Hidup dari TikTok Live, Fahmi Bo Dapat Rp100 Ribu Sehari untuk Kebutuhan Harian

INBERITA.COM, Nasib getir tengah menyelimuti Fahmi Bo, aktor senior yang dulu dikenal luas lewat perannya dalam sinetron populer Tukang Ojek Pengkolan.

Di usia 52 tahun, dengan kondisi kesehatan yang terus menurun, Fahmi kini menggantungkan hidup sepenuhnya pada siaran langsung di platform TikTok.

Tidak lagi tampil di layar kaca, Fahmi menjalani hari-harinya dari sebuah kamar kos sederhana di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Di sanalah, pada Senin, 22 September 2025, ia bercerita tentang perjuangannya bertahan hidup di tengah kondisi fisik yang kian rapuh.

“Live TikTok (untuk kehidupan sehari-hari), tapi beberapa hari ini enggak live, enggak kuat,” ungkap Fahmi lirih. Ucapannya mencerminkan kelelahan fisik dan keterbatasan tenaga yang memaksanya rehat dari aktivitas yang kini jadi satu-satunya sumber pemasukan itu.

Fahmi tidak memungkiri bahwa pendapatan dari TikTok sangat fluktuatif, tanpa kepastian. Namun, dalam kondisi seperti sekarang, berapapun yang didapat tetap disyukuri.

“Enggak bisa dipastiin (dapatnya berapa), paling kecil Rp100 ribu,” katanya.

Uang yang diperolehnya dari live TikTok itu digunakan sepenuhnya untuk kebutuhan pokok: makan, isi ulang token listrik, dan mencuci pakaian di laundry.

Jika pendapatan harian melebihi Rp100 ribu, kelebihan itu ia kumpulkan untuk membayar kontrakan yang menjadi tempat tinggalnya.

“Buat makan, sama isi token listrik sama laundry. Kalau lebih dari Rp100 ribu buat bayar kontrakan kumpulin. Ya itu aja harapan saya dari Live TikTok,” lanjut Fahmi.

Pernyataan itu mencerminkan realitas pahit seorang publik figur yang dulunya dikenal masyarakat luas, kini harus mengandalkan donasi penonton demi bertahan hidup.

Di balik layar yang dulu memancarkan popularitas dan gelak tawa, kini tersimpan kisah getir tentang perjuangan hidup yang nyaris luput dari perhatian.

Sejak 2022, kondisi kesehatan Fahmi mulai menurun drastis. Sejumlah penyakit serius menyerangnya hingga membuatnya tak lagi sanggup menjalani aktivitas syuting.

Karakter penjual bubur yang ia perankan, yang menuntutnya berdiri dan mendorong gerobak, menjadi beban berat yang tak lagi bisa ia pikul.

Fahmi kini tak hanya kehilangan pekerjaan, tapi juga kemampuan fisik untuk bergerak secara mandiri. Ia harus menggunakan alat bantu napas, bahkan untuk duduk pun membutuhkan bantuan.

“Duduk harus dibantu, dipegangin kalau enggak jatuh,” ucapnya pelan.

Kondisinya yang lemah membuat aktivitas sekecil apapun menjadi tantangan besar. Namun, meski serba terbatas, Fahmi tak berhenti berusaha. Live TikTok menjadi satu-satunya celah yang masih bisa ia manfaatkan untuk tetap bertahan di tengah keterbatasan.

Di balik layar ponsel, ia tetap menyapa penonton, berharap ada yang berkenan memberi saweran demi membantu kehidupannya. Setiap rupiah yang masuk bukan hanya soal angka, tapi soal keberlangsungan hidup.

Dalam dunia hiburan yang cepat lupa dan publik yang mudah berpaling, Fahmi Bo adalah potret nyata dari seniman yang kini harus memperjuangkan hidupnya sendirian.

Popularitas tak menjamin kenyamanan di masa tua, dan ketenaran yang dulu terang kini redup di tengah malam panjang kesendirian dan perjuangan.

Fahmi tak meminta banyak. Ia tak bicara soal rumah mewah atau kendaraan mahal. Baginya, cukup ada makanan, listrik, tempat berteduh, dan sedikit kekuatan untuk terus siaran, maka itu sudah lebih dari cukup.

Sebuah kisah yang seharusnya membuka mata, bahwa di balik layar kaca yang selama ini menghibur, ada manusia yang juga bisa rapuh, bisa jatuh, dan tetap berjuang dengan sisa tenaga untuk hidup layak. (mms)