Gencatan Senjata Rapuh, Israel Tetap Serang Lebanon

INBERITA.COM, Ketegangan di Timur Tengah belum menunjukkan tanda mereda meskipun gencatan senjata sementara telah diumumkan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mengakui bahwa operasi militer terhadap Iran belum mencapai seluruh target yang ditetapkan.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa konflik berpotensi kembali pecah sewaktu-waktu, bahkan ketika dunia internasional berharap pada jeda pertempuran untuk meredakan krisis energi global yang semakin memburuk.

“Kami akan mencapainya,” janjinya seperti dikutip dari media, “baik melalui kesepakatan atau melalui pertempuran kembali.”

Netanyahu juga menegaskan kesiapan penuh militer Israel untuk melanjutkan operasi kapan saja jika diperlukan.

“Israel, katanya, ‘siap untuk kembali bertempur kapan saja.'”

“Jari berada di pelatuk,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi serangan yang meluas ke berbagai wilayah, termasuk Lebanon.

Dinas pertahanan sipil setempat melaporkan bahwa serangan Israel pada Rabu menewaskan sedikitnya 254 orang. Korban terbanyak terjadi di ibu kota Beirut dengan 91 orang dilaporkan tewas.

Warga setempat mengungkapkan bahwa sejumlah serangan dilakukan tanpa peringatan evakuasi seperti yang biasanya terjadi, meningkatkan risiko korban sipil dalam konflik yang semakin brutal ini.

Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam. Negara tersebut dilaporkan melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas minyak di negara-negara Teluk.

Target serangan mencakup infrastruktur energi penting, termasuk sebuah pipa minyak di Arab Saudi yang selama ini digunakan sebagai jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz yang sedang diblokade.

Selain Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab juga melaporkan adanya serangan rudal dan drone yang diduga diluncurkan oleh Iran. Serangan ini memperluas dampak konflik ke sektor energi global, memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.

Pemerintah Iran melalui media resminya menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bentuk pembalasan langsung atas serangan sebelumnya yang menghantam kilang minyak di Pulau Lavan.

Situasi semakin kompleks dengan tetap ditutupnya Selat Hormuz bagi kapal-kapal yang tidak memiliki izin. Jalur ini merupakan salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.

Data dari MarineTraffic menunjukkan bahwa hanya segelintir kapal yang berhasil melintas sejak Rabu pagi, termasuk dua kapal kargo milik Yunani dan dua milik China.

Penutupan jalur ini menjadi salah satu faktor utama yang memicu krisis energi global, karena menghambat distribusi minyak dari kawasan Teluk ke berbagai negara.

Di tengah eskalasi militer, Presiden AS Donald Trump juga mengambil langkah ekonomi yang agresif.

Melalui serangkaian unggahan daring, Trump mengumumkan rencana untuk menerapkan tarif sebesar 50 persen terhadap seluruh barang dari negara-negara yang memasok senjata ke Iran.

Kebijakan ini diperkirakan akan memperluas dampak konflik tidak hanya pada sektor militer, tetapi juga perdagangan global.

Sementara itu, di dalam negeri Iran, suasana bercampur antara euforia dan kecemasan. Warga turun ke jalan pada malam hari untuk merayakan pengumuman gencatan senjata, mengibarkan bendera nasional dan membakar bendera AS serta Israel sebagai simbol perlawanan.

Namun di balik perayaan tersebut, kekhawatiran tetap menyelimuti masyarakat mengenai ketahanan kesepakatan gencatan senjata yang dinilai rapuh.

“Israel tidak akan membiarkan diplomasi berjalan dan Trump bisa saja mengubah pandangannya besok. Tapi setidaknya malam ini kami bisa tidur tanpa serangan,” kata Alireza (29) seorang pegawai pemerintah di Teheran, kepada awak media melalui telepon.

Konflik besar ini sendiri bermula pada 28 Februari, ketika Trump bersama Netanyahu meluncurkan operasi militer terhadap Iran.

Mereka menyatakan tujuan utama dari serangan tersebut adalah untuk mencegah Iran memperluas pengaruhnya ke luar negeri, menghentikan program nuklirnya, serta membuka peluang bagi perubahan pemerintahan di dalam negeri Iran.

Namun hingga saat ini, tujuan tersebut belum sepenuhnya tercapai.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa Washington telah meraih kemenangan militer yang menentukan. Pernyataan ini mencerminkan optimisme dari pihak AS terkait hasil operasi militer yang telah berlangsung.

Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan strategis yang signifikan.

Negara tersebut dilaporkan tetap menyimpan cadangan uranium yang mendekati tingkat senjata nuklir, sekaligus mempertahankan kapasitas serangan melalui rudal dan drone ke negara-negara tetangga.

Selain itu, struktur pemerintahan Iran juga masih bertahan, meskipun sempat diguncang oleh gelombang protes besar beberapa bulan terakhir.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bahkan menyatakan bahwa mereka justru berhasil memberikan pukulan telak kepada pihak lawan dalam konflik ini.

“Musuh, dalam perang yang tidak adil, ilegal, dan kriminal terhadap bangsa Iran, telah mengalami kekalahan yang tidak terbantahkan, bersejarah, dan menghancurkan,” demikian pernyataan tersebut.

Saling klaim kemenangan dari kedua belah pihak semakin menunjukkan bahwa konflik ini belum mendekati penyelesaian. Gencatan senjata yang ada saat ini lebih menyerupai jeda strategis daripada langkah menuju perdamaian jangka panjang.

Dengan eskalasi yang melibatkan banyak negara, serangan terhadap infrastruktur energi, serta ancaman kebijakan ekonomi global, konflik Iran-Israel kini berkembang menjadi krisis multidimensi yang berdampak luas terhadap stabilitas dunia.