hari tersebut,” ujarnya dilansir dari Bartarinha.ir.

Meski demikian, penetapan resmi awal bulan Syawal di Iran tetap menunggu hasil rukyat atau pengamatan langsung di lapangan serta pengumuman dari otoritas terkait.

Tradisi ini menjadi bagian penting dalam sistem penanggalan Islam di negara tersebut, yang mengedepankan metode observasi hilal sebagai dasar penentuan awal bulan Hijriah.

Jika prediksi tersebut dikukuhkan, maka Idul Fitri di Iran akan jatuh pada 1 Farvardin 1405.

Farvardin sendiri merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah Matahari yang digunakan secara resmi di Iran.

Bulan ini juga menandai dimulainya musim semi serta perayaan tahun baru Persia atau Nowruz, yang memiliki nilai budaya dan historis yang kuat di masyarakat Iran.

Di sisi lain, perbedaan penetapan Idul Fitri juga terjadi di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Arab Saudi sebelumnya telah lebih dulu mengumumkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Keputusan ini diambil setelah hasil pemantauan hilal yang dilakukan pada Rabu malam, 18 Maret 2026, menunjukkan bahwa bulan sabit tidak terlihat.

Dengan tidak terlihatnya hilal tersebut, otoritas setempat memutuskan untuk menggenapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari.

Komite rukyat yang bertugas memastikan bahwa tidak ada laporan penampakan hilal dari berbagai wilayah yang menjadi titik pengamatan.

“Hilal tidak terlihat, sehingga Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari dan Idul Fitri jatuh pada hari Jumat,” demikian pernyataan resmi otoritas setempat seperti dilansir dari gulfnews.

Penetapan ini mengikuti tradisi Islam yang telah berlangsung lama, yakni menentukan awal bulan Hijriah melalui pengamatan langsung terhadap hilal.

Metode ini masih menjadi acuan utama di sejumlah negara, termasuk Arab Saudi dan Iran, meskipun pendekatan astronomi modern juga turut digunakan sebagai pendukung.

Pengumuman resmi dari Arab Saudi tersebut sekaligus memberikan kepastian terkait jadwal libur nasional yang sebelumnya telah dipersiapkan pemerintah.

Hal ini penting mengingat Idul Fitri merupakan salah satu momen terbesar dalam kalender Islam yang berdampak luas pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Perbedaan waktu perayaan Idul Fitri antara Iran dan Arab Saudi bukanlah hal baru. Faktor geografis, metode rukyat, serta kriteria visibilitas hilal menjadi penyebab utama perbedaan tersebut.

Meski demikian, umat Muslim di berbagai negara tetap menjalankan ibadah dan merayakan Lebaran sesuai dengan ketetapan otoritas masing-masing.

Dengan perkembangan ini, masyarakat kini tinggal menunggu pengumuman resmi dari otoritas Iran untuk memastikan tanggal pasti Idul Fitri 2026.

Namun, jika mengacu pada prediksi yang ada, Sabtu, 21 Maret 2026 berpotensi besar menjadi hari kemenangan bagi umat Muslim di Iran setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh.