INBERITA.COM, Tahun 2025 belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan bagi dunia ketenagakerjaan global. Badai pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menghantam banyak sektor, terutama industri teknologi dan manufaktur besar.
Gelombang PHK ini menjadi lanjutan dari tren yang terjadi sejak 2023, kini semakin parah akibat kombinasi kebijakan ekonomi Amerika Serikat dan pergeseran strategi bisnis menuju investasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Kebijakan tarif impor baru yang diumumkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, disebut menjadi salah satu pemicu utama gelombang PHK ini.
Tarif baru itu meningkatkan biaya operasional bagi banyak perusahaan global yang bergantung pada rantai pasok lintas negara.
Selain itu, perubahan perilaku konsumen pascapandemi dan tren otomatisasi berbasis AI turut mempercepat keputusan perusahaan untuk memangkas tenaga kerja.
Menurut laporan perusahaan penggajian ADP, sebanyak 32 ribu pekerjaan di sektor swasta Amerika hilang hanya dalam bulan September 2025 saja.
Angka ini menjadi sinyal keras bahwa badai PHK masih jauh dari kata reda.
Berikut daftar perusahaan besar yang telah mengumumkan pemangkasan karyawan sepanjang tahun 2025, sebagaimana dilaporkan oleh AP News, Senin (3/11/2025).
General Motors (GM)
Raksasa otomotif asal Amerika Serikat ini memulai tahun dengan keputusan berat. Sekitar 1.700 pekerja di pabrik Michigan dan Ohio resmi dirumahkan.
Tak berhenti di situ, ratusan karyawan lainnya juga dikabarkan mengalami “PHK sementara”. Kabar terbaru menyebutkan tambahan 200 insinyur di Detroit ikut terdampak, setelah perusahaan menutup Pusat Inovasi TI Georgio, yang membuat total 300 orang kehilangan pekerjaan.
Paramount Global
Perusahaan media dan hiburan besar ini melakukan PHK terhadap 2.000 karyawan atau 10% dari total tenaga kerja.
Sumber internal menyebutkan sekitar 1.000 orang pertama akan diberhentikan pada Rabu, sementara sisanya menyusul beberapa hari kemudian.
Langkah ini merupakan konsekuensi dari merger senilai US$8 miliar dengan Skydance, yang menuntut efisiensi operasional setelah penggabungan dua entitas besar industri hiburan tersebut.
Amazon
Tidak ketinggalan, Amazon juga memangkas lebih dari 14 ribu pekerja atau sekitar 4% dari total karyawan beberapa waktu lalu.
Perusahaan e-commerce raksasa ini sedang mengalihkan fokus pada pengembangan AI, sejalan dengan pernyataan CEO Andy Jassy yang menegaskan bahwa teknologi AI generatif akan mengubah cara kerja internal dan mengurangi kebutuhan tenaga manusia di beberapa posisi korporat.
UPS (United Parcel Service)
Sektor logistik juga tak luput dari badai PHK. UPS mengumumkan rencana merumahkan hingga 48 ribu karyawan tahun ini, meningkat signifikan dari 20 ribu orang yang telah dilepas awal 2025.
Hingga kini, 34 ribu pekerja telah dipecat, dan sisanya akan menyusul, terutama dari posisi manajerial. Langkah ini diambil untuk menyesuaikan dengan perubahan pola pengiriman dan efisiensi biaya operasional di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Target Corporation
Rantai ritel besar asal AS ini mengumumkan pemangkasan 1.800 posisi atau 8% dari total karyawan. Keputusan tersebut diambil demi menyederhanakan struktur organisasi.
“Terlalu banyak lapisan dan pekerjaan yang tumpang tindih membuat pengambilan keputusan lambat,” ujar Chief Operating Officer Michael Fiddelke, menjelaskan alasan di balik restrukturisasi itu.
Nestle
Perusahaan makanan dan minuman global ini tak luput dari tekanan ekonomi. Nestle berencana memecat 16 ribu karyawan di seluruh dunia dalam dua tahun ke depan sebagai bagian dari upaya pemangkasan biaya.
Perusahaan menghadapi tekanan berat akibat kenaikan harga komoditas dan tarif baru dari AS, yang memengaruhi profitabilitas dan rantai pasoknya secara global.
Lufthansa Group
Dari sektor penerbangan, Lufthansa juga mengumumkan rencana jangka panjang untuk mengurangi 4.000 pekerja hingga 2030.
Mayoritas pemangkasan terjadi di bagian administratif dan kantor pusat di Jerman. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari transformasi digital, penerapan AI, serta konsolidasi pekerjaan untuk meningkatkan efisiensi.
Novo Nordisk
Raksasa farmasi asal Denmark ini akan memecat 9.000 pekerja atau sekitar 11% dari total tenaga kerja. PHK ini merupakan bagian dari restrukturisasi bisnis di tengah lonjakan permintaan obat diabetes dan obesitas, yang memaksa perusahaan menyesuaikan operasi produksinya agar tetap kompetitif.
ConocoPhillips
Perusahaan minyak asal AS tersebut mengonfirmasi akan mengurangi 20–25% tenaga kerja globalnya, atau sekitar 2.600 hingga 3.250 orang dari total 13 ribu pekerja.
Juru bicara ConocoPhillips menyebutkan langkah ini sebagai bagian dari strategi pemangkasan biaya di tengah fluktuasi harga energi dunia.
Intel Corporation
Produsen chip ternama ini menargetkan akhir tahun dengan hanya 75 ribu pekerja inti, turun dari 99.500 pada tahun sebelumnya.
Dengan begitu, sekitar 22 ribu orang akan kehilangan pekerjaan. CEO Lip-Bu Tan mengatakan langkah ini sejalan dengan strategi efisiensi dan fokus pada pengembangan teknologi semikonduktor masa depan.
Microsoft
Perusahaan teknologi raksasa lain, Microsoft, juga melakukan PHK terhadap total 15 ribu karyawan. Sekitar 6.000 posisi telah dihapus pada Mei, dan 9.000 sisanya menyusul kemudian.
PHK ini berdampak pada berbagai divisi, termasuk bisnis gim video Xbox, sebagai bagian dari upaya memangkas lapisan manajemen dan mempercepat pengambilan keputusan di tingkat eksekutif.
Procter & Gamble (P&G)
Raksasa produk konsumen global ini mengumumkan pengurangan hingga 7.000 pekerjaan atau 6% dari total tenaga kerja dalam dua tahun ke depan.
Kebijakan ini muncul di tengah tekanan tarif impor baru yang meningkatkan biaya produksi. P&G, produsen Tide dan Pampers, juga menyebut akan menaikkan harga seperempat produknya untuk menyesuaikan beban pajak.
Fenomena PHK massal di berbagai sektor ini menunjukkan bahwa tahun 2025 menjadi periode sulit bagi dunia kerja global.
Pergeseran investasi menuju AI, kebijakan ekonomi protektif AS, dan perubahan perilaku konsumen menjadi kombinasi yang mengubah lanskap tenaga kerja secara drastis.
Bagi jutaan pekerja di seluruh dunia, tahun ini menjadi pengingat pahit bahwa transformasi industri digital tidak selalu berarti kemajuan bagi semua pihak. (xpr)