INBERITA.COM, Paus Leo XIV kembali menegaskan komitmennya untuk terus berbicara menentang perang dan mempromosikan perdamaian global, meskipun mendapat serangan keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam wawancara yang dilakukan dengan Reuters saat penerbangan kepausan menuju Aljazair pada Senin (hari ini), Paus Leo mengungkapkan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk terlibat dalam perselisihan langsung dengan Trump.
Namun, ia menegaskan bahwa pesan-pesan agama, khususnya ajaran Kristen, seharusnya tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik tertentu.
“Saya tidak ingin berdebat dengannya,” kata Paus Leo dengan tegas.
“Namun, saya tidak berpikir bahwa pesan Injil dimaksudkan untuk disalahgunakan seperti yang dilakukan beberapa orang,” ungkap Paus Leo XIV, merujuk pada penafsiran agama yang menurutnya disalahgunakan oleh beberapa pihak.
Pernyataan Paus ini muncul setelah Trump pada hari Minggu (11/4) menyerang kepemimpinan Paus melalui akun media sosial Truth Social-nya.
Dalam unggahannya, Trump menuduh Paus Leo lemah dalam menangani kejahatan dan merugikan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
“Paus Leo LEMAH dalam menangani Kejahatan, dan buruk untuk Kebijakan Luar Negeri,” tulis Trump dengan nada keras.
Selain itu, Trump juga mencap Paus sebagai sosok yang kurang berkompeten dalam mengelola hubungan luar negeri, lebih lanjut menyatakan bahwa pemilihan Paus Leo tidak terlepas dari faktor politik, termasuk pengaruh pemerintahan AS.
“Saya lebih menyukai saudaranya, Louis, karena Louis adalah pendukung sejati MAGA. Dia mengerti, dan Leo tidak,” serang Trump.
Trump juga menyampaikan kritiknya terkait pandangan Paus mengenai isu-isu internasional, seperti program nuklir Iran dan kebijakan militer AS.
Ia berpendapat bahwa pengangkatan Paus Leo sebagai pemimpin Gereja Katolik mungkin dipengaruhi oleh politik, dengan menyatakan bahwa Paus harus lebih berhati-hati dan menghindari keterlibatan dalam politik internasional, terutama dalam masalah yang ia anggap merugikan posisi Gereja Katolik.
Namun, Paus Leo XIV tidak gentar menghadapi kritik tersebut. Dalam wawancara tersebut, Paus menyatakan bahwa ia akan tetap berbicara lantang menentang perang dan mempromosikan dialog serta kerja sama multilateral antar negara.
“Saya akan terus berbicara lantang menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, mempromosikan dialog, dan hubungan multilateral antar negara untuk mencari solusi yang adil bagi masalah,” ungkapnya dengan penuh keyakinan.
Paus Leo juga menyoroti dampak buruk dari perang yang terus menerus menyiksa kemanusiaan.
“Terlalu banyak orang yang menderita di dunia saat ini. Terlalu banyak orang tak bersalah yang terbunuh. Dan saya pikir seseorang harus berdiri dan mengatakan ada cara yang lebih baik,” lanjut Paus, menggarisbawahi pentingnya mencari solusi damai dalam menghadapi konflik internasional.
Komentar kritis terhadap Trump yang menyerang Paus juga datang dari Massimo Faggioli, seorang Profesor teologi dan studi agama di Universitas Villanova.
Faggioli mengatakan bahwa serangan langsung terhadap Paus ini adalah hal yang sangat jarang terjadi, bahkan dikatakan lebih ekstrem daripada yang pernah dilakukan oleh pemimpin diktator seperti Hitler atau Mussolini.
“Bahkan Hitler atau Mussolini pun tidak menyerang paus secara langsung dan terbuka seperti itu,” ujarnya.
Sementara itu, Paus Leo XIV mendarat di Aljazair pada hari Senin, memulai tur 10 hari yang akan membawa beliau ke empat negara Afrika. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama Paus ke Aljazair, yang mayoritas penduduknya beragama Muslim.
Paus diperkirakan akan memberikan penghormatan kepada para korban perang kemerdekaan Aljazair dari Prancis antara tahun 1954 dan 1962.
Kunjungan ini juga dipandang sebagai simbol dialog antar agama dan perdamaian di kawasan yang kerap dilanda ketegangan.
Kunjungan ini menandai langkah penting Paus Leo XIV dalam memperkenalkan pesan-pesan perdamaian di negara-negara Afrika, sekaligus mengukuhkan posisi Gereja Katolik sebagai penjaga perdamaian global, yang terus berupaya mengurangi ketegangan antar negara dan agama di dunia.