Dampak Shutdown Pemerintah Amerika Serikat Mulai Terlihat: Klaim Tunjangan Pengangguran AS Meningkat

INBERITA.COM, Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan permohonan baru untuk tunjangan pengangguran diperkirakan mengalami kenaikan pada pekan yang berakhir 18 Oktober 2025.

Hal ini menandakan adanya dampak dari penutupan pemerintahan (government shutdown) federal yang mulai mempengaruhi pasar tenaga kerja AS.

Berdasarkan data yang dirilis, klaim awal tunjangan pengangguran yang disesuaikan secara musiman tercatat meningkat menjadi 232.000, naik dibandingkan dengan angka 220.000 pada pekan sebelumnya.

Beberapa lembaga keuangan ternama, seperti Goldman Sachs, memperkirakan klaim akan mencapai angka 227.000, sementara JPMorgan memperkirakan angka klaim akan mencapai 229.000.

Selain itu, data terkait jumlah orang yang terus menerima tunjangan pengangguran setelah minggu pertama atau yang dikenal dengan “continuing claims” juga menunjukkan tren peningkatan.

Pada minggu yang berakhir 11 Oktober, jumlah penerima tunjangan pengangguran terus bertambah menjadi 1,942 juta, dibandingkan dengan 1,928 juta pada minggu sebelumnya.

Peningkatan ini mengindikasikan bahwa banyak penganggur yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru, meskipun mereka terus menerima bantuan tunjangan dari pemerintah.

Fenomena lain yang menarik perhatian adalah lonjakan aplikasi tunjangan pengangguran yang diajukan oleh pegawai federal dalam beberapa minggu terakhir.

Hal ini kemungkinan berkaitan dengan lebih dari 150.000 pekerja yang dikeluarkan dari daftar gaji pada akhir September setelah menerima paket pensiun dini.

Menurut peraturan yang berlaku, karyawan federal yang dirumahkan tanpa gaji karena penutupan pemerintahan dapat mengajukan tunjangan pengangguran, namun mereka harus menghentikan klaim tersebut ketika mereka mulai menerima gaji kembali.

Gisela Young, ekonom di Citigroup, mengungkapkan bahwa tingginya angka klaim lanjutan ini mencerminkan masih lemah dan terbatasnya peluang perekrutan.

Di tengah kondisi tersebut, musim liburan yang biasanya diikuti dengan peningkatan perekrutan tenaga kerja juga diperkirakan tidak akan dapat mengurangi ketegangan di pasar tenaga kerja.

“Ini kemungkinan mencerminkan lingkungan perekrutan yang rendah, karena perekrutan musiman biasanya akan meningkat pada bulan Oktober untuk musim liburan,” kata Young dalam wawancara dengan Reuters pada Jumat (24/10/2025).

Ia juga menambahkan, “Beberapa indikasi menunjukkan perekrutan liburan mungkin lebih rendah dari biasanya tahun ini.”

Namun, meskipun terjadi lonjakan klaim, beberapa ekonom lainnya meyakini bahwa pasar tenaga kerja secara keseluruhan masih menunjukkan kestabilan, dengan tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tetap rendah.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada indikasi penurunan ekonomi yang signifikan dalam waktu dekat. Oren Klachkin, ekonom pasar keuangan di Nationwide, menyatakan bahwa data klaim pengangguran terbaru menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap stabil dan PHK tetap berada pada tingkat yang rendah.

“Secara keseluruhan, klaim awal tetap terkendali dan tidak mengindikasikan penurunan ekonomi yang akan segera terjadi,” jelas Klachkin.

Data terkait klaim pengangguran memang menjadi salah satu indikator penting untuk menilai kondisi pasar tenaga kerja di suatu negara.

Lonjakan klaim pengangguran, meskipun di satu sisi mencerminkan kesulitan yang dihadapi oleh beberapa lapisan pekerja, belum tentu menjadi pertanda buruk untuk ekonomi secara keseluruhan.

Seperti yang diungkapkan oleh para ekonom, meskipun ada peningkatan dalam klaim, tingkat PHK yang rendah menunjukkan bahwa banyak perusahaan masih mempertahankan tenaga kerja mereka.

Sementara itu, pengaruh dari penutupan pemerintahan federal yang terjadi pada akhir September 2025 turut memberikan dampak pada statistik tunjangan pengangguran, khususnya di kalangan pekerja federal yang terpaksa dirumahkan.

Kendati demikian, ketidakpastian yang dihadapi oleh pekerja federal dan sektor lainnya akibat shutdown pemerintah menunjukkan betapa rentannya pasar tenaga kerja terhadap dinamika kebijakan politik dan ekonomi.

Hal ini juga menambah tantangan dalam merencanakan kebijakan perekrutan dan penyerapan tenaga kerja, khususnya menjelang musim liburan yang biasanya memerlukan tenaga kerja musiman yang lebih banyak.

Ke depannya, data-data terkait tunjangan pengangguran akan terus menjadi perhatian utama, baik oleh pihak pemerintah, ekonom, maupun pelaku pasar.

Pasalnya, perubahan dalam tingkat klaim pengangguran dapat memberikan sinyal awal tentang kekuatan atau kelemahan yang ada dalam pasar tenaga kerja, serta dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan.

Meskipun klaim pengangguran diperkirakan akan terus naik dalam beberapa pekan mendatang, kestabilan yang terjaga dalam jumlah PHK dapat memberikan harapan bahwa pemulihan pasar tenaga kerja akan tetap berlangsung meskipun ada tantangan besar yang dihadapi oleh banyak sektor. (xpr)