Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali dalam Sehari di Momen HUT Kemerdekaan RI, Dua Erupsi Hanya Selisih Satu Menit

INBERITA.COM, Gunung Anak Krakatau kembali bergemuruh keras sepanjang Senin (17/8/2026). Dalam sehari, gunung api aktif di Selat Sunda itu mencatat 20 kali erupsi, menandai aktivitas vulkanik yang semakin intensif.

Data dari MAGMA Indonesia menunjukkan erupsi pertama terjadi pada pukul 09.22 WIB dengan kolom abu setinggi 400 meter di atas puncak. Aktivitas ini diikuti serangkaian letusan lain yang tersebar sepanjang hari, menciptakan pola erupsi yang tidak biasa.

Salah satu momen mencolok terjadi pada siang hari ketika dua erupsi terjadi hampir bersamaan. Pada pukul 12.43 WIB, gunung memuntahkan abu setinggi 150 meter, disusul erupsi kedua hanya satu menit kemudian dengan ketinggian kolom abu mencapai 400 meter.

Dua letusan ini terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 55 mm, menunjukkan tekanan magma yang sangat kuat. Durasi erupsi kedua bahkan mencapai 197 detik, jauh lebih lama dari biasanya.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Andi Suwardi, mengakui bahwa rangkaian erupsi dalam waktu berdekatan masih terus dipantau secara ketat.

Menurutnya, setiap letusan memiliki karakteristik berbeda-beda, baik dari tinggi kolom abu maupun durasinya. Data ini menjadi bahan evaluasi penting untuk memahami perkembangan aktivitas gunung api tersebut.

“Data keseluruhan yang menjadi bahan evaluasi,” ujarnya.

Selain erupsi, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, tercatat 32 gempa hembusan, dua gempa harmonik, dua gempa hybrid, serta satu tremor menerus.

Gempa-gempa ini menunjukkan pergerakan magma yang semakin aktif di bawah permukaan. Kondisi visual kawah juga teramati dengan asap berwarna kelabu hingga hitam, menandakan aktivitas vulkanik yang tinggi.

Meskipun aktivitas meningkat, status Gunung Anak Krakatau tetap dipertahankan pada Level III atau Siaga.

Rekomendasi resmi tetap berlaku: masyarakat, wisatawan, pendaki, dan nelayan dilarang mendekati kawasan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Andi menekankan pentingnya mengikuti rekomendasi ini meskipun kondisi laut terlihat tenang.

“Jangan melihat kondisi laut yang tenang lalu menganggap aman untuk mendekat,” katanya.

Dampak erupsi ini juga terasa pada aktivitas masyarakat sekitar. Kolom abu yang tebal bergerak ke arah barat laut, berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan dan kesehatan pernapasan.

Meskipun demikian, hingga Senin sore, tidak ada laporan mengenai gangguan signifikan akibat erupsi tersebut. Badan Geologi dan Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik ini.

Para ahli vulkanologi menilai bahwa peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau ini perlu diwaspadai. Sejarah letusan besar sebelumnya, seperti pada 2018, menunjukkan bahwa gunung api ini memiliki potensi bahaya yang besar.

Meskipun statusnya masih Siaga, perubahan aktivitas yang cepat menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi resmi dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab.

Kondisi cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan dengan angin lemah menuju tenggara dan barat daya. Ombak laut terpantau tenang, namun hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk mendekati kawasan berbahaya.

Aktivitas vulkanik yang fluktuatif ini menunjukkan bahwa Gunung Anak Krakatau tetap menjadi ancaman laten yang perlu diwaspadai. Semua pihak diharapkan tetap waspada dan mematuhi protokol keselamatan yang telah ditetapkan.

Gunung Anak Krakatau kini menjadi sorotan karena aktivitasnya yang semakin meningkat. Dalam beberapa hari terakhir, gunung api ini telah menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan yang lebih jelas.

Para ahli terus memantau perkembangan ini untuk memastikan tidak ada peningkatan risiko yang tidak terduga. Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada, serta mengikuti semua instruksi dari pihak berwenang.