INBERITA.COM, Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Maximo Torero, memperingatkan bahwa meskipun konflik yang mempengaruhi Selat Hormuz segera berakhir, dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan pasar global, terutama di sektor pangan.
Menurut Torero, jika konflik ini berakhir hari ini, stabilisasi biaya komoditas global masih memerlukan waktu dua hingga tiga bulan untuk kembali normal.
“Jika konflik berhenti hari ini, akan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk menstabilkan biaya ini,” ujar Torero dalam briefing virtual mengenai dampak konflik Timur Tengah, seperti yang dilansir dari Anadolu pada 27 Maret 2026.
Torero menjelaskan bahwa konflik ini telah menyebabkan salah satu gangguan terbesar terhadap aliran komoditas global dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam hitungan hari setelah pecahnya ketegangan, lalu lintas melalui Selat Hormuz yang merupakan jalur penting perdagangan dunia anjlok hingga 90 persen.
Padahal, Selat Hormuz biasanya mengangkut sekitar 20 juta barel minyak per hari, yang setara dengan 35 persen dari minyak mentah dunia, seperlima gas alam cair (LNG), dan hingga 30 persen dari perdagangan pupuk internasional.
“Saluran strategis ini sangat penting bagi ketahanan pangan global, karena selain minyak, pupuk yang lewat juga sangat mempengaruhi sektor pertanian dunia,” kata Torero, menekankan bahwa ketergantungan banyak negara terhadap pasokan dari Selat Hormuz menambah dampak negatif terhadap perekonomian global, khususnya di negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi dan bahan baku.
Torero juga menguraikan bahwa dampak dari krisis ini sangat bergantung pada durasi krisis itu sendiri. Jika konflik ini berakhir dalam dua minggu ke depan, pasar global bisa menyesuaikan dan meminimalkan potensi krisis pangan pada musim tanam berikutnya.
“Jika krisis ini berlangsung selama tiga hingga enam bulan, maka dampaknya akan jauh lebih besar, tidak hanya pada ketahanan pangan, tetapi juga pada sektor energi dan input lainnya yang sangat diperlukan dalam produksi pangan,” lanjut Torero.
Lebih lanjut, Torero menyoroti dampak yang lebih besar terhadap negara-negara yang sangat bergantung pada kiriman uang dari pekerja migran di kawasan Teluk, seperti Nepal, Yordania, Lebanon, Pakistan, Mesir, dan Sri Lanka.
Negara-negara ini rentan terhadap penurunan kiriman uang, yang bisa memperburuk kondisi ekonomi mereka.
“Para pekerja di wilayah tersebut akan kehilangan pekerjaan mereka, dan mereka tidak akan dapat mengirimkan uang kepada keluarga mereka. Ini akan berisiko besar terhadap PDB negara-negara yang sangat bergantung pada remitan atau kiriman uang,” ungkap Torero.
Torero menambahkan, negara-negara seperti Turki dan Yordania akan mengalami kesulitan besar karena kalender tanam mereka yang bergantung pada stabilitas pasokan dan impor pangan. Lebanon, menurutnya, akan semakin tertekan menghadapi krisis pangan dan energi yang berlanjut.
Dalam kesempatan tersebut, Torero mendesak penyelesaian cepat untuk menghindari krisis yang lebih dalam. Ia menekankan bahwa jika konflik berakhir dalam satu atau dua minggu ke depan, pasar akan dapat menampung pasokan pangan yang ada.
“Kita memiliki cukup makanan di pasar untuk menghadapinya, tetapi jika konflik ini berlarut-larut, situasinya akan sangat mengkhawatirkan,” tegasnya.
Torero juga dihadapkan pada pertanyaan mengenai potensi dampak bencana terkait perubahan iklim, seperti fenomena El Nino, yang dapat memperburuk kondisi jika konflik berlangsung lebih lama.
El Nino, yang dikenal dengan pola iklim yang menyebabkan suhu laut yang lebih tinggi dan cuaca ekstrem, berpotensi memperburuk kondisi pertanian global yang sudah terpengaruh oleh ketegangan geopolitik.
“Jika El Nino terjadi bersamaan dengan krisis ini, dampaknya bisa lebih buruk. Musim tanam bisa terganggu, dan itu akan menambah tekanan pada ketahanan pangan global,” kata Torero, memperingatkan kombinasi bencana alam dan konflik yang berpotensi menciptakan krisis pangan yang lebih besar.