INBERITA.COM, Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo, tak kuasa menahan haru saat menghadiri rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Dengan suara serak, Darmawan menceritakan tantangan luar biasa yang dihadapi PLN dalam proses pemulihan jaringan listrik pascabencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Dalam kesempatan itu, Darmawan menekankan kerusakan infrastruktur listrik di Aceh sangat dahsyat, melebihi perkiraan sebelumnya.
“Dampaknya dalam hal ini, baik itu ke pembangkit kami, baik itu ke tower-tower kami, baik itu ke gardu induk kami, baik itu ke tiang listrik yang di pinggir jalan, baik itu ke instalasi di rumah. Sehingga ini dampaknya sangat masif,” ungkapnya di hadapan anggota DPR.
Kerusakan masif ini membuat PLN harus menyiapkan strategi khusus untuk pemulihan jaringan listrik di Aceh. Sementara itu, pemulihan listrik di Sumatera Utara dan Sumatera Barat relatif lebih cepat.
Hingga Desember 2025, jaringan listrik Sumut sudah pulih 99,97 persen, menyisakan dua desa yang masih terputus. Sedangkan Sumbar tercatat telah pulih sepenuhnya sejak 23 Desember 2025.
Darmawan menjelaskan, kerusakan di Aceh termasuk kategori skala besar yang belum pernah dialami PLN sebelumnya.
“Kerusakannya betul-betul kerusakan dalam ukuran skala yang belum pernah kami hadapi sebelumnya. Pertama adalah adanya tower-tower transmisi kami yang roboh antara Bireun – Arun,” jelasnya.
Selain itu, terdapat 24 tower lain yang terdampak dan membutuhkan penanganan segera.
PLN pun menggunakan berbagai cara inovatif, termasuk mengerahkan pesawat TNI AU untuk mengangkut peralatan dan material guna mempercepat pemulihan jaringan.
Kepada DPR, Darmawan juga mengakui bahwa pengalaman ini menjadi pelajaran besar bagi PLN.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menyatakan, “Dan pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan Alam.
Tim kami memberikan yang terbaik di luar batas kemampuan kemanusiaan. Dan kami mengakui bahwa ini adalah perubahan besar bagaimana kami menyikapi keandalan dari sistem kelistrikan.”
Dalam jangka pendek, PLN telah melakukan sejumlah langkah strategis untuk memulihkan kelistrikan di Sumatera, termasuk pembangunan tower emergency.
“Tadinya satu jalur, kami bangun menjadi tower emergency dua jalur. Ke depan perlu tower permanen sehingga ada tiga jalur,” ujar Darmawan.
Bencana ini juga mengubah standar keamanan sistem kelistrikan di Indonesia. Darmawan mencontohkan, sebelumnya gardu induk PLN dianggap aman dari banjir.
Namun kali ini, gardu induk terendam lumpur setinggi satu meter, dengan volume mencapai 150 ton.
Evakuasi di area 10×10 meter tersebut memerlukan peralatan khusus yang sebelumnya tidak dimiliki PLN, sehingga harus melibatkan pasukan PLN, masyarakat, TNI, dan Polri.
Selain itu, bencana ini menyoroti pentingnya kesiapan infrastruktur listrik menghadapi skenario ekstrem.
Transmisi backbone Sumatera yang terputus membuat sistem kelistrikan di Aceh nyaris lumpuh total.
Darmawan menegaskan, PLN tidak pernah membayangkan ribuan gardu distribusi terendam lumpur dan ribuan tiang listrik tegangan rendah ambruk.
Bahkan, setelah listrik dinyalakan kembali, tidak semua rumah pelanggan bisa langsung menerima aliran listrik.
Mengantisipasi hal serupa di masa depan, PLN akan menyusun contingency master plan baru yang lebih komprehensif dan membangun dashboard digital untuk memantau kesiapan jaringan listrik menghadapi bencana.
Strategi ini diharapkan meningkatkan ketahanan infrastruktur listrik nasional dan meminimalkan dampak bencana bagi masyarakat.
Pemulihan jaringan listrik Aceh pun menjadi prioritas utama PLN, mengingat dampak bencana terhadap masyarakat dan perekonomian lokal sangat besar.
Hingga saat ini, PLN telah mengerahkan lebih dari 1.600 personel untuk memperbaiki jaringan listrik di 18 kabupaten dan kota terdampak bencana.
Petugas PLN bekerja tanpa kenal lelah di daerah pedalaman, memperbaiki tiang roboh, gardu rusak, dan memastikan pasokan listrik kembali normal secepat mungkin.
Darmawan menutup penjelasannya dengan peringatan dan refleksi, “Kami tidak pernah terpikirkan bagaimana setelah listrik menyala pun kami tidak bisa menyalakan rumah pelanggan kami. Ini menjadi momentum bagi PLN untuk memperkuat ketahanan jaringan, memperbarui standar keamanan, dan meningkatkan kesiapan menghadapi bencana alam di seluruh Indonesia.”
Dengan pengalaman ini, PLN menegaskan komitmennya untuk memastikan sistem kelistrikan nasional lebih tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan ekstrem di masa depan, sekaligus menjaga keandalan listrik yang menjadi tulang punggung kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia.