INBERITA.COM, Pergerakan besar di sektor perbankan global kembali menjadi sorotan dan ikut menarik perhatian pelaku industri keuangan, profesional, serta investor di Indonesia. Salah satu bank investasi terbesar dunia, Goldman Sachs, dilaporkan mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal sebagai bagian dari langkah restrukturisasi strategis.
Kebijakan ini dinilai mencerminkan perubahan arah industri perbankan global yang semakin menekankan efisiensi biaya, pemanfaatan teknologi, dan penataan ulang sumber daya manusia di tengah dinamika pasar keuangan internasional.
Melansir dari Prism Media, Senin, 12 Januari 2026, Goldman Sachs memulai PHK pada 11 Januari 2026. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang secara khusus menargetkan divisi investment banking dan global markets, dua lini bisnis utama yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan bank tersebut.
Restrukturisasi ini tidak hanya berfokus pada pengurangan jumlah karyawan, tetapi juga pada perubahan strategi operasional jangka panjang perusahaan.
Tujuan utama dari kebijakan ini adalah memangkas biaya operasional hingga US$1,3 miliar atau sekitar Rp21,7 triliun dalam kurun waktu tiga tahun ke depan. Dalam memo internal perusahaan yang beredar di kalangan karyawan, manajemen Goldman Sachs menegaskan keinginannya untuk membatasi pertumbuhan jumlah pegawai hingga akhir tahun.
Di saat yang sama, perusahaan akan mengalihkan sebagian dana ke perekrutan yang bersifat prioritas serta meningkatkan gaji bagi talenta yang dipertahankan, terutama mereka yang dianggap memiliki peran strategis dan bernilai tinggi bagi keberlanjutan bisnis.
Restrukturisasi ini turut menyasar sejumlah posisi yang dinilai rentan terhadap otomatisasi. Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan manajemen.
Beberapa fungsi yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia kini mulai digantikan atau dibantu oleh sistem otomatis, sehingga kebutuhan akan jumlah staf dalam peran tertentu berpotensi menurun secara signifikan. Dampak PHK terhadap jumlah karyawan diperkirakan bervariasi.
Sejumlah dokumen internal menyebutkan bahwa gelombang awal PHK akan mirip dengan pengurangan sekitar 400 staf. Namun, terdapat pula skenario tambahan yang mencakup sekitar 1.000 peran lain, dan dalam jangka beberapa tahun ke depan total karyawan yang terdampak bisa melampaui angka 3.000 orang.
Sebagai gambaran, Goldman Sachs tercatat memiliki sekitar 46.500 karyawan pada akhir 2024, sehingga pengurangan ini akan cukup terasa dalam struktur organisasi perusahaan. Selain melakukan pengurangan staf, Goldman Sachs juga mulai mengadopsi asisten berbasis AI untuk banker dan eksekutif.
Teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja secara bertahap. Sejumlah analisis internal menunjukkan bahwa penggunaan AI dan otomatisasi berpotensi mendorong kontraksi jumlah karyawan sekitar 4 persen dalam satu tahun dan hingga 11 persen dalam beberapa tahun ke depan untuk klien korporat sejenis.
Proyeksi inilah yang menjadi salah satu dasar urgensi restrukturisasi yang kini dijalankan. Dalam upaya menekan biaya dan meningkatkan efisiensi, perusahaan juga memindahkan beberapa fungsi operasional ke pusat-pusat biaya rendah.
Lokasi yang menjadi tujuan relokasi antara lain Bengaluru di India, serta sejumlah kota di Amerika Serikat seperti Dallas dan Salt Lake City. Langkah ini dipandang sebagai bagian dari strategi optimisasi jangka panjang, sekaligus mencerminkan tren offshoring dan redistribusi geografis pekerjaan yang semakin umum di industri perbankan global.
Tidak hanya itu, proses restrukturisasi juga diiringi dengan pengetatan evaluasi kinerja. Beberapa pegawai yang dinilai memiliki performa kurang optimal dilaporkan menerima bonus lebih kecil atau hasil evaluasi negatif.
Kebijakan ini menandai proses seleksi talenta yang lebih sistematis, di mana perusahaan berupaya mempertahankan karyawan dengan kontribusi terbaik dan melepas mereka yang dianggap tidak lagi sejalan dengan kebutuhan bisnis ke depan.
Menurut juru bicara Goldman Sachs, langkah ini adalah bagian dari proses manajemen talenta tahunan yang normal. Pihak perusahaan menegaskan bahwa Goldman Sachs tetap siap berinvestasi pada area-area pertumbuhan penting, termasuk teknologi, tim advisory, serta bisnis yang berhadapan langsung dengan klien.
Pernyataan ini menegaskan bahwa meski melakukan PHK massal, bank investasi tersebut tidak sepenuhnya melakukan pengetatan, melainkan mengalihkan fokus investasi ke sektor yang dinilai memiliki prospek jangka panjang lebih kuat.
Dari sisi pasar, dampak kebijakan ini dinilai bersifat campuran. Pengurangan biaya operasional berpotensi meningkatkan margin keuntungan dan mendukung pengembalian bagi pemegang saham, terutama jika pendapatan perusahaan tetap stabil atau membaik.
Namun di sisi lain, pemangkasan yang terlalu cepat, khususnya di lini front-office, berisiko mengurangi kapasitas bisnis saat siklus investment banking global mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Bagi tenaga kerja dan pasar regional, langkah Goldman Sachs ini menambah tekanan pada tren offshoring dan redistribusi geografis pekerjaan. Profesional di sektor keuangan, termasuk di Indonesia, menjadikan perkembangan ini sebagai sinyal penting mengenai arah industri perbankan global ke depan.
PHK massal Goldman Sachs tidak hanya mencerminkan strategi efisiensi satu perusahaan, tetapi juga menjadi gambaran lebih luas tentang bagaimana bank-bank besar dunia menyesuaikan diri dengan tantangan teknologi, biaya, dan persaingan di era modern.