INBERITA.COM, Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9 kembali mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis pagi, 20 Agustus 2026.
Getaran akibat gempa juga dirasakan hingga Waingapu, ibu kota Kabupaten Sumba Timur, yang berjarak ratusan kilometer dari pusat gempa.
Warga di Waingapu mengaku merasakan guncangan yang cukup kuat sehingga banyak yang keluar rumah dengan tergesa-gesa. Oris Goti, salah satu warga yang tinggal di kos-kosan di Waingapu, mengungkapkan bahwa getaran terasa sangat nyata dan membuatnya ketakutan.
“Waingapu goyang. Sangat terasa,” ujarnya kepada awak media setempat.
Menurut Oris, guncangan berlangsung sekitar satu menit dengan intensitas yang cukup tinggi. Ia menjelaskan bahwa selama gempa, bangunan dan benda-benda di sekitarnya ikut bergoyang dan berayun.
“Guncangannya sekitar satu menit. Langsung goyang berayun begitu. Setelah itu, reda pelan-pelan. Kami yang di kos ini lari semua,” tuturnya.
Meskipun guncangan terasa kuat, Oris memastikan tidak ada kerusakan bangunan di sekitar tempat tinggalnya. Namun, warga tetap waspada dan memilih untuk berada di luar rumah karena khawatir akan terjadi gempa susulan.
Ia juga menyebut adanya kabar yang beredar di masyarakat mengenai aktivitas gempa yang disebut semakin mendekati wilayah Sumba.
“Hanya banyak cerita-cerita lepas, orang sekitarnya bilang titik gempa mulai mendekat ke Sumba,” kata Oris.
Meskipun demikian, ia mengingatkan warga untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengikuti perkembangan dari sumber resmi.
Pusat gempa berada di utara Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman yang relatif dangkal. Kepala Stasiun Geofisika Kupang BMKG, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa gempa terjadi pada pukul 10.46.59 Wita.
Berdasarkan data BMKG, episentrum gempa terletak pada koordinat 8,25 derajat Lintang Selatan dan 120,61 derajat Bujur Timur.
“Episentrum gempa berada sekitar 43 kilometer utara Ruteng, Kabupaten Manggarai, NTT, dengan kedalaman 10 kilometer,” ungkap Arief.
Ia menambahkan bahwa gempa dangkal ini menyebabkan getaran yang terasa kuat di beberapa wilayah, termasuk Waingapu.
BMKG terus memantau aktivitas gempa di wilayah Flores dan sekitarnya untuk memastikan tidak ada potensi bahaya lebih lanjut.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak bersumber dari lembaga resmi. Langkah ini penting untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu di tengah situasi yang masih dalam pengawasan.
Gempa dangkal dengan kedalaman 10 kilometer ini menjadi perhatian karena dampaknya yang terasa hingga jarak yang cukup jauh. Meskipun tidak menimbulkan kerusakan, gempa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah rawan gempa seperti NTT.
Masyarakat diharapkan tetap mengikuti informasi resmi dari BMKG untuk mendapatkan update terbaru mengenai aktivitas seismik di wilayah tersebut.
Kejadian ini juga menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi sistem peringatan dini yang ada. Dengan mempertimbangkan sejarah gempa di wilayah tersebut, langkah-langkah mitigasi perlu ditingkatkan guna mengurangi risiko di masa depan.
Masyarakat pun diharapkan untuk selalu siap menghadapi kemungkinan bencana alam dengan mengetahui prosedur evakuasi yang benar.
Pentingnya edukasi kebencanaan semakin terlihat ketika gempa terjadi tanpa peringatan yang cukup jelas. Meskipun BMKG telah melakukan pemantauan secara rutin, masyarakat juga perlu dilibatkan dalam upaya mitigasi. Dengan demikian, dampak dari bencana alam dapat diminimalisir dan korban jiwa dapat dihindari.
Kejadian gempa ini juga menunjukkan betapa rentannya wilayah Indonesia terhadap bencana alam, terutama gempa bumi.
Dengan kondisi geografis yang terletak di pertemuan lempeng tektonik, Indonesia perlu terus meningkatkan sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat.